Aku Bisa Menghabiskan Satu Jam Hanya untuk Menunggu Satu Balasan
Pesan sudah kukirim.
Centang biru muncul.
Lalu tidak ada apa-apa lagi.
Aku menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya.
Lima menit pertama masih tenang.
Menit kesepuluh, aku mulai bertanya-tanya.
Menit kedua puluh, aku sudah menyusun seratus kemungkinan di kepalaku, dan hampir semuanya buruk.
Aku Tidak Sedang Menunggu Balasan, Aku Sedang Menunggu Kepastian Bahwa Aku Masih Penting
Aku pikir yang membuatku gelisah adalah rasa penasaran.
Tapi semakin aku perhatikan, bukan itu.
Yang membuatku gelisah adalah keheningan itu sendiri.
Karena di dalam keheningan, aku selalu mengisi kekosongan itu dengan kemungkinan terburuk.
Mungkin dia bosan.
Mungkin dia sedang membicarakanku dengan orang lain.
Mungkin aku terlalu banyak bicara di pesan sebelumnya.
Mungkin dia sedang mencari alasan untuk menjauh.
Aku tidak sedang menunggu jawaban dari pesan itu.
Aku sedang menunggu jawaban dari pertanyaan yang jauh lebih besar.
“Apakah aku masih cukup penting untuk dibalas segera?”
Aku Sadar, Ini Tidak Hanya Terjadi dengan Satu Orang
Awalnya aku pikir ini hanya terjadi dengan orang yang aku sukai.
Tapi semakin aku perhatikan, pola yang sama muncul juga ketika menunggu balasan dari sahabat dekat, bahkan dari keluarga.
Semakin dekat seseorang denganku, semakin besar kecemasanku ketika mereka tidak segera membalas.
Aku hampir tidak pernah cemas menunggu balasan dari orang asing atau kenalan biasa.
Itu artinya, kecemasan ini bukan tentang pesan itu sendiri.
Ini tentang seberapa besar aku membutuhkan orang itu untuk tetap merasa baik-baik saja.
Aku Belajar Istilah yang Menjelaskan Kenapa Ini Terasa Seperti Hidup Matiku
Psikolog Sue Johnson, yang mengembangkan pendekatan terapi berbasis kelekatan emosional untuk pasangan, sering menjelaskan bahwa di balik keheningan yang terasa menyakitkan, sebenarnya ada satu pertanyaan sederhana yang terus kita ajukan tanpa sadar.
“Apakah kamu ada untukku? Apakah aku penting bagimu? Apakah aku bisa mengandalkanmu?”
Ia menyebutnya pertanyaan dasar dari setiap kelekatan yang berarti.
Aku membaca itu dan menyadari, itulah yang sebenarnya kucari setiap kali menatap layar menunggu balasan.
Bukan sekadar kata-kata balasannya.
Tapi kepastian bahwa aku masih ada dalam pikiran orang itu, bahwa aku masih penting bagi mereka, bahkan ketika mereka sedang sibuk dengan hal lain.
Begitu aku mengenali pertanyaan yang sebenarnya sedang kuajukan, rasa cemas itu terasa sedikit lebih masuk akal.
Bukan sesuatu yang harus kubuang.
Hanya sesuatu yang akhirnya kupahami.
Ternyata Ini Bukan Hanya Soal Cemas, Ini Soal Bagaimana Aku Belajar Merasa Aman
Psikolog John Bowlby, yang meneliti bagaimana manusia membentuk kelekatan sejak kecil, menjelaskan bahwa ketika sosok yang kita andalkan tidak merespons, muncul sesuatu yang disebut protest behavior — semacam reaksi cemas ketika kita merasa terputus dari orang yang penting bagi kita.
Pada anak kecil, itu terlihat jelas, seperti menangis ketika orang tua pergi dari ruangan.
Pada orang dewasa, bentuknya lebih halus, tapi sebenarnya sama.
Aku memeriksa layar berkali-kali.
Aku membaca ulang pesanku sendiri, mencari kesalahan.
Aku menyiapkan skenario terburuk agar setidaknya aku sudah siap jika itu benar terjadi.
Itu bukan aku yang berlebihan.
Itu sistem kelekatanku yang sedang menyala, mencari kepastian bahwa hubungan ini masih aman.
Aku Baru Sadar Kenapa Aku Tidak Bisa Berhenti Mengecek Layar
Ada bagian lain dari kebiasaan ini yang lebih rumit dari sekadar rasa cemas.
Psikolog B.F. Skinner, dalam penelitiannya tentang perilaku dan penguatan, menemukan bahwa hadiah yang datang secara tidak terduga justru membuat sebuah kebiasaan semakin sulit dihentikan, dibandingkan hadiah yang datang secara teratur.
Ia menyebutnya penguatan tak menentu.
Kadang pesanku dibalas cepat.
Kadang butuh berjam-jam.
Kadang tidak dibalas sama sekali.
Karena aku tidak pernah tahu kapan balasan itu akan datang, aku terus mengecek, berharap kali ini adalah saat yang tepat.
Sama seperti seseorang yang terus menarik tuas mesin, berharap kali ini akan menang.
Aku bukan sedang menunggu dengan sabar.
Aku sedang terjebak dalam pola yang membuatku terus kembali, meskipun itu melelahkan.
Aku Menyalahkan Diriku Sendiri Sebelum Ada Alasan untuk Disalahkan
Yang paling melelahkan dari kebiasaan ini bukan menunggunya.
Tapi bagaimana aku memperlakukan diriku sendiri selama menunggu.
Aku membaca ulang pesanku dan mulai mengoreksi.
“Seharusnya aku tidak usah kirim pesan sepanjang itu.”
“Seharusnya aku tidak usah terlalu antusias.”
“Seharusnya aku diam saja tadi.”
Aku menghukum diriku sendiri untuk sesuatu yang bahkan belum terbukti menjadi masalah.
Aku sudah menjatuhkan vonis sebelum ada bukti apa pun.
Dan anehnya, aku melakukan itu bukan karena aku benar-benar percaya aku salah.
Tapi karena rasanya lebih aman menyalahkan diriku sendiri dulu, daripada dikejutkan oleh penolakan yang tidak kuduga.
Aku Mulai Belajar Meletakkan Ponsel, Bukan karena Aku Tidak Peduli
Aku dulu mengira, jika aku berhenti mengecek pesan, artinya aku tidak peduli dengan orang itu.
Sekarang aku mengerti itu tidak benar.
Meletakkan ponsel bukan berarti aku berhenti peduli.
Itu berarti aku berhenti membiarkan rasa amanku bergantung pada waktu balasan seseorang.
Aku belajar mengatakan pada diriku sendiri,
“Mungkin dia sedang sibuk. Itu tidak selalu tentang aku.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi butuh waktu lama untuk benar-benar kupercaya.
Penutup
Aku masih akan merasa gelisah kadang-kadang ketika pesan belum dibalas.
Aku tidak yakin perasaan itu akan hilang sepenuhnya.
Tapi sekarang aku tahu dari mana perasaan itu berasal, dan itu membuatnya terasa lebih ringan.
Keheningan tidak selalu berarti penolakan.
Menunggu tidak selalu berarti sesuatu sedang salah.
Aku sedang belajar untuk tidak lagi menyiapkan seratus skenario terburuk sebelum satu balasan datang.
Karena kebanyakan dari skenario itu tidak pernah benar-benar terjadi.
Dan aku terlalu lama membiarkan pikiran itu mencuri ketenanganku, untuk sesuatu yang biasanya berakhir baik-baik saja.
