← Semua artikel

Aku Kira Hidup Orang Lain Selalu Lebih Baik, Sampai Aku Sadar Aku Hanya Melihat Cuplikannya

1 Oktober 2026·Toro

Aku Tidak Sedang Membandingkan Hidupku dengan Hidup Mereka, Aku Membandingkannya dengan Potongan yang Sengaja Mereka Tunjukkan

Setiap kali membuka ponsel, aku disambut oleh hidup orang lain yang terlihat baik-baik saja.

Liburan yang menyenangkan.

Hubungan yang terlihat hangat.

Pekerjaan yang terlihat membanggakan.

Tubuh yang terlihat sempurna.

Aku menatapnya beberapa detik, lalu menutup ponsel dengan perasaan yang sulit kujelaskan.

Bukan iri yang besar.

Hanya sesuatu yang kecil, yang diam-diam menggerogoti.

Sesuatu yang berbisik, “Kenapa hidupmu tidak seperti itu?”


Aku Lupa Bahwa Aku Hanya Melihat Satu Sudut

Aku tahu, secara logika, bahwa apa yang dibagikan orang biasanya adalah bagian terbaik dari hari mereka.

Tapi entah kenapa, logika itu selalu kalah dari perasaan.

Aku melihat foto liburan, dan aku lupa bahwa mungkin minggu sebelumnya mereka menangis karena kelelahan bekerja.

Aku melihat pasangan yang terlihat mesra, dan aku lupa bahwa mungkin mereka baru saja bertengkar semalam.

Aku melihat seseorang merayakan pencapaian, dan aku lupa berapa banyak percobaan gagal yang tidak pernah mereka unggah.

Aku hanya melihat hasil akhirnya.

Bukan prosesnya.

Bukan bagian yang berantakan.

Bukan malam-malam yang tidak difoto siapa pun.


Psikolog Leon Festinger Pernah Menjelaskan Kenapa Aku Melakukan Ini

Pada tahun 1954, psikolog Leon Festinger memperkenalkan sesuatu yang disebut teori perbandingan sosial.

Ia menjelaskan bahwa manusia memang secara alami cenderung menilai dirinya sendiri dengan cara membandingkan diri dengan orang lain, terutama ketika tidak ada ukuran objektif untuk menilai diri sendiri.

Dulu, kita membandingkan diri dengan tetangga, teman sekolah, atau saudara.

Sekarang, kita membandingkan diri dengan ribuan orang yang tidak pernah benar-benar kita kenal.

Aku mulai memahami bahwa perasaan “kurang” yang sering muncul bukan sepenuhnya salahku.

Otakku memang dirancang untuk membandingkan.

Hanya saja, sekarang bahan perbandingannya jauh lebih banyak, jauh lebih tidak nyata, dan jauh lebih melelahkan.


Aku Mulai Curiga pada Perasaan Tertinggal Ini

Ada satu pertanyaan yang mulai sering kutanyakan pada diriku sendiri:

“Tertinggal dari siapa, menuju ke mana?”

Aku bahkan tidak selalu tahu jawabannya.

Aku hanya merasa harus mengejar sesuatu, tanpa benar-benar tahu apa yang sedang kukejar.

Apakah aku ingin memiliki hidup seperti itu?

Atau aku hanya ingin berhenti merasa tertinggal?

Keduanya terdengar mirip, tetapi sebenarnya sangat berbeda.

Yang satu datang dari keinginan.

Yang satu lagi datang dari rasa takut.


Aku Mulai Membatasi, Bukan Membenci

Aku tidak berhenti menggunakan media sosial.

Itu tidak realistis, dan aku juga tidak ingin menjauh dari orang-orang yang kusayangi di sana.

Tapi aku mulai memperhatikan pola.

Kapan aku merasa terinspirasi setelah melihat sesuatu, dan kapan aku merasa kosong.

Kapan aku menutup ponsel dengan tenang, dan kapan aku menutupnya dengan dada yang sesak.

Aku mulai bertanya sebelum scroll lebih jauh:

“Aku sedang mencari hiburan, atau sedang mencari alasan untuk merasa kurang?”

Kadang jawabannya menyakitkan untuk diakui.


