Aku Menjauh Bukan Karena Aku Tidak Peduli, Tapi Karena Aku Terlalu Takut Kehilangan
Ada pola yang baru kusadari belakangan ini.
Setiap kali hubungan mulai terasa baik, aku mulai menjauh.
Bukan karena aku berhenti menyukai orang itu.
Tapi karena semakin baik hubungan itu terasa, semakin besar juga rasa takutku kehilangan.
Jadi aku mulai membalas pesan lebih lambat.
Aku mulai mencari alasan untuk sibuk.
Aku mulai menciptakan jarak, sebelum jarak itu diciptakan oleh mereka.
“Lebih baik aku yang pergi duluan, daripada aku menunggu ditinggalkan.”
Aku tidak pernah mengatakan ini pada siapa pun.
Tapi itulah yang sebenarnya terjadi di kepalaku.
Aku Menyebutnya Melindungi Diri, Padahal Aku Sedang Menghancurkan Sesuatu yang Baik
Aku selalu berpikir aku sedang berjaga-jaga.
Aku pikir, kalau aku menjauh duluan, rasa sakitnya tidak akan sebesar kalau aku ditinggalkan.
Tapi kenyataannya, aku tetap merasa sakit.
Bedanya, kali ini aku sendiri yang menghancurkan sesuatu yang sebenarnya baik.
Aku kehilangan orang-orang yang sebenarnya tidak berniat pergi.
Aku kehilangan kesempatan untuk melihat apakah hubungan itu bisa bertahan, karena aku sudah lebih dulu memutuskannya di kepalaku sendiri.
Aku Belajar Tentang Mengapa Aku Melakukan Ini
Psikolog Karen Horney menjelaskan bahwa salah satu cara seseorang melindungi diri dari rasa sakit emosional adalah dengan “menjauh dari orang lain”, menciptakan jarak sebagai bentuk pertahanan sebelum disakiti.
Ia menyebutnya sebagai strategi bertahan hidup yang terbentuk dari pengalaman awal, ketika kedekatan pernah terasa tidak aman.
Aku membaca itu dan merasa seperti sedang membaca peta dari kebiasaanku sendiri.
Aku tidak sedang bermasalah dengan orang-orang di sekitarku.
Aku sedang menjalankan sistem pertahanan lama, yang dulu mungkin memang menyelamatkanku, tapi sekarang justru menyakiti orang-orang yang sebenarnya baik.
Aku Mulai Melihat Berapa Banyak yang Sudah Kutinggalkan Lebih Dulu
Aku mulai mengingat kembali beberapa hubungan yang berakhir.
Ada yang benar-benar tidak cocok, itu wajar.
Tapi ada juga yang sebenarnya baik, orang yang sabar, yang konsisten, yang tidak melakukan kesalahan besar.
Aku yang menjauh duluan.
Aku yang mulai dingin tanpa alasan yang jelas bagi mereka.
Aku yang membuat mereka bingung, kenapa semuanya berubah begitu saja.
Aku baru sadar, aku bukan korban dalam semua cerita itu.
Di beberapa cerita, akulah yang pergi lebih dulu, tanpa memberi kesempatan pada hubungan itu untuk benar-benar diuji oleh waktu.
Aku Bertanya, Apa yang Sebenarnya Kutakutkan
Aku mulai jujur pada diriku sendiri.
Aku tidak takut pada orang yang baik padaku.
Aku takut pada momen ketika mereka berhenti baik padaku.
Aku takut pada saat kekecewaan itu datang, karena aku sudah pernah merasakannya sebelumnya, dan aku tidak ingin merasakannya lagi.
Jadi aku memilih untuk tidak pernah benar-benar membiarkan seseorang cukup dekat untuk bisa mengecewakanku.
Tapi itu artinya, aku juga tidak pernah membiarkan seseorang cukup dekat untuk benar-benar mencintaiku dengan utuh.
Aku Mulai Belajar Tinggal, Bukan Langsung Pergi
Aku mulai mencoba sesuatu yang berbeda.
Ketika rasa takut itu muncul, aku tidak langsung menjauh.
Aku mengenali dulu, ini rasa takut yang lama, bukan tanda bahaya yang nyata.
Aku memilih untuk tetap ada satu langkah lebih lama dari biasanya.
Aku memilih untuk mengatakan apa yang kurasakan, bukan menghilang tanpa penjelasan.
Ini sulit.
Karena menjauh terasa lebih aman daripada mengatakan, “aku takut kehilangan kamu.”
Tapi aku mulai percaya, keberanian untuk tinggal itu yang justru membangun hubungan yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.
Pola Ini Ternyata Tidak Hanya Muncul dalam Hubungan Asmara
Aku mulai menyadari, kebiasaan menjauh duluan ini juga muncul dalam pertemanan.
Ada beberapa teman baik yang perlahan kutinggalkan, bukan karena mereka melakukan kesalahan, tapi karena aku mulai merasa terlalu nyaman, dan kenyamanan itu terasa menakutkan.
Aku sering berhenti membalas pesan tanpa alasan jelas.
Aku sering menghindari acara kumpul, karena takut semakin dekat berarti semakin besar juga potensi kehilangan.
Menyadari ini membuatku sedih.
Karena berarti, pola ini bukan hanya merusak hubungan asmara, tapi juga menjauhkanku dari orang-orang yang sebenarnya ingin tetap ada di hidupku.
Ada Momen Aku Hampir Mengulanginya Lagi, Tapi Aku Berhenti
Beberapa waktu lalu, aku merasakan dorongan lama itu muncul.
Seseorang yang baik mulai dekat denganku, dan aku mulai menyiapkan alasan untuk menjauh.
Tapi kali ini aku berhenti sejenak.
Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku benar-benar ingin pergi, atau aku hanya takut.
Jawabannya jelas, aku hanya takut.
Jadi untuk pertama kalinya, aku memilih untuk tetap ada, meski jantungku berdebar kencang karena rasa asing dari keputusan itu.
Aku Belajar Mengatakan Rasa Takutku Alih-Alih Menyembunyikannya di Balik Jarak
Aku mulai mencoba sesuatu yang dulu tidak pernah kulakukan.
Ketika rasa takut kehilangan itu muncul, aku tidak langsung menjauh diam-diam.
Aku mengatakannya.
“Aku lagi takut kehilangan kamu, makanya aku jadi aneh belakangan ini.”
Kalimat itu terasa memalukan untuk diucapkan.
Tapi ternyata, mengatakannya jauh lebih membebaskan daripada memendamnya sambil pelan-pelan menghilang.
Orang yang benar-benar peduli, biasanya akan tetap ada mendengarkan, bukan pergi karena aku jujur tentang ketakutanku.
Penutup
Aku masih merasakan dorongan untuk menjauh setiap kali sesuatu terasa terlalu baik untuk bertahan.
Tapi sekarang aku tahu, dorongan itu bukan kebenaran.
Ia hanya kebiasaan lama yang mencoba melindungiku dari luka yang belum tentu akan datang.
Aku tidak harus menghancurkan sesuatu yang baik hanya karena aku takut kehilangannya nanti.
Tinggal dan tetap terbuka, meskipun menakutkan, adalah caranya aku belajar percaya lagi.
Aku ingin berhenti menjadi orang yang pergi lebih dulu, dan mulai menjadi orang yang berani tinggal, meskipun rasa takut itu masih ada di setiap langkahnya.
