← Kembali
Magenta-Harapan-418· 20h lalusedih

kak, gimana kabarmu sekarang?

let me tell you about my family. keluargaku terdiri dari ayah, ibu, kakak dan aku. ayah merupakan orang yang keras sekali. beberapa kali ayah bersitegang dengan kakak, menyebabkan kakak tidak pulang untuk beberapa waktu. Berbeda dengan ayah, ibu dan aku kerapkali bertengkar dan berbeda pendapat tentang suatu hal. Ayah selalu luluh padaku, ibu pada kakak. Umurku dan kakak terpaut jauh, jadi kami memang tidak terlalu dekat. Meskipun begitu, setiap aku memiliki sesuatu yang ingin aku sembunyikan dari ayah maupun ibu, dan memerlukan wali, aku selalu meminta bantuan kakak. Mulai dari pengambilan raport, persyaratan beasiswa, kecelakaan, sampai saat aku memerlukan pekerjaan. kakak selalu memenuhi kebutuhanku. kami tidak banyak mengobrol, tapi kasih sayangnya selalu sampai. tapi aku terlalu abai saat itu. Hingga suatu ketika, kakak sakit. sudah berbulan-bulan sakit tapi tak ada satupun yang tau penyebabnya. ayah cemas. kakak akhirnya dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar di kotaku. sebelumnya, aku tak sempat menjenguk kakak karena pekerjaanku. sampai kakak ke rumah sakit, entah kenapa keinginanku untuk datang ke rumah sakit semakin besar. Kakak terlihat kurus sekali. ayah duduk disamping kakak sambil terus mengucap doa. sedangkan ibu terpaksa harus tetap berjualan. aku menemani ayah. kakak tampak lemah, dan anehnya, tidak berhenti cegukan. dalam pikiranku saat itu, "apa mungkin ya, kakak sudah mau pergi?". Tapi aku buru-buru menepis pikiran itu. "pasti akan sembuh" gumamku. Ketika malam, kami bergantian berjaga. aku pulang ke rumah. Di pagi hari, berita duka itu datang. Firasatku benar. Masih tak percaya, aku mencoba memastikannya dengan mataku sendiri. Seolah semua ini hanyalah mimpi buruk, dan aku tak sanggup membuka mataku. Ayah menangis, meraung, menyesali banyak hal. ibu sama sekali tidak bergeming, tetap mengurus semuanya dengan tenang. Hari-hari berlalu dengan berat sekali. seolah semua hanya mimpi, aku masih saja menatap kosong langit-langit kamarku. Beberapa perubahan mulai terjadi. ayah mulai menyadari kalau sikap kerasnya itu tidak selalu menghasilkan hal baik. Ibu, yang biasanya selalu mempermasalahkan keuangan, sekarang lebih banyak diam. Mungkin di malam-malamnya, mereka menyesali banyak hal. entahlah. Aku, tentu saja masih sering menangis. Bahkan sudah setahun sejak kepergian kakak, aku masih tak bisa mengunjunginya. seolah menolak kenyataan kalau kakak sudah tiada. Setelah kepergiannya, aku baru mengetahui banyak hal. kakak yang terlihat acuh tak acuh, diam diam selalu membanggakanku didepan temannya. Di hari-harinya, kakak selalu berupaya menjelaskan sudut pandangku pada ayah dan ibu. Mendengar itu, tentu saja membuatku semakin sedih. banyak obrolan yang tidak dapat kita bagi. di beberapa malam, saat aku merasa tidak banyak yang aku dapat lakukan. aku berfikir "bagaimana ya jadinya kalau bukan kakak yang tiada, tapi aku? pasti ayah dan ibu akan lebih bahagia kan?" semua merasakan duka. semua menanganinya dengan cara yang mereka ketahui. aku tentu sangat mengetahui, yang perlu kulakukan adalah ikhlas dan mendoakannya. tapi nampaknya aku belum bisa merelakannya.

0 balasan

Balasan

Belum ada balasan. Mau bales duluan?

0/2000