Aku Belajar Menghargai Bagian Hidupku yang Tidak Pernah Kufoto

Ada banyak hal baik dalam hidupku yang tidak pernah kubagikan ke mana pun.

Percakapan hangat dengan seseorang yang benar-benar mendengarkanku.

Pagi yang tenang tanpa harus terburu-buru.

Keberhasilan kecil yang hanya aku dan diriku sendiri yang tahu betapa sulitnya itu.

Aku mulai sadar, mungkin hidup orang lain juga penuh dengan bagian-bagian seperti ini.

Bagian yang tidak pernah kulihat, karena memang tidak pernah dibagikan.

Bukan berarti hidup mereka kosong.

Hanya saja, tidak semua yang berharga perlu ditampilkan.


Aku Juga Sedang Membuat Cuplikan untuk Orang Lain

Butuh waktu lama sampai aku sadar satu hal yang cukup memalukan untuk diakui.

Aku juga melakukan hal yang sama.

Aku juga hanya mengunggah momen ketika sedang tertawa, bukan ketika sedang menangis di kamar mandi.

Aku juga memilih foto yang paling bagus dari lima puluh foto yang gagal.

Aku juga diam-diam menghapus caption yang terdengar terlalu jujur, lalu menggantinya dengan sesuatu yang terdengar lebih baik-baik saja.

Jadi mungkin, sementara aku sibuk iri pada cuplikan hidup orang lain, ada orang lain yang sedang iri pada cuplikan hidupku.

Kami berdua sama-sama membandingkan diri dengan ilusi yang kami ciptakan sendiri, dari dua arah yang berbeda.

Tidak ada yang benar-benar menang dalam perbandingan seperti ini.

Karena yang dibandingkan bukan dua kehidupan yang nyata, melainkan dua pertunjukan yang sama-sama disunting.


Sherry Turkle dan Kedekatan yang Ternyata Hanya Ilusi

Psikolog Sherry Turkle, dalam penelitiannya tentang teknologi dan hubungan manusia, menulis tentang bagaimana banyak orang merasa “bersama” satu sama lain melalui layar, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kesendirian yang dilapisi notifikasi.

Ia menyebutnya sebagai kondisi alone together — sendirian, bersama-sama.

Aku mulai memahami kenapa scroll berjam-jam justru membuatku merasa makin kosong, bukan makin terhubung.

Aku melihat ratusan wajah, membaca ratusan cerita, tapi tidak benar-benar mengenal siapa pun lebih dalam dari itu.

Aku mengira sedang terhubung dengan dunia.

Padahal aku hanya sedang menonton dunia dari balik kaca, tanpa pernah benar-benar masuk ke dalamnya.

Kedekatan yang sebenarnya kucari, tidak pernah bisa didapat hanya dari melihat linimasa orang lain.


Aku Mulai Membuat Daftar Kecil yang Tidak Pernah Kubagikan

Aku mencoba satu kebiasaan baru.

Setiap malam, aku menuliskan satu hal baik yang terjadi hari itu, di catatan yang tidak pernah kutunjukkan ke siapa pun.

Bukan untuk diunggah.

Bukan untuk dikomentari.

Hanya untuk diriku sendiri, sebagai bukti bahwa hidupku juga punya bagian-bagian yang layak disyukuri, meski tidak ada yang memberi tanda suka.

Perlahan, aku belajar bahwa sesuatu tidak harus dilihat orang lain untuk menjadi berarti.

Cukup aku yang tahu, dan itu sudah cukup.

Penutup

Aku masih sesekali merasa tertinggal saat membuka ponsel.

Itu wajar, dan aku tidak lagi menyalahkan diriku ketika perasaan itu datang.

Tapi sekarang aku punya satu pengingat kecil yang selalu kubawa:

Aku sedang membandingkan bab tersulit dalam hidupku dengan bab tersunting dari hidup orang lain.

Aku tidak sedang kalah. Aku hanya sedang melihat cerita yang belum selesai, seolah-olah itu sudah menjadi hasil akhir.

Hidupku juga punya bagian-bagian indah.

Hanya saja, tidak semuanya perlu difoto untuk menjadi berarti.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya