Mungkin Aku Tidak Pernah Benar-Benar Kekurangan, Aku Hanya Terlalu Lama Membandingkan Diriku dengan Standar yang Tidak Pernah Selesai
Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu mulai tinggal di dalam diriku.
Perasaan bahwa apa pun yang kulakukan selalu kurang.
Ketika berhasil, aku berpikir seharusnya aku bisa melakukan lebih.
Ketika dipuji, aku justru merasa mereka belum benar-benar mengenalku.
Ketika seseorang mencintaiku, aku masih bertanya-tanya apakah suatu hari nanti ia akan menemukan seseorang yang lebih baik.
Aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang dari diriku.
Kurang pintar.
Kurang menarik.
Kurang sukses.
Kurang sabar.
Kurang baik.
Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengatakan aku kurang, suara itu tetap ada di kepalaku.
“Kamu seharusnya bisa lebih.”
“Lihat orang lain, mereka sudah sejauh itu.”
“Kenapa kamu masih di sini?”
Aku terbiasa mendengar suara itu sampai akhirnya menganggapnya sebagai kebenaran.
Sampai suatu hari aku bertanya kepada diriku sendiri:
“Sebenarnya, siapa yang mengatakan bahwa aku tidak cukup?”
Aku terdiam.
Karena ternyata…
Mungkin selama ini bukan orang lain yang paling keras menilaiku.
Melainkan diriku sendiri.
Aku Selalu Membandingkan Diriku dengan Orang Lain
Aku melihat seseorang mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Aku merasa tertinggal.
Melihat seseorang menikah.
Aku merasa hidupku terlambat.
Melihat seseorang memiliki hubungan yang bahagia.
Aku bertanya mengapa aku tidak bisa mendapatkannya.
Melihat seseorang berhasil setelah berkali-kali mencoba.
Aku justru bertanya mengapa aku belum berhasil.
Aku lupa bahwa aku hanya melihat hasil dari perjalanan mereka.
Aku tidak melihat malam ketika mereka menangis.
Tidak melihat kegagalan yang mereka sembunyikan.
Tidak melihat rasa takut yang mungkin mereka rasakan.
Aku hanya membandingkan bagian paling sulit dari hidupku dengan bagian terbaik dari hidup orang lain.
Dan tentu saja…
Aku selalu merasa kalah.
Mungkin Perasaan “Tidak Cukup” Sudah Tumbuh Sejak Lama
Ketika aku mulai mengenal teori attachment style, aku menemukan pemikiran dari psikolog John Bowlby dan penelitian Mary Ainsworth tentang bagaimana pengalaman awal dalam hubungan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan hubungan ketika dewasa.
Aku mulai memahami bahwa pengalaman masa kecil bisa meninggalkan keyakinan tertentu tentang diri sendiri.
Jika sejak kecil seseorang sering merasa harus berprestasi agar dipuji, harus menurut agar diterima, atau merasa dibandingkan dengan orang lain, ia bisa tumbuh dengan keyakinan:
“Aku harus menjadi lebih baik agar layak dicintai.”
Aku mulai bertanya…
Apakah selama ini aku berusaha menjadi sempurna bukan karena ingin berkembang?
Atau karena aku takut jika aku tidak cukup baik, seseorang akan meninggalkanku?
Mungkin itu sebabnya aku begitu sulit menerima kesalahan.
Karena setiap kesalahan terasa seperti bukti bahwa aku memang tidak cukup.
Aku Takut Tidak Dipilih
Ada satu ketakutan yang jarang kuakui.
Aku takut tidak dipilih.
Takut kalah dari seseorang yang lebih baik.
Takut seseorang menemukan orang lain yang lebih menarik.
Takut ditinggalkan ketika aku tidak lagi bisa memberikan sesuatu.
Dan ketakutan itu kadang membuatku berusaha terlalu keras.
Aku menjadi terlalu memahami.
Terlalu banyak mengalah.
Terlalu sering meminta maaf.
Terlalu sibuk menjadi apa yang orang lain inginkan.
Karena jauh di dalam diriku ada sebuah keyakinan:
“Kalau aku menjadi cukup baik, mungkin mereka akan tetap tinggal.”
Padahal cinta yang sehat seharusnya tidak membuatku terus mengikuti ujian untuk membuktikan bahwa aku layak dicintai.
Aku Mulai Memahami Bahwa Nilai Diriku Bukan Sebuah Perlombaan
Psikolog humanistik Carl Rogers banyak membahas tentang penerimaan diri dan pentingnya menjadi pribadi yang selaras dengan diri sendiri.
Aku mulai belajar bahwa aku tidak harus menjadi versi terbaik menurut standar semua orang.
Aku boleh menjadi manusia yang masih belajar.
Aku boleh gagal.
Aku boleh berubah pikiran.
Aku boleh belum tahu ingin menjadi apa.
Aku boleh berjalan lebih lambat.
Karena hidup bukan perlombaan yang memiliki satu garis finis untuk semua orang.
Aku tidak terlambat hanya karena seseorang sudah sampai lebih dulu.
Aku tidak gagal hanya karena perjalanan orang lain terlihat lebih indah.
