Ketika Saya Terus Mempertahankan Hubungan yang Bahkan Tidak Pernah Diperjuangkan Bersama
Saya pernah percaya bahwa jika saya mencintai seseorang dengan cukup tulus, suatu hari nanti ia akan membalas cinta itu dengan cara yang sama.
Karena itulah saya selalu berusaha.
Saya yang lebih dulu menghubungi.
Saya yang meminta maaf, meski tidak selalu salah.
Saya yang mencari jalan keluar setiap kali kami bertengkar.
Saya yang terus meyakinkan diri bahwa semua ini hanya fase.
Bahwa suatu hari nanti, semuanya akan berubah.
Saya berkata kepada diri sendiri,
“Dia sedang sibuk.”
“Dia memang tidak pandai menunjukkan perasaannya.”
“Kalau aku sedikit lebih sabar, mungkin hubungan ini akan membaik.”
Hari demi hari berlalu.
Yang berubah hanya satu.
Saya semakin lelah.
Saya mulai menyadari bahwa hubungan ini seperti mendorong sebuah mobil sendirian.
Saya terus mengeluarkan tenaga.
Sementara orang yang saya harapkan membantu, hanya duduk di dalamnya.
Dan yang paling menyakitkan…
Saya tetap menyalahkan diri sendiri ketika mobil itu tidak pernah bergerak.
Mengapa Saya Terus Bertahan?
Ada satu pertanyaan yang lama sekali tidak berani saya jawab.
“Kalau hubungan ini membuatku lelah, mengapa aku masih bertahan?”
Jawabannya ternyata bukan karena cinta semata.
Saya takut kehilangan.
Saya takut memulai lagi dari awal.
Saya takut tidak ada lagi yang akan memilih saya.
Ketakutan itu membuat saya terus memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya sudah lama tidak diperjuangkan bersama.
Ketika Kita Mengira Berjuang Adalah Bukti Cinta
Dalam teori attachment style, psikolog John Bowlby menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil membentuk cara kita mencari rasa aman dalam hubungan.
Penelitian Mary Ainsworth kemudian menunjukkan bahwa sebagian orang tumbuh dengan anxious attachment atau pola kelekatan cemas.
Orang dengan pola ini sering kali sangat takut ditinggalkan.
Akibatnya, mereka rela melakukan apa saja agar hubungan tetap bertahan.
Mereka menganggap semakin besar perjuangan, semakin besar pula cintanya.
Saya membaca penjelasan itu sambil terdiam.
Rasanya seperti sedang membaca kisah hidup saya sendiri.
Saya bukan bertahan karena hubungan itu sehat.
Saya bertahan karena saya takut sendirian.
Saya Selalu Mengira Masalahnya Ada pada Diri Saya
Ketika pesan saya mulai dibalas dengan singkat, saya berpikir saya kurang menarik.
Ketika ia mulai menjaga jarak, saya merasa saya kurang baik.
Ketika ia berhenti berusaha, saya justru bekerja lebih keras.
Saya terus mencari kesalahan dalam diri sendiri.
Padahal hubungan tidak pernah dibangun oleh satu orang.
Psikolog Carl Rogers percaya bahwa setiap manusia memiliki nilai yang tidak bergantung pada penerimaan orang lain.
Namun ketika harga diri kita bergantung pada apakah seseorang memilih kita atau tidak, kita akan terus merasa harus membuktikan bahwa kita pantas dicintai.
Dan itulah yang saya lakukan selama bertahun-tahun.
Saya berusaha menjadi lebih sabar.
Lebih pengertian.
Lebih mengalah.
Sampai akhirnya saya lupa menjadi diri sendiri.
Cinta Tidak Seharusnya Membuat Satu Orang Terus Berlari
Psikiater dan peneliti trauma Bessel van der Kolk menjelaskan bahwa pengalaman emosional yang belum selesai dapat memengaruhi cara kita membangun hubungan.
Kadang kita terbiasa mengejar perhatian karena sejak kecil rasa aman terasa tidak konsisten.
Akibatnya, hubungan yang penuh ketidakpastian justru terasa akrab.
Bukan karena hubungan itu sehat.
Tetapi karena pola itu sudah lama kita kenal.
Dokter dan penulis Gabor Maté juga menjelaskan bahwa banyak orang bertahan dalam hubungan yang menyakitkan bukan karena mereka lemah, melainkan karena luka lama membuat mereka sulit membedakan antara cinta dan kebutuhan untuk diterima.
Saat membaca pemikiran mereka, saya mulai memahami bahwa saya tidak sedang mengejar cinta.
Saya sedang mengejar rasa aman yang belum pernah benar-benar saya rasakan.
Berjuang Itu Penting, Tetapi Tidak Bisa Dilakukan Sendirian
Saya pernah berpikir bahwa hubungan yang baik adalah hubungan yang diperjuangkan sampai titik terakhir.
Sekarang saya masih percaya bahwa cinta memang membutuhkan perjuangan.
Tetapi saya juga belajar satu hal.
Perjuangan hanya bermakna ketika dilakukan oleh dua orang.
Jika hanya satu orang yang terus memperbaiki.
Terus meminta maaf.
Terus menghubungi.
Terus mengalah.
Maka itu bukan kerja sama.
Itu adalah kelelahan yang diberi nama cinta.
Saya Akhirnya Berhenti Bertanya
Dulu saya selalu bertanya,
“Apa lagi yang harus saya lakukan supaya dia memilih saya?”
Sekarang pertanyaan itu berubah menjadi,
“Mengapa saya terus bertahan pada seseorang yang tidak pernah benar-benar memilih saya?”
Pertanyaan kedua terasa jauh lebih menyakitkan.
Namun justru dari situlah proses sembuh saya dimulai.
Saya belajar bahwa saya tidak harus terus membuktikan nilai diri kepada orang yang tidak pernah melihatnya.
Penutup
Hari ini saya masih percaya pada cinta.
Tetapi saya tidak lagi percaya bahwa cinta harus selalu membuat kita kelelahan.
Saya tidak ingin lagi menjadi satu-satunya orang yang menjaga hubungan tetap hidup.
Karena hubungan yang sehat tidak membuat satu orang memikul seluruh beban.
Hubungan yang sehat membuat dua orang saling berjalan, saling mendengar, dan saling berusaha.
Dan jika suatu hari nanti saya kembali mencintai seseorang…
Saya berharap saya tidak hanya bertanya,
“Apakah saya sudah cukup berjuang?”
Tetapi juga berani bertanya,
“Apakah kami sama-sama sedang berjuang?”
Karena pada akhirnya…
Hubungan tidak pernah gagal karena satu orang berhenti berjuang.
Hubungan gagal ketika hanya ada satu orang yang terus berjuang, sementara yang lain hanya menikmati perjuangannya.
Dan mungkin, bentuk mencintai diri sendiri yang paling berani adalah berhenti mengejar hubungan yang hanya berjalan karena kita terus mendorongnya sendirian.

