← Semua artikel

Aku Baik-Baik Saja di Mata Semua Orang, Tapi Kosong Setiap Kali Sendirian

10 Oktober 2026·Toro

Dari Luar, Hidupku Terlihat Baik-Baik Saja

Aku bangun tepat waktu.

Aku menyelesaikan pekerjaanku.

Aku membalas pesan, tertawa di obrolan grup, datang ke acara ketika diundang.

Kalau ada yang bertanya bagaimana kabarku, aku akan menjawab, “Baik, sibuk aja.”

Dan itu bukan kebohongan besar.

Semuanya memang berjalan.

Tapi ada sesuatu yang tidak kukatakan.

Bahwa di dalam, rasanya seperti tidak ada apa-apa.


Aku Bukan Sedih, Aku Hanya Tidak Merasakan Apa-Apa

Orang sering membayangkan kesulitan mental itu seperti menangis di kamar mandi atau tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Aku bisa bangun.

Aku bisa bekerja.

Tapi ketika semua orang pulang dan ruangan menjadi sunyi, aku duduk dan menyadari aku tidak benar-benar merasakan apa pun.

Bukan sedih.

Bukan juga bahagia.

Hanya datar.

Seperti menonton hidupku sendiri dari kejauhan, tanpa benar-benar berada di dalamnya.

Aku pikir dulu ini normal.

Ternyata tidak semua orang merasa seperti ini.


Aku Menyebutnya “Baik-Baik Saja” Karena Tidak Tahu Cara Menjelaskan yang Sebenarnya

Ada kata untuk rasa hampa seperti ini, meski jarang kupakai.

Psikiater Viktor Frankl, yang bertahan dari masa paling gelap dalam hidupnya dan kemudian menulis tentang pencarian makna, menyebut kekosongan semacam ini sebagai kehampaan eksistensial — kondisi di mana seseorang merasa hidupnya berjalan tanpa arah atau makna yang terasa nyata, meskipun secara fisik semuanya berfungsi.

Aku membaca itu dan merasa ada yang akhirnya mengerti.

Karena selama ini aku selalu mengira, kalau aku masih bisa bangun dan bekerja, berarti aku baik-baik saja.

Ternyata “berfungsi” dan “baik-baik saja” bukan hal yang sama.


Orang-Orang di Sekitarku Mulai Menyadari Ada yang Berbeda, Meski Aku Tidak Bilang Apa-Apa

Seorang teman pernah berkata, “Kamu akhir-akhir ini kayak… nggak ada di sini, meskipun lagi di sini.”

Aku tertawa saat itu, mengalihkan pembicaraan.

Tapi kalimat itu terus terngiang.

Karena dia benar.

Aku hadir secara fisik, tapi tidak benar-benar hadir.

Aku menjawab pertanyaan, tapi jawabanku otomatis, seperti sudah dihafal sebelumnya.

Aku tertawa pada waktu yang tepat, tapi tawa itu tidak benar-benar sampai ke dalam.

Orang-orang di sekitarku mulai merasakannya, meskipun mereka tidak tahu cara menjelaskannya, sama seperti aku.


Tubuhku Menyimpan Apa yang Tidak Bisa Dikatakan Pikiranku

Psikiater Bessel van der Kolk, yang menulis banyak tentang bagaimana pengalaman berat tersimpan bukan hanya di ingatan, tapi juga di dalam tubuh, menjelaskan bahwa mati rasa seperti ini sering kali adalah cara tubuh melindungi diri dari sesuatu yang terasa terlalu besar untuk dirasakan sepenuhnya.

Ia menulis bahwa tubuh terus menyimpan catatan itu, bahkan ketika pikiran sudah berhenti membicarakannya.

Aku mulai memperhatikan tubuhku sendiri.

Bahuku yang selalu tegang meski tidak sedang melakukan apa-apa.

Rahangku yang mengatup rapat tanpa kusadari.

Napasku yang pendek dan dangkal.

Mungkin selama ini tubuhku sudah berusaha memberi tahu apa yang tidak bisa dikatakan pikiranku.

Aku hanya belum belajar cara mendengarkannya.


