Aku Tidak Sedang Jatuh Cinta Lagi, Aku Hanya Sedang Takut Sendirian
Setelah putus, aku langsung mencari seseorang yang baru.
Bukan karena aku sudah siap.
Tapi karena aku tidak tahan dengan sunyinya tidak ada siapa-siapa yang menganggapku penting.
Setiap kali ada yang mulai dekat, aku merasa hidup lagi.
Seseorang membalas chat-ku dengan cepat, dan aku merasa berarti.
Seseorang memujiku, dan untuk sesaat rasa hampa itu hilang.
Aku menyebutnya “move on”.
Padahal yang sebenarnya terjadi, aku sedang mencari orang yang bisa membuatku merasa dipilih lagi.
“Kalau ada yang mau denganku, berarti aku masih berharga, kan?”
Aku tidak pernah mengucapkannya keras-keras.
Tapi jauh di dalam diriku, pertanyaan itu selalu ada.
Rasa Kosong Itu Selalu Datang di Waktu yang Sama
Malam hari, ketika semua sudah sepi.
Saat aku tidak sedang sibuk membalas pesan siapa pun.
Di situlah rasa itu muncul.
Bukan rasa rindu pada orang yang dulu.
Tapi rasa takut bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar menginginkanku.
Jadi aku membuka aplikasi kencan.
Aku membalas chat dari seseorang yang sebenarnya tidak terlalu kusukai.
Bukan karena aku tertarik padanya.
Tapi karena kehadirannya membuat rasa kosong itu diam sebentar.
Aku pikir aku sedang menyembuhkan diriku.
Padahal aku hanya sedang menunda rasa sakit yang belum selesai kuurus.
Aku Belajar Tentang Apa yang Terjadi Setelah Perpisahan
Terapis dan penulis Esther Perel banyak membahas bagaimana orang sering terburu-buru masuk ke hubungan baru bukan untuk mencintai orang itu, tapi untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa mereka masih layak dicintai.
Ia menyebutnya sebagai cara kita menghindari duka, bukan menyelesaikannya.
Aku membaca itu dan merasa tertampar.
Karena benar.
Aku tidak pernah benar-benar berduka atas hubungan yang berakhir.
Aku hanya mengganti orangnya, lalu berharap rasa sakitnya ikut hilang.
Tapi rasa sakit itu tidak pergi ke mana-mana.
Ia hanya bersembunyi, menunggu waktu sepi untuk muncul lagi.
Aku Menyalahartikan Perhatian sebagai Penyembuhan
Setiap kali seseorang yang baru memberi perhatian, aku merasa seperti sedang membaik.
Aku pikir itu tandanya aku sudah kuat.
Padahal aku hanya sedang memakai orang itu sebagai plester untuk luka yang belum benar-benar kuobati.
Aku tidak pernah bertanya, apakah aku benar-benar menyukai orang ini.
Aku hanya bertanya, apakah orang ini membuatku merasa cukup.
Dan begitu perhatian itu berkurang sedikit saja, rasa panikku kembali.
Aku mulai mengirim pesan lebih sering.
Aku mulai takut kehilangan seseorang yang bahkan belum lama kukenal.
Karena bagiku, kehilangan perhatian terasa seperti kehilangan bukti bahwa aku masih berharga.
Aku Mulai Bertanya, Apa yang Sebenarnya Aku Cari
Aku berhenti sejenak dan bertanya pada diriku sendiri.
Apakah aku sedang mencari seseorang?
Atau aku sedang mencari rasa aman yang hilang sejak hubungan sebelumnya berakhir?
Aku mulai sadar bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar membiarkan diriku merasa kehilangan.
Aku langsung mengisi ruang kosong itu dengan orang lain, secepat mungkin.
Karena diam bersama rasa sakit terasa terlalu berat.
Tapi setiap kali aku lari darinya, rasa sakit itu hanya menunggu, tidak pernah benar-benar hilang.
Aku Belajar Duduk Bersama Rasa Sepi, Bukan Lari Darinya
Aku mulai mencoba sesuatu yang baru.
