Aku Tidak Sedang Tertinggal dari Kehidupan, Aku Hanya Mengikuti Jadwal yang Tidak Pernah Benar-Benar Ada
Ada satu kalimat yang terus berputar di kepalaku belakangan ini.
“Harusnya di umur segini, aku sudah punya ini.”
Sudah punya pekerjaan tetap.
Sudah punya tabungan.
Sudah menikah, atau setidaknya punya hubungan yang stabil.
Sudah tahu arah hidup mau ke mana.
Aku menghitung usia teman-temanku, membandingkannya dengan pencapaian mereka, lalu menggunakan angka itu sebagai alat untuk menghukum diriku sendiri.
Seolah-olah ada jadwal resmi yang harus diikuti semua orang.
Padahal aku tidak pernah benar-benar tahu, siapa yang membuat jadwal itu.
Aku Membandingkan Bab Hidupku dengan Bab Hidup Orang Lain yang Berbeda
Aku melihat teman seangkatan sudah menjadi manajer.
Aku melihat teman SMA sudah menikah dan punya anak.
Aku melihat seseorang di usia yang sama sudah punya rumah sendiri.
Dan aku bertanya, kenapa aku belum sampai di sana?
Padahal aku lupa, hidup setiap orang tidak berjalan dengan kecepatan yang sama.
Ada yang mulai bekerja lebih awal.
Ada yang harus berhenti kuliah karena keadaan keluarga.
Ada yang pernah gagal berkali-kali sebelum akhirnya menemukan jalannya.
Aku hanya melihat hasil di titik ini, tanpa tahu berapa banyak jalan memutar yang mereka lewati untuk sampai ke sana.
Erik Erikson dan Gagasan tentang Tahapan Kehidupan
Psikolog Erik Erikson pernah menjelaskan bahwa manusia melewati berbagai tahap perkembangan psikososial sepanjang hidupnya, masing-masing dengan tantangannya sendiri.
Tapi satu hal yang penting untuk dipahami, teorinya berbicara tentang tahap perkembangan, bukan jadwal pasti yang harus dicapai di usia tertentu.
Erikson sendiri menekankan bahwa setiap orang bisa melewati tahap-tahap ini dengan kecepatan dan urutan yang berbeda, tergantung pengalaman hidup masing-masing.
Aku mulai sadar, aku selama ini mengambil kerangka perkembangan manusia yang fleksibel, lalu memaksanya menjadi jadwal kaku yang harus kupenuhi tepat waktu.
Padahal tidak ada satu pun ahli psikologi yang pernah bilang, “Kalau belum tercapai di usia segini, kamu gagal.”
Aku Menjadikan Pencapaian sebagai Satu-Satunya Ukuran Berharga
Selama ini aku menilai diriku dari pencapaian yang bisa dilihat orang lain.
Pekerjaan.
Status hubungan.
Jumlah tabungan.
Padahal ada banyak hal dalam hidupku yang berkembang, tapi tidak selalu terlihat.
Aku belajar lebih mengenal diriku sendiri.
Aku belajar menyembuhkan luka-luka lama.
Aku belajar menjadi lebih sabar terhadap diriku sendiri.
Hal-hal ini tidak bisa dituliskan di kolom pencapaian, tapi bukan berarti tidak berarti.
Carol Dweck dan Gagasan tentang Growth Mindset
Psikolog Carol Dweck memperkenalkan konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dan keadaan seseorang bisa terus berkembang melalui usaha dan waktu, bukan sesuatu yang sudah ditentukan sejak awal.
Aku mulai berpikir, mungkin selama ini aku memandang hidupku dengan cara yang kaku.
Seolah-olah kalau belum tercapai sekarang, artinya sudah terlambat.
Padahal, banyak hal dalam hidup yang baru bisa dimengerti ketika sudah dijalani lebih jauh.
Aku tidak sedang terlambat.
Aku hanya sedang berada di titik prosesku sendiri, yang tidak sama dengan titik proses orang lain.
