C 8/9/26
Hai, udah 3 bulan ternyata ngerasain perasaan aneh ini. Bingung, sedih, marah, kecewa, semuanya jadi satu. Tapi yang pasti, aku terus berusaha jadi orang baik yang ga mau menghakimi keadaan ini. Kamu pergi setelah semuanya. setelah semua yang terjadi, setelah semua yang kamu lakuin, kamu ninggalin aku sendiri di sini. Meski seminggu lalu kamu masih welcome sama aku, tapi aku marah banget karena kamu bersikap kayak its nothing happens before. Kamu udah lupain aku ya? Sedangkan di sini aku terus kepikiran dan sakit hati. Setiap detiknya bayangan itu terus ada di kepala aku. Aku rasa aku ga bisa lupain itu. Demi tuhan aku ga ikhlas. Demi tuhan aku ga rela kalau kamu bisa bahagia sama orang baru, sedangkan aku di sini terus merasa sesak untuk semua yang ditinggalkan. Aku salah karena terlalu percaya, meskipun di POV kamu, kamu merasa kalau aku ga pernah percaya sama kamu, kamu bilang kamu selalu salah di mata kamu. Kalau aku ga percaya sama kamu, aku udah pergi dari lama. Tapi aku milih bertahan, kan? sampai sejauh ini, sampai aku kehilangan diri aku sendiri. Meski pada akhirnya, aku yang kamu tinggalin dut. Aku berusaha sembuh, aku berusaha tegar, seperti yang kamu bilang "kamu cuma belum terbiasa aja. Semangat ya. Kamu bisa." satu kata, nirempati. Dulu kamu meyakinkan aku dengan sekuat tenaga selama 6 bulan, tapi apa? sia-sia. Kamu yang mulai dan malah kamu yang mengakhirinya juga. Aku bingung mau kamu apa. Kenapa lebih milih menyerah daripada berjuang bersama? Aku minta maaf atas semua kurangnya aku. Aku yang suka meledak, atau mungkin aku yang ga sesuai dengan kemauan kamu, atau mungkin hubungan kemarin sudah ada di titik bosan. Tapi percayalah, aku marah karena kelakuan kamu. Rasanya ga masuk akal kalau justru malah kamu yang ga terima dengan reaksiku. Aku coba ngobrol sama kamu tentang semua ini, tapi kamu cuma bereaksi dengan poin yang bilang kamu lagi dekat sama orang baru. Kamu marah dan membela diri. Sampai aku harus kehilangan sahabat aku sekaligus informan. Kenapa? Kamu ga mau aku salah paham dan terus berharap sama kamu? atau justru kamu ga mau keliatan jadi orang gila wanita? Meski begitu, aku ga pernah benci kamu. Terima kasih ya udah nyempetin antar aku pulang di tengah malam. Aku sayang kamu. Tapi aku ga suka sama cara kamu memperlakukan pasangan. Lekas bertumbuh jadi orang baik ya, sebagai pasangan. Semoga di masa selanjutnya, aku bisa lebih dihargai sebagai apapun aku.