Ketika rasa sepi datang, aku tidak langsung mencari seseorang.
Aku membiarkannya ada.
Aku menangis kalau memang perlu menangis.
Aku menulis apa yang kurasakan tanpa berharap ada yang membaca dan memujiku.
Awalnya terasa aneh.
Rasanya seperti membiarkan diriku tenggelam tanpa ada yang menyelamatkan.
Tapi lama-lama aku sadar, aku tidak tenggelam.
Aku hanya sedang belajar berenang sendiri, untuk pertama kalinya.
Aku Mulai Melihat Wajah-Wajah Orang yang Pernah Kupakai Sebagai Pelarian
Ada rasa bersalah yang muncul ketika aku mulai jujur pada diriku sendiri.
Aku mengingat wajah beberapa orang yang pernah dekat denganku, tepat setelah putus.
Mereka mungkin sungguh-sungguh menyukaiku.
Sementara aku, diam-diam hanya sedang memakai kehadiran mereka untuk menutupi rasa kosongku sendiri.
Aku tidak jahat pada mereka.
Tapi aku juga tidak sepenuhnya jujur, bahkan pada diriku sendiri, tentang alasan aku mendekat.
Aku mulai bertanya, berapa banyak orang yang aku libatkan dalam proses penyembuhanku, tanpa mereka pernah memilih untuk terlibat dalam hal itu.
Itu bukan salah mereka.
Itu tanggung jawab yang seharusnya kupikul sendiri, bukan kubebankan pada orang yang baru saja kukenal.
Aku Belajar Bahwa Sendirian Sebentar Bukan Hukuman
Ada waktu ketika aku menganggap kesendirian sebagai sesuatu yang harus segera diselesaikan.
Seolah-olah, semakin cepat aku menemukan seseorang, semakin cepat pula aku “sembuh”.
Padahal semakin aku terburu-buru, semakin aku membawa luka lama ke hubungan yang baru, tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya.
Aku mulai memberi diriku izin untuk sendirian dulu.
Bukan selamanya.
Hanya cukup lama untuk benar-benar mengenali, siapa aku tanpa validasi dari orang lain.
Ternyata, aku bisa menikmati makan sendirian.
Aku bisa tertawa karena leluconku sendiri, tanpa perlu ada yang mendengar.
Kesendirian itu, yang dulu terasa seperti hukuman, perlahan mulai terasa seperti ruang untuk pulih.
Aku Belajar Membedakan Rindu pada Orang, dan Rindu pada Perasaan Dibutuhkan
Butuh waktu lama bagiku untuk bisa membedakan dua hal ini.
Rindu pada seseorang, dan rindu pada rasa dibutuhkan oleh siapa saja.
Ketika aku jujur, ternyata yang lebih sering muncul adalah yang kedua.
Aku tidak selalu merindukan orang itu secara spesifik.
Aku merindukan perasaan menjadi prioritas seseorang, perasaan bahwa ada yang menunggu kabarku, perasaan bahwa aku masih relevan dalam hidup seseorang.
Menyadari perbedaan ini penting, karena artinya aku tidak harus mencari orang tertentu untuk mengobatinya.
Aku hanya perlu belajar memberi rasa dibutuhkan itu pada diriku sendiri dulu, sebelum mencarinya dari orang lain.
Penutup
Aku masih ingin dicintai suatu hari nanti.
Aku masih percaya pada hubungan yang tulus.
Tapi aku tidak ingin lagi mencari seseorang hanya untuk membuktikan bahwa aku layak dipilih.
Karena rasa berhargaku seharusnya tidak bergantung pada siapa yang sedang membalas pesanku malam ini.
Aku tidak butuh seseorang yang baru untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja.
Aku hanya butuh waktu untuk benar-benar berdamai dengan diriku yang sendirian dulu.
Dan ketika nanti aku benar-benar siap mencintai lagi, aku ingin melakukannya bukan karena takut sendirian, tapi karena aku memang ingin berbagi hidup dengan seseorang yang tepat.