Perfeksionisme Membuatku Tidak Pernah Merayakan Diriku Sendiri
Aku sering mengatakan kepada diriku:
“Nanti kalau sudah berhasil, aku akan bahagia.”
Nanti kalau punya pekerjaan.
Nanti kalau punya uang.
Nanti kalau memiliki pasangan.
Nanti kalau tubuhku lebih baik.
Nanti kalau hidupku lebih teratur.
Selalu ada “nanti”.
Dan anehnya, ketika satu tujuan tercapai, muncul tujuan lain.
Aku tidak pernah benar-benar berhenti untuk berkata:
“Aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa.”
Psikolog dan peneliti Brené Brown banyak membahas hubungan antara rasa malu, kerentanan, dan perfeksionisme.
Perfeksionisme sering membuat seseorang merasa bahwa dirinya harus mencapai standar tertentu sebelum merasa layak dihargai.
Aku mulai sadar…
Aku tidak sedang mengejar kesempurnaan.
Aku sedang mengejar perasaan bahwa akhirnya aku cukup.
Masalahnya, standar itu terus bergerak.
Aku Tidak Harus Membuktikan Nilai Diriku kepada Semua Orang
Ada hari ketika aku merasa berharga karena seseorang memujiku.
Ada hari ketika aku merasa tidak berarti karena seseorang mengabaikanku.
Berarti selama ini nilai diriku naik dan turun berdasarkan perlakuan orang lain.
Padahal nilai diriku seharusnya tidak bergantung pada siapa yang memilihku.
Psikolog Albert Bandura memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menghadapi dan menyelesaikan sesuatu.
Aku mulai memahami bahwa keyakinan terhadap diri sendiri tidak selalu muncul karena kita sudah berhasil.
Kadang keyakinan itu tumbuh ketika kita berani mencoba meskipun belum yakin.
Aku tidak harus menunggu merasa cukup untuk mulai menjalani hidup.
Mungkin justru dengan menjalani hidup, perlahan aku akan belajar bahwa aku memang mampu.
Bagaimana Jika Aku Berhenti Mengejar Validasi?
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi jawabannya tidak mudah.
Karena selama bertahun-tahun aku terbiasa mencari pengakuan.
Aku ingin seseorang mengatakan aku baik.
Aku ingin seseorang mengatakan aku hebat.
Aku ingin seseorang memilihku.
Aku ingin seseorang meyakinkanku bahwa aku tidak akan ditinggalkan.
Namun semakin aku mencari kepastian dari luar, semakin aku menyadari bahwa ketenangan itu tidak pernah benar-benar bertahan.
Hari ini dipuji.
Besok diragukan.
Hari ini dicintai.
Besok takut kehilangan.
Mungkin aku perlu belajar memberikan sesuatu kepada diriku sendiri yang selama ini terus kucari dari orang lain:
penerimaan.
Aku Mulai Mengatakan kepada Diriku: “Aku Sudah Cukup”
Bukan berarti aku berhenti berkembang.
Bukan berarti aku tidak boleh memiliki impian.
Bukan berarti aku harus puas dengan keadaan.
Aku tetap ingin menjadi lebih baik.
Tetapi sekarang aku ingin berkembang bukan karena membenci diriku yang sekarang.
Aku ingin berkembang karena aku menyayangi diriku.
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Aku tidak lagi ingin berlari karena takut menjadi orang yang gagal.
Aku ingin berjalan karena ingin melihat sejauh apa aku bisa tumbuh.
Aku tidak ingin menjadi sempurna.
Aku hanya ingin menjadi seseorang yang berdamai dengan dirinya sendiri.
Penutup
Aku masih memiliki hari-hari ketika perasaan “tidak cukup” itu kembali.
Kadang ia datang ketika melihat keberhasilan orang lain.
Kadang ketika seseorang menjauh.
Kadang ketika aku gagal melakukan sesuatu yang kuharapkan.
Namun sekarang aku mulai mengenal suara itu.
Aku tahu bahwa tidak semua yang dikatakannya adalah kebenaran.
Aku tahu bahwa satu kegagalan tidak membuatku menjadi manusia gagal.
Satu penolakan tidak berarti aku tidak layak dicintai.
Seseorang yang pergi tidak berarti aku tidak cukup baik.
Dan keberhasilan orang lain tidak membuatku menjadi kurang.
Aku mungkin belum berada di tempat yang kuinginkan.
Tetapi bukan berarti aku tidak sedang bertumbuh.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk bertanya,
“Apa yang kurang dari diriku?”
Sampai lupa bertanya,
“Apa saja yang sudah berhasil kulewati?”
Hari ini aku ingin belajar melihat diriku dengan cara yang lebih lembut.
Tidak lagi sebagai seseorang yang harus terus diperbaiki.
Tetapi sebagai seseorang yang sedang belajar.
Sedang tumbuh.
Sedang berusaha.
Dan sedang berdamai dengan dirinya sendiri.
Karena akhirnya aku mengerti…
Aku tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi berharga.
Aku tidak harus dipilih semua orang untuk layak dicintai.
Dan aku tidak harus memiliki semuanya untuk mengatakan kepada diriku sendiri:
“Aku mungkin belum menjadi semua yang kuinginkan, tetapi aku tetap cukup untuk hari ini.”

