← Semua artikel

Aku Terlalu Sibuk Membuat Semua Orang Senang Sampai Lupa Bertanya Apa yang Aku Mau

13 Oktober 2026·Toro

Aku Tidak Sedang Baik Hati Setiap Waktu, Aku Hanya Takut Apa yang Terjadi Kalau Aku Mengecewakan Seseorang

Setiap kali seseorang mengajakku melakukan sesuatu, jawabanku hampir selalu sama.

“Boleh, terserah kamu saja.”

Setiap kali ada perbedaan pendapat, aku yang pertama mengalah.

Setiap kali harus memilih antara keinginanku dan kenyamanan orang lain, aku selalu memilih kenyamanan orang lain.

Aku pikir aku sedang menjadi orang yang baik.

Tapi belakangan aku mulai bertanya, apakah ini benar-benar kebaikan, atau ini adalah ketakutan yang menyamar menjadi kebaikan.


Aku Selalu Tahu Apa yang Diinginkan Orang Lain

Aku bisa dengan cepat membaca suasana hati seseorang.

Aku tahu kapan harus diam, kapan harus setuju, dan kapan harus mengalah supaya suasana tetap nyaman.

Tapi ketika ditanya, “Kamu sendiri maunya bagaimana?”

Aku sering terdiam cukup lama.

Bukan karena aku tidak punya keinginan.

Tapi karena aku sudah terlalu lama tidak bertanya pada diriku sendiri.

Semua energi yang seharusnya kupakai untuk mengenali diriku, kupakai untuk memastikan orang lain tidak kecewa.


Donald Winnicott dan Gagasan tentang True Self dan False Self

Psikoanalis Donald Winnicott memperkenalkan istilah true self dan false self.

True self adalah bagian diri yang spontan, jujur, dan otentik.

False self adalah bagian diri yang terbentuk untuk beradaptasi, menyenangkan orang lain, dan menghindari penolakan.

Winnicott menjelaskan bahwa false self sering terbentuk sejak kecil, ketika seseorang belajar bahwa menunjukkan diri yang asli tidak selalu diterima dengan baik.

Aku mulai bertanya, sejak kapan aku belajar bahwa lebih aman menjadi versi yang menyenangkan orang lain, dibandingkan menjadi diriku yang sebenarnya?

Mungkin sejak aku belajar bahwa pendapatku sering dianggap kurang penting.

Mungkin sejak aku belajar bahwa mengalah selalu lebih dihargai daripada mempertahankan pendapat sendiri.


Aku Takut Mengecewakan, Padahal Aku Sendiri Sering Kecewa

Aku begitu takut membuat orang lain kecewa.

Tapi aku jarang memikirkan berapa kali aku mengecewakan diriku sendiri demi menghindari itu.

Aku pernah menyetujui rencana yang sebenarnya tidak kuinginkan.

Aku pernah diam saat sebenarnya ingin bicara.

Aku pernah tersenyum saat sebenarnya ingin menangis.

Setiap kali itu terjadi, aku berhasil menjaga suasana tetap nyaman untuk orang lain.

Tapi aku juga kehilangan sedikit demi sedikit bagian dari diriku sendiri.


Brené Brown tentang Keberanian untuk Menjadi Diri Sendiri

Peneliti Brené Brown banyak menulis tentang keberanian, kerentanan, dan rasa memiliki.

Ia menjelaskan bahwa rasa memiliki yang sejati tidak pernah mengharuskan seseorang mengubah dirinya untuk diterima.

Justru sebaliknya, rasa memiliki yang sejati berarti bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya, dan tetap diterima.

Aku mulai memahami, kalau aku hanya bisa diterima ketika terus menyenangkan orang lain, itu bukan penerimaan yang sebenarnya.

Itu hanya penerimaan terhadap versi diriku yang sudah kubentuk agar mudah untuk mereka.


Aku Mulai Berlatih Bertanya pada Diriku Sendiri Lebih Dulu

Aku mulai dari pertanyaan kecil.

Sebelum langsung mengiyakan sesuatu, aku mencoba berhenti sejenak.

“Apakah aku benar-benar ingin ini, atau aku hanya tidak ingin membuat mereka kecewa?”

Kadang jawabannya tetap sama, aku memang ingin melakukannya.

Tapi kadang aku menyadari, aku hanya sedang mengulang pola lama, menyetujui sesuatu demi menghindari ketegangan.

Itu bukan hal yang mudah untuk diubah dalam waktu singkat.

Tapi setidaknya sekarang aku mulai bertanya, bukan langsung mengalah.


Aku Menyamakan Kasih Sayang dengan Persetujuan

Ada kekeliruan yang lama sekali kupercaya tanpa sadar.

Aku pikir, semakin aku setuju dengan seseorang, semakin mereka akan menyayangiku.

Jadi aku mengangguk pada rencana yang tidak kuinginkan.

Aku tertawa pada lelucon yang tidak lucu.

Aku ikut pendapat orang lain, meski di dalam hati aku berpikir sebaliknya.

Aku pikir persetujuan adalah bentuk cinta yang paling aman untuk kutawarkan.

Tapi lama-lama aku sadar, orang-orang tidak benar-benar mengenalku dari semua persetujuan itu.

Mereka hanya mengenal bayangan dariku yang selalu bilang iya.


Aku Mulai Belajar Bahwa Menolak Bukan Berarti Tidak Baik

Penulis dan terapis Harriet Lerner, dalam tulisannya tentang hubungan dan batasan diri, menjelaskan bahwa kemampuan menyatakan ketidaksetujuan dengan tenang justru menjadi tanda hubungan yang sehat, bukan tanda hubungan yang mulai retak.

Aku mulai mencoba hal kecil.

Menolak ajakan ketika memang sedang lelah, tanpa menambahkan lima alasan supaya terdengar tidak menyakiti siapa pun.

Mengatakan, “Aku nggak setuju,” tanpa buru-buru minta maaf setelahnya.

Rasanya aneh di awal, seperti melakukan sesuatu yang salah.

Tapi perlahan aku sadar, aku tidak sedang menyakiti siapa pun.

Aku hanya sedang berhenti menyakiti diriku sendiri demi kenyamanan orang lain.


Aku Mulai Bertanya pada Diriku Setiap Pagi

Aku menambahkan satu kebiasaan kecil di pagi hari.

Sebelum memikirkan apa yang diharapkan orang lain dariku, aku bertanya lebih dulu, “Hari ini aku mau apa?”

Kadang jawabannya sederhana, seperti ingin makan sesuatu yang kusuka, atau ingin punya waktu sendirian sebentar.

Kadang jawabannya lebih dalam, tentang arah yang benar-benar kuinginkan.

Pertanyaan sesederhana itu, ternyata butuh waktu lama untuk bisa kujawab dengan jujur.

Tapi setiap kali aku bertanya, aku merasa sedikit lebih dekat dengan diriku sendiri, bukan dengan bayangan diri yang selama ini kubentuk untuk orang lain.

Penutup

Aku masih dalam proses belajar untuk lebih sering memikirkan keinginanku sendiri.

Masih ada rasa bersalah setiap kali aku memilih diriku terlebih dahulu.

Tapi sekarang aku punya satu kalimat yang kusimpan sebagai pengingat:

Menyenangkan semua orang bukan tujuan hidup. Menjadi jujur pada diri sendiri, itu yang seharusnya kukejar.

Aku boleh baik hati. Tapi aku juga berhak punya keinginan yang layak untuk didengar, termasuk oleh diriku sendiri.

Aku tidak harus terus menjadi yang paling mudah untuk semua orang.

Aku juga berhak menjadi seseorang yang jujur pada dirinya sendiri.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya