Aku Selalu Ada untuk Semua Orang, Tapi Aku Tidak Pernah Benar-Benar Tahu Siapa yang Ada untukku
Orang-orang sering bilang aku kuat.
Mereka datang kepadaku saat sedang patah hati.
Mereka menelepon saat butuh nasihat.
Mereka menangis di depanku, dan aku selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuat mereka merasa lebih baik.
Tapi ketika giliranku yang jatuh, aku sering bingung harus menghubungi siapa.
Bukan karena aku tidak punya orang-orang di sekitarku.
Tapi karena aku sudah terlalu lama menjadi tempat sandaran, sampai lupa bagaimana caranya menjadi orang yang bersandar.
Aku Terbiasa Menjadi yang Kuat
Entah sejak kapan, aku menjadi orang yang selalu dicari saat ada masalah.
Di keluarga, akulah yang menjadi penengah.
Di lingkaran pertemanan, akulah tempat curhat semua orang.
Aku bangga bisa diandalkan.
Tapi diam-diam, aku juga lelah.
Karena semakin sering aku menjadi tempat sandaran, semakin orang lupa bertanya, “Kamu sendiri baik-baik saja?”
Dan semakin lama, aku juga lupa untuk jujur menjawabnya.
John Bowlby dan Peran yang Terbalik dalam Hubungan
Dalam teori kelekatan yang dikembangkan John Bowlby, biasanya seorang anak seharusnya menjadi pihak yang menerima rasa aman dari sosok pengasuhnya.
Tapi dalam beberapa kondisi keluarga, peran ini bisa terbalik, di mana seorang anak justru tumbuh menjadi sosok yang menenangkan orang dewasa di sekitarnya, fenomena yang dalam psikologi sering disebut parentifikasi.
Aku mulai bertanya, apakah aku tumbuh dengan pola seperti ini.
Mungkin sejak kecil aku belajar bahwa menjadi kuat adalah caraku untuk merasa berguna.
Mungkin aku belajar bahwa perasaanku sendiri harus ditunda, karena selalu ada orang lain yang terlihat lebih membutuhkan perhatian.
Pola itu tidak hilang begitu saja saat aku tumbuh dewasa.
Aku hanya berpindah dari satu peran penopang ke peran penopang yang lain.
Aku Takut Menjadi Beban
Setiap kali aku ingin bercerita tentang keadaanku, ada suara di kepalaku yang berkata,
“Mereka juga punya masalah sendiri, jangan tambah beban mereka.”
Jadi aku memilih diam.
Aku memilih menyelesaikan semuanya sendiri.
Aku memilih tersenyum, meskipun di dalam sedang runtuh.
Aku pikir aku sedang meringankan orang lain.
Tapi sebenarnya, aku hanya menambah beban pada diriku sendiri, seorang diri.
Christina Maslach dan Kelelahan Emosional
Psikolog Christina Maslach banyak meneliti tentang burnout, termasuk bentuk kelelahan emosional yang muncul akibat terus-menerus memberi tanpa cukup ruang untuk memulihkan diri.
Meski penelitiannya banyak berfokus pada dunia kerja, konsep ini terasa sangat relevan dengan apa yang kurasakan dalam hubungan personal.
Aku memberi perhatian, empati, dan waktu kepada begitu banyak orang.
Tapi aku jarang menyisakan sesuatu untuk memulihkan diriku sendiri.
Lama-lama, aku merasa kosong, bukan karena aku tidak peduli lagi, tapi karena aku sudah memberi terlalu banyak tanpa pernah benar-benar diisi ulang.
Aku Mulai Belajar Meminta, Bukan Hanya Memberi
Ada satu langkah kecil yang mulai kucoba.
Aku mulai memberi tahu satu atau dua orang yang kupercaya, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Awalnya terasa aneh, karena selama ini akulah yang biasa mendengarkan, bukan yang didengarkan.
Tapi aku belajar bahwa hubungan yang sehat seharusnya bisa berjalan dua arah.
Ada kalanya aku menjadi tempat bersandar.
Dan ada kalanya aku juga berhak bersandar kepada seseorang.
Itu bukan tanda kelemahan.
Itu tanda bahwa aku juga manusia, bukan hanya penopang bagi semua orang di sekitarku.
Aku Juga Menjauh dari Orang-Orang yang Sebenarnya Ingin Menopangku
Ada hal lain yang baru kusadari belakangan.
Bukan hanya orang lain yang lupa bertanya kabarku.
Aku sendiri yang sering menghindar ketika seseorang mencoba mendekat untuk menjagaku.
Ketika ada yang bertanya, “Kamu beneran baik-baik saja?”, aku buru-buru mengganti topik.
Ketika ada yang menawarkan bantuan, aku buru-buru bilang tidak usah, aku bisa sendiri.
Aku menjaga jarak dari bantuan, seolah-olah menerimanya akan membuktikan bahwa aku bukan orang yang selama ini kutunjukkan.
Padahal mungkin, ada orang-orang yang sudah lama menunggu kesempatan untuk menjagaku, dan aku yang terus menutup pintu itu tanpa sadar.
Kristin Neff dan Latihan Baru Bernama Self-Compassion
Peneliti Kristin Neff banyak mempelajari tentang self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kehangatan yang sama seperti yang biasa kita berikan kepada orang lain yang sedang kesulitan.
Ia menjelaskan bahwa kebanyakan orang jauh lebih mudah berbelas kasih kepada temannya yang sedang jatuh, dibandingkan kepada dirinya sendiri saat mengalami hal yang sama.
Aku mulai mencoba bertanya pada diriku sendiri, apa yang akan kukatakan pada seorang teman yang sedang kelelahan seperti ini.
Aku pasti akan bilang, “Istirahat dulu, nggak apa-apa kalau hari ini kamu nggak kuat menjadi yang paling tegar.”
Aku sedang belajar mengatakan kalimat yang sama, kepada diriku sendiri.
Aku Mulai Membiarkan Satu Orang Melihatku Runtuh
Aku memilih satu orang, dan mengizinkan diriku untuk tidak kuat di depannya.
Aku menangis tanpa buru-buru menyekanya.
Aku bilang, “Aku capek,” tanpa langsung menambahkan bahwa aku pasti bisa mengatasinya sendiri.
Ternyata dunia tidak berhenti berputar hanya karena aku terlihat rapuh sekali saja.
Orang itu tetap tinggal.
Bahkan terlihat lebih dekat, bukan lebih jauh, setelah melihatku apa adanya.
Aku mulai percaya, mungkin selama ini aku salah mengira bahwa kekuatanku ada pada seberapa jarang aku runtuh.
Padahal kekuatan sejati mungkin justru ada pada keberanian untuk sesekali membiarkan diri terlihat runtuh, di depan orang yang tepat.
Penutup
Aku masih belajar untuk tidak selalu menjadi yang paling kuat di setiap ruangan.
Masih ada rasa canggung setiap kali aku mencoba bercerita tentang keadaanku sendiri.
Tapi sekarang aku menyimpan satu kalimat sebagai pengingat:
Menjadi tempat sandaran bagi orang lain tidak berarti aku tidak boleh punya tempat untuk bersandar juga.
Aku boleh kuat. Tapi aku juga boleh lelah, dan berhak dicari saat sedang jatuh, bukan hanya saat sedang menopang.
Aku tidak harus selalu menjadi tempat berlindung bagi semua orang.
Sesekali, aku juga berhak dicari untuk dijaga.
