Kesalahan Kecil Terasa Seperti Bencana Besar di Kepalaku
Aku mengirim laporan itu jam lima sore.
Jam sepuluh malam, aku baru sadar ada satu angka yang salah ketik.
Bukan kesalahan besar.
Bisa diperbaiki dalam semenit.
Tapi aku terjaga sampai jam tiga pagi, memikirkan bagaimana atasanku akan menilaiku karena kesalahan sekecil itu.
Seolah satu angka itu bisa menghapus semua kerja kerasku selama ini.
Aku Tidak Pernah Merasa Cukup Teliti, Meskipun Semua Orang Bilang Aku Teliti
Orang-orang sering memujiku karena rapi dan teliti.
Tapi mereka tidak tahu, di baliknya, aku memeriksa ulang setiap pekerjaan tiga sampai empat kali, bukan karena aku percaya diri dengan hasilnya, tapi karena aku takut ada yang terlewat.
Aku bekerja lembur bukan karena pekerjaannya banyak.
Tapi karena aku tidak berani mengirimkannya sebelum merasa yakin seratus persen tidak ada cela.
Masalahnya, perasaan yakin seratus persen itu hampir tidak pernah datang.
Jadi aku terus memeriksa, terus mengedit, sampai kelelahan sendiri, hanya untuk menghindari satu kemungkinan kecil bahwa seseorang akan melihat kesalahanku.
Aku Baru Tahu, Ini Bukan Soal Standar Tinggi, Ini Soal Rasa Takut
Aku selalu mengira ini adalah bentuk profesionalisme.
Semakin aku baca, semakin aku sadar, ini bukan sekadar soal ingin hasil yang bagus.
Psikolog Carol Dweck, yang meneliti bagaimana cara seseorang memandang kemampuan dirinya sendiri, menjelaskan bahwa sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa kemampuan mereka adalah sesuatu yang tetap, bukan sesuatu yang bisa berkembang.
Bagi orang dengan pola pikir seperti ini, satu kesalahan tidak terasa seperti bagian dari proses belajar.
Kesalahan terasa seperti bukti bahwa mereka memang tidak cukup mampu.
Aku membaca itu dan merasa tertampar pelan.
Karena memang begitu rasanya setiap kali aku salah, sekecil apa pun.
Bukan seperti, “Oh, aku belajar sesuatu.”
Tapi seperti, “Ternyata memang aku tidak becus.”
Aku Mulai Menyadari dari Mana Standar Setinggi Ini Berasal
Aku mencoba mengingat, sejak kapan aku merasa harus selalu benar, selalu rapi, selalu tanpa cela.
Aku ingat, dulu waktu kecil, pujian paling besar selalu datang ketika aku mendapat nilai sempurna, ketika aku menang lomba, ketika aku melakukan sesuatu yang bisa dibanggakan.
Aku jarang diingat karena siapa aku, tapi karena apa yang berhasil kucapai.
Psikoanalis Alice Miller, yang banyak menulis tentang bagaimana pola asuh memengaruhi rasa berharga seorang anak, menjelaskan bahwa sebagian anak tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta dan perhatian hanya datang ketika mereka berprestasi.
Anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang terus mengejar pencapaian, bukan karena mencintai prosesnya, tapi karena diam-diam masih berharap, jika mereka cukup sempurna, mereka akan cukup dicintai.
Aku membaca itu dan diam cukup lama.
Karena mungkin, kesalahan kecil di laporan itu bukan hanya soal pekerjaan.
Itu menyentuh ketakutan yang jauh lebih tua, ketakutan bahwa aku hanya berharga selama aku tidak membuat kesalahan.
Aku Mulai Bertanya, Berapa Harga yang Sudah Kubayar untuk Standar Ini
Aku menghitung, tanpa sengaja, berapa malam yang sudah kuhabiskan untuk memeriksa ulang pekerjaan yang sebenarnya sudah cukup baik.
Berapa akhir pekan yang hilang karena aku tidak bisa berhenti mengedit sesuatu yang orang lain bahkan tidak akan sadar ada salahnya.
Berapa banyak momen bersama orang-orang yang kusayangi, yang kulewatkan karena aku masih di depan laptop, mengejar kesempurnaan yang tidak pernah benar-benar tercapai.
Standar tinggi ini memang membuat pekerjaanku terlihat baik.
Tapi ia juga diam-diam mengambil banyak hal lain dariku, satu per satu, tanpa pernah benar-benar kusadari sampai sekarang.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah harga itu sepadan dengan apa yang kudapatkan.
Aku Takut Kesalahan Kecil Akan Membuktikan Aku Tidak Layak Berada di Sini
Ada ketakutan yang lebih dalam yang jarang kuakui.
Aku takut jika aku membuat kesalahan, orang-orang akan menyadari aku sebenarnya tidak sehebat yang mereka kira.
Psikolog Brené Brown, yang banyak meneliti tentang rasa malu dan kerentanan, menjelaskan bahwa perfeksionisme sering kali bukan tentang mengejar yang terbaik, melainkan tentang mencoba menghindari rasa malu dan penilaian orang lain.
Aku menyadari, selama ini aku tidak sedang mengejar kesempurnaan karena aku ingin berkembang.
Aku sedang berusaha menyembunyikan rasa takutku bahwa aku sebenarnya tidak cukup baik, di balik pekerjaan yang terlihat sempurna.
Aku Lupa Bahwa Semua Orang yang Kukagumi Juga Pernah Salah
Aku sering melihat orang-orang yang kukagumi di tempat kerja, dan mengira mereka tidak pernah membuat kesalahan seperti aku.
Padahal aku hanya melihat hasil akhir mereka.
Aku tidak melihat draf pertama yang berantakan.
Aku tidak melihat revisi yang mereka lakukan berkali-kali.
Aku tidak melihat kesalahan yang mereka perbaiki diam-diam sebelum aku sempat melihatnya.
Aku membandingkan proses berantakanku dengan hasil akhir rapi mereka.
Tentu saja aku selalu merasa tertinggal.
Aku Mulai Mengizinkan Diriku untuk Tidak Sempurna, Sedikit demi Sedikit
Aku mencoba sesuatu yang terasa aneh pada awalnya.
Aku sengaja mengirim satu pekerjaan tanpa memeriksanya empat kali seperti biasa.
Aku menunggu, dengan jantung berdebar, apa yang akan terjadi.
Ternyata tidak ada yang runtuh.
Ada masukan kecil, seperti biasa, dan aku memperbaikinya.
Dunia tidak berhenti berputar karena satu kesalahan kecil.
Aku mulai belajar, kesalahan kecil bukan bukti bahwa aku tidak layak.
Itu hanya bagian dari bagaimana semua orang bekerja, termasuk orang-orang yang selama ini kukagumi.
Penutup
Aku masih memeriksa pekerjaanku lebih dari sekali.
Aku rasa itu tidak sepenuhnya buruk.
Tapi sekarang aku mencoba berhenti sebelum rasa takut yang mengambil alih, bukan rasa ingin memberikan yang terbaik.
Kesalahan kecil bukan bukti bahwa aku tidak mampu.
Nilai diriku tidak runtuh hanya karena satu angka salah ketik.
Aku sedang belajar bahwa menjadi baik dalam pekerjaanku tidak sama dengan harus selalu sempurna.
Dan aku boleh, sesekali, membiarkan diriku salah, tanpa merasa itu adalah akhir dari segalanya.