Aku Mulai Bertanya Apa yang Sebenarnya Kuinginkan
Ada perbedaan besar antara mengejar sesuatu karena benar-benar kuinginkan, dan mengejar sesuatu karena takut tertinggal.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Apakah aku ingin menikah sekarang karena memang sudah siap, atau karena takut menjadi satu-satunya yang belum menikah?
Apakah aku ingin pekerjaan itu karena sesuai dengan diriku, atau karena terlihat bagus di mata orang lain?
Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab.
Tapi setidaknya, aku mulai berhenti mengejar sesuatu hanya karena jadwal yang tidak pernah kubuat sendiri.
Aku Mengukur Diriku dengan Linimasa yang Bukan Milikku
Aku sering lupa bahwa linimasa yang kupakai untuk menghukum diriku sendiri bukanlah linimasa yang pernah kupilih.
Itu linimasa yang dibentuk oleh omongan orang, oleh rata-rata usia menikah di keluargaku, oleh standar yang diam-diam disepakati banyak orang tanpa pernah benar-benar dibicarakan.
Aku tidak pernah duduk dan bertanya pada diriku sendiri, “Kapan sebenarnya waktu yang tepat untukku?”
Aku hanya menerima jadwal itu begitu saja, seolah-olah itu kebenaran mutlak.
Padahal, jadwal itu dibuat tanpa tahu apa yang pernah kulalui.
Tanpa tahu berapa lama aku butuh untuk pulih dari sesuatu.
Tanpa tahu jalan memutar yang harus kutempuh, yang orang lain mungkin tidak perlu tempuh sama sekali.
Jeffrey Arnett dan Gagasan tentang Masa Dewasa yang Sedang Terbentuk
Psikolog Jeffrey Jensen Arnett memperkenalkan istilah emerging adulthood, sebuah masa transisi panjang antara remaja dan dewasa penuh, yang menurutnya semakin umum terjadi di dunia modern.
Ia menjelaskan bahwa generasi sekarang menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi identitas, karier, dan hubungan, dibandingkan generasi-generasi sebelumnya yang jalurnya lebih cepat dan lebih seragam.
Ini bukan tanda kegagalan.
Ini adalah bentuk baru dari proses tumbuh, yang tidak selalu cocok dengan jadwal lama yang diwariskan turun-temurun.
Aku mulai memahami bahwa aku bukan sedang gagal mengikuti jadwal.
Aku sedang hidup di zaman yang jadwalnya memang sudah berubah, hanya saja suara-suara lama di kepalaku belum ikut memperbarui diri.
Aku Berhenti Menghitung Mundur
Aku mulai berhenti membuka aplikasi kalender di kepalaku, yang selalu menghitung berapa tahun lagi sebelum sesuatu “harus” tercapai.
Aku mencoba melihat hidup bukan sebagai garis lurus menuju tenggat waktu, tapi sebagai sesuatu yang berputar, kembali, dan berkembang dengan caranya sendiri.
Ada masa untuk mengumpulkan.
Ada masa untuk beristirahat.
Ada masa untuk mengulang sesuatu yang belum selesai.
Aku tidak lagi memaksakan diriku mengikuti satu arah lurus yang katanya paling benar.
Aku sedang belajar percaya, bahwa jalan yang berkelok-kelok tetap jalan menuju sesuatu, bukan jalan yang salah.
Penutup
Aku masih sesekali merasa cemas ketika melihat pencapaian orang lain di usia yang sama denganku.
Itu wajar, dan aku tidak memaksa diriku untuk berhenti merasakannya sepenuhnya.
Tapi sekarang aku punya satu pengingat yang kusimpan baik-baik:
Tidak ada jadwal resmi untuk menjadi manusia. Yang ada hanya perjalanan masing-masing, dengan kecepatannya sendiri.
Aku tidak tertinggal. Aku hanya sedang berjalan di jalur yang memang milikku sendiri.
Dan mungkin, hal terpenting bukan seberapa cepat aku sampai.
Tapi apakah aku sampai dengan cara yang benar-benar kuinginkan.
