Aku Selalu Jadi yang Pertama Mengirim Pesan, dan Terakhir yang Ditanya Kabarnya.
Aku selalu ingat ulang tahun teman-temanku.
Aku selalu ada ketika mereka butuh didengar tengah malam.
Aku selalu menawarkan bantuan sebelum mereka meminta.
Tapi entah kenapa, aku jarang mendapat perlakuan yang sama.
Aku sering jadi yang mengirim pesan duluan.
Jarang jadi yang ditanya kabarnya.
Aku pikir itu wajar.
Sampai aku sadar, aku sudah lelah menjadi satu-satunya yang berusaha.
Aku Pikir Memberi Tanpa Berharap Balasan Adalah Bentuk Ketulusan
Aku selalu percaya, pertemanan yang baik itu tidak menghitung-hitung.
Aku tidak masalah memberi lebih.
Tapi lama-lama aku sadar, ada perbedaan antara memberi dengan tulus dan memberi karena takut ditinggalkan.
Aku memberi bukan karena aku benar-benar ikhlas.
Aku memberi karena aku takut kalau berhenti memberi, mereka akan pergi.
Aku takut kalau aku berhenti jadi yang paling perhatian, aku akan dilupakan.
Ternyata selama ini bukan ketulusan yang menggerakkanku.
Tapi rasa takut.
Psikolog Menjelaskan Ini Bisa Jadi Pola Attachment yang Cemas
Berdasarkan teori attachment yang dikembangkan John Bowlby dan diperluas oleh peneliti lain, seseorang dengan pola kelekatan cemas cenderung berusaha keras mempertahankan hubungan karena takut ditinggalkan.
Mereka memberi lebih, mengalah lebih, berusaha lebih, bukan semata karena kebaikan hati.
Tapi karena jauh di dalam diri mereka, ada keyakinan, “Kalau aku tidak berusaha, aku akan kehilangan orang ini.”
Aku mulai mengenali pola itu dalam diriku.
Aku terlalu takut kehilangan, sampai aku tidak pernah benar-benar bertanya, apakah hubungan ini seimbang.
Aku Mulai Menghitung, dan Hasilnya Menyakitkan
Aku coba mengingat, kapan terakhir kali seseorang menanyakan kabarku duluan.
Kapan terakhir kali seseorang mengingat hal kecil tentangku tanpa kuberi tahu.
Kapan terakhir kali aku merasa didengar tanpa harus memancing lebih dulu.
Jawabannya membuatku sedih.
Aku selalu ada untuk semua orang.
Tapi aku tidak yakin, apakah ada orang yang benar-benar ada untukku dengan cara yang sama.
Erich Fromm Menulis Tentang Cinta yang Sehat
Psikolog dan filsuf Erich Fromm, dalam tulisannya tentang cinta, menjelaskan bahwa memberi yang sehat bukan berarti mengorbankan diri sampai kosong.
Memberi yang sehat lahir dari kelimpahan, bukan dari rasa takut kehilangan.
Aku mulai memahami, aku selama ini memberi dari tempat yang kosong.
Aku memberi sampai tidak ada yang tersisa untuk diriku sendiri.
Padahal hubungan yang sehat seharusnya saling mengisi.
Bukan satu pihak terus menuang, sementara yang lain terus menerima.
Aku Belajar untuk Berhenti Sejenak dan Melihat Siapa yang Bertahan
Aku mulai bereksperimen kecil.
Aku berhenti selalu jadi yang pertama mengirim pesan.
Aku menunggu, melihat siapa yang benar-benar mencariku.
Rasanya menyakitkan.
Karena ternyata, beberapa hubungan yang kupikir dekat, ternyata hanya bertahan karena usahaku sendirian.
Tapi ada juga yang tetap ada, yang tetap bertanya, yang tetap mencari.
Dari situ aku belajar, aku tidak perlu mempertahankan semua hubungan dengan cara memaksa diri terus memberi.
Aku hanya perlu merawat yang memang saling memberi balik.
Aku Takut Terlihat Egois Kalau Aku Berhenti Memberi
Setiap kali aku berpikir untuk mengurangi usahaku dalam sebuah pertemanan, rasa bersalah langsung muncul.
Aku takut dianggap berubah.
Aku takut dianggap sombong, atau tidak peduli lagi.
Jadi aku terus memaksakan diri, terus mengirim pesan duluan, terus mengalah, meskipun dalam hati aku sudah lelah.
Aku baru sadar, aku terlalu takut pada penilaian orang lain sampai aku mengabaikan penilaianku sendiri terhadap diriku.
Aku lupa bahwa menjaga diriku sendiri bukan berarti aku berhenti peduli pada orang lain.
Aku hanya sedang belajar peduli dengan cara yang tidak menghabiskanku sendirian.
Aku Belajar Menentukan Batas dalam Pertemanan
Aku mulai mencoba hal kecil, tidak langsung membalas pesan tengah malam kalau aku sedang lelah.
Tidak langsung mengiyakan setiap ajakan meski aku sebenarnya butuh waktu sendiri.
Awalnya terasa canggung, seolah aku melanggar aturan tak tertulis yang selama ini kupegang.
Tapi aku melihat sesuatu yang menarik, pertemanan yang benar-benar tulus tidak runtuh hanya karena aku sesekali berkata tidak.
Justru pertemanan yang hanya bertahan karena aku terus mengalah, perlahan menunjukkan wajah aslinya ketika aku mulai punya batas.
Dari situ aku belajar, batas bukan tembok yang menjauhkan orang baik, batas adalah saringan yang menyisakan yang benar-benar peduli.
Aku Belajar Mengenali Pertemanan yang Bertahan Tanpa Aku Harus Memaksa
Setelah aku mulai mengurangi usahaku yang berlebihan, aku memperhatikan siapa saja yang tetap bertahan.
Ada yang perlahan menghilang, dan awalnya itu menyakitkan.
Tapi ada juga yang justru mulai bertanya kabar lebih sering, mengirim pesan tanpa kuminta, mengingat hal-hal kecil tentangku tanpa aku harus mengingatkan.
Aku baru sadar, selama ini aku terlalu sibuk menjaga semua orang sampai tidak sempat melihat siapa yang sebenarnya juga menjagaku.
Sekarang aku lebih tenang, karena aku tahu pertemanan yang tersisa bukan karena aku memaksakannya, tapi karena memang saling menginginkan.
Penutup
Aku masih belajar caranya memberi tanpa kehilangan diriku sendiri.
Masih belajar caranya percaya bahwa aku juga layak menerima, bukan hanya memberi.
Ketulusan tidak berarti aku harus terus berusaha sendirian.
Pertemanan yang sehat seharusnya membuatku merasa lebih penuh, bukan semakin kosong.
Aku sedang belajar menyayangi diriku dengan cara yang sama seperti aku menyayangi orang lain, dengan memastikan aku juga layak untuk diperjuangkan, bukan hanya menjadi yang memperjuangkan.
Aku juga masih belajar untuk tidak langsung merasa bersalah setiap kali aku mengutamakan diriku sendiri.
Itu bukan hal yang mudah dilepaskan begitu saja, tapi aku sedang berlatih, sedikit demi sedikit, setiap hari.