Aku Bertanya pada Diriku Sendiri, Kapan Terakhir Kali Aku Benar-Benar Merasakan Sesuatu

Aku duduk diam suatu malam dan mencoba mengingat.

Kapan terakhir kali aku menangis sampai lega, bukan menahannya.

Kapan terakhir kali aku tertawa sampai perutku sakit, bukan sekadar tersenyum sopan.

Kapan terakhir kali aku benar-benar marah, bukan hanya diam dan mengalah.

Aku tidak bisa mengingatnya dengan pasti.

Semuanya terasa jauh, seperti melihat foto lama yang warnanya sudah pudar.

Menyadari itu justru menjadi titik awal.

Karena untuk pertama kalinya, aku tidak hanya merasa kosong.

Aku merasa sedih karena menyadari betapa lamanya aku kosong.

Dan anehnya, kesedihan itu terasa seperti kabar baik.

Karena itu berarti aku masih bisa merasakan sesuatu, meski pelan-pelan.


Mungkin Aku Sudah Terlalu Lama Mematikan Perasaanku Sendiri

Aku mulai bertanya-tanya, sejak kapan aku menjadi seperti ini.

Psikolog trauma Peter Levine, yang banyak meneliti bagaimana tubuh merespons pengalaman berat, menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami tekanan yang terlalu besar untuk dihadapi, tubuh dan pikiran kadang memilih untuk mematikan perasaan, bukan menghadapinya.

Ia menyebutnya respons freeze — bukan lari, bukan melawan, tapi membeku.

Bertahan dengan cara tidak merasakan apa-apa sama sekali.

Aku mulai memahami, mungkin dulu aku pernah melalui sesuatu yang terlalu berat untuk kuproses saat itu.

Dan cara aku bertahan adalah dengan berhenti merasakan.

Masalahnya, kebiasaan itu tidak pernah benar-benar dimatikan setelah bahaya berlalu.

Ia menetap.

Menjadi caraku menjalani hari-hari biasa, bahkan ketika tidak ada lagi yang perlu dihadapi.


Aku Lelah Berpura-Pura Baik di Depan Orang yang Tidak Tahu Aku Sedang Kosong

Yang paling melelahkan bukan rasa hampa itu sendiri.

Tapi harus terus tersenyum, menjawab pertanyaan orang, ikut tertawa, seolah semuanya baik-baik saja.

Aku takut jika aku jujur, orang akan bingung.

Bagaimana caranya sedih tanpa alasan yang jelas?

Bagaimana caranya menjelaskan bahwa hidupku sebenarnya berjalan lancar, tapi aku tetap merasa kosong?

Jadi aku memilih diam.

Aku menjadi ahli dalam terlihat baik-baik saja.

Tapi menjadi ahli dalam berpura-pura ternyata juga melelahkan dengan caranya sendiri.


Aku Mulai Mencoba Merasakan Lagi, Sedikit demi Sedikit

Aku tidak tahu bagaimana caranya “merasa” lagi setelah sekian lama mematikannya.

Jadi aku mulai dari hal kecil.

Aku mencoba benar-benar memperhatikan rasa kopi yang kuminum, bukan sekadar meminumnya sambil memikirkan hal lain.

Aku mencoba duduk diam beberapa menit tanpa layar, dan membiarkan diriku merasakan apa pun yang muncul, bahkan jika itu tidak nyaman.

Kadang yang muncul adalah kesedihan yang selama ini tertunda.

Kadang hanya kelelahan.

Tapi setidaknya, itu adalah sesuatu.

Bukan lagi kekosongan yang datar.


Penutup

Aku masih dalam proses belajar merasakan kembali.

Belum sepenuhnya berhasil.

Ada hari-hari ketika kekosongan itu kembali, dan aku kembali menjadi orang yang terlihat baik-baik saja dari luar.

Berfungsi bukan berarti baik-baik saja.

Kosong juga sebuah perasaan, bukan ketiadaan perasaan.

Aku sedang belajar untuk tidak lagi buru-buru menjawab, “Baik, sibuk aja,” setiap kali ada yang bertanya kabarku.

Karena mungkin, langkah pertama untuk merasa lebih baik adalah berhenti berpura-pura sudah baik.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya