Aku Hidup di Masa Depan yang Belum Tentu Ada
Aku duduk di sini, hari ini, baik-baik saja.
Tapi kepalaku sudah pergi jauh ke depan.
Memikirkan pekerjaan yang mungkin gagal.
Memikirkan hubungan yang mungkin berakhir.
Memikirkan masa tua yang mungkin sendirian.
Semua itu belum terjadi.
Sebagian besar mungkin tidak akan pernah terjadi.
Tapi aku sudah merasakan beratnya, seolah semua itu sedang terjadi sekarang.
Aku Sudah Kalah dari Sesuatu yang Belum Kumulai
Ada ujian yang belum kuikuti, tapi aku sudah membayangkan skenario gagal berulang kali.
Ada percakapan yang belum kumulai, tapi aku sudah menyusun bagaimana itu akan berantakan.
Ada rencana yang belum kujalankan, tapi aku sudah merasa lelah duluan, karena di kepalaku, aku sudah mengalami semua kemungkinan buruknya.
Aku heran kenapa aku selalu merasa lelah sebelum benar-benar mencoba.
Ternyata bukan karena aku malas.
Tapi karena aku sudah menjalani kegagalan itu, berkali-kali, di dalam kepala, sebelum kenyataannya bahkan dimulai.
Ternyata Ini Punya Nama, dan Aku Tidak Sendirian Mengalaminya
Psikiater Aaron Beck, yang mengembangkan banyak pemahaman tentang bagaimana pikiran memengaruhi perasaan, menyebut kebiasaan ini sebagai fortune telling — semacam distorsi berpikir di mana seseorang meyakini sesuatu yang buruk akan terjadi, tanpa bukti nyata, seolah dia bisa melihat masa depan.
Aku membaca itu dan tertawa kecil, getir.
Karena memang begitu yang kulakukan.
Aku seperti peramal untuk diriku sendiri, tapi selalu meramalkan yang terburuk.
Tidak pernah sekali pun aku membayangkan semuanya berjalan baik.
Selalu yang paling buruk, seolah itu yang paling realistis.
Ketakutan Ini Membuatku Berhenti Mencoba, Bukan Membuatku Lebih Siap
Aku baru sadar, ada harga yang harus kubayar dari kebiasaan ini.
Aku menunda mengirim lamaran kerja karena sudah membayangkan penolakan.
Aku menunda memulai percakapan penting karena sudah membayangkan itu akan berantakan.
Aku menunda banyak hal, bukan karena aku malas, tapi karena di kepalaku, aku sudah gagal duluan.
Aku kehilangan banyak kesempatan, bukan karena kesempatan itu benar-benar buruk, tapi karena aku terlalu sibuk hidup di kegagalan yang belum tentu terjadi, sampai lupa untuk benar-benar mencoba.
Ketakutan yang kukira melindungiku, ternyata diam-diam mengambil banyak hal dariku.
Aku Mulai Belajar Duduk dengan Ketidakpastian, Bukan Melawannya
Jon Kabat-Zinn, yang memperkenalkan pendekatan kesadaran penuh ke dunia medis modern, sering mengingatkan bahwa sebagian besar penderitaan kita datang bukan dari apa yang sedang terjadi, tapi dari perlawanan kita terhadap apa yang belum terjadi atau tidak bisa kita kendalikan.
Aku mencoba mempraktikkannya dengan caraku sendiri.
Ketika pikiranku melompat ke masa depan yang menakutkan, aku mencoba tidak melawannya atau mendorongnya pergi.
Aku hanya mengakui, “Aku sedang cemas tentang sesuatu yang belum terjadi.”
Lalu aku membiarkan diriku duduk dengan ketidaknyamanan itu sebentar, tanpa harus segera mencari jawaban atau kepastian.
Rasanya aneh pada awalnya, seperti membiarkan sesuatu yang belum selesai tetap menggantung.
Tapi lambat laun, aku belajar bahwa aku bisa bertahan dengan ketidakpastian, tanpa harus mengisinya dengan bayangan terburuk.
Ketidakpastian bukan musuh yang harus segera kuselesaikan.
Ia hanya bagian dari hidup yang belum sempat kubuat damai dengannya.
Aku Kira Aku Sedang Berjaga-Jaga, Padahal Aku Sedang Menyiksa Diri Sendiri Lebih Dulu
Aku selalu berpikir, kalau aku sudah membayangkan yang terburuk, aku akan lebih siap jika itu terjadi.
Tapi kenyataannya, aku tidak pernah benar-benar siap.
Aku hanya menderita dua kali.
Sekali di dalam kepala, membayangkan kegagalan itu berkali-kali sebelum terjadi.
Dan sekali lagi jika kenyataannya benar-benar terjadi.
Psikolog Martin Seligman, yang meneliti tentang harapan dan keputusasaan, menemukan bahwa cara seseorang menjelaskan kemungkinan buruk kepada dirinya sendiri bisa membentuk apakah ia merasa berdaya atau tidak berdaya menghadapi hidup.
Ia menyebutnya gaya penjelasan yang pesimistis, ketika seseorang selalu meyakini hal buruk akan terjadi, akan bertahan lama, dan akan memengaruhi segalanya.
Aku menyadari, aku sudah lama hidup dengan gaya berpikir seperti itu, tanpa pernah menyadarinya sebagai sebuah pola yang bisa diubah.
Aku Lupa Bahwa Kemungkinan Baik Juga Ada, Bukan Hanya Kemungkinan Buruk
Anehnya, aku jarang membayangkan kemungkinan semuanya berjalan lancar.
Aku jarang membayangkan diriku berhasil, disambut baik, atau ternyata semuanya baik-baik saja.
Padahal kemungkinan itu sama nyatanya dengan kemungkinan buruk yang selalu kubayangkan.
Aku hanya memilih untuk tidak mempercayainya.
Seolah percaya pada kemungkinan baik itu berisiko, dan lebih aman untuk selalu bersiap pada yang terburuk.
Tapi bersiap seperti apa sebenarnya?
Aku tidak pernah benar-benar bersiap.
Aku hanya menderita lebih awal.
Aku Mulai Belajar Bertanya, “Apa yang Sebenarnya Kutahu Sekarang?”
Aku mencoba kebiasaan baru.
Setiap kali pikiranku melompat ke masa depan yang menakutkan, aku mencoba bertanya pada diriku sendiri.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang, hari ini?”
Biasanya jawabannya sederhana.
Aku baik-baik saja sekarang.
Belum ada yang gagal.
Belum ada yang hilang.
Pertanyaan itu tidak menghilangkan kekhawatiranku sepenuhnya.
Tapi setidaknya menarikku kembali, dari masa depan yang belum tentu ada, ke hari ini, yang sedang benar-benar kujalani.
Penutup
Aku masih sering membayangkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi.
Kebiasaan itu tidak hilang begitu saja hanya karena aku sekarang memahaminya.
Tapi sekarang, setiap kali itu muncul, aku bisa mengenalinya.
Membayangkan yang terburuk bukan bentuk persiapan, itu bentuk penderitaan yang datang lebih awal.
Masa depan yang kutakuti belum tentu akan terjadi seperti yang kubayangkan.
Aku sedang belajar untuk tinggal di hari ini sedikit lebih lama, sebelum pikiranku buru-buru lari ke masa depan yang belum tentu ada.
