← Semua artikel

Kenapa Menerima Diri Sendiri Justru Terasa Lebih Sulit daripada Berusaha Mengubah Diri?

17 Oktober 2026·Toro

Banyak orang menghabiskan bertahun-tahun mencoba memperbaiki diri sebelum merasa layak untuk diterima, termasuk oleh dirinya sendiri.

Psikolog klinis Dr. Tara Brach, dalam bukunya Radical Acceptance (2003), menyebut kondisi ini sebagai “trance of unworthiness” — semacam kondisi tidak sadar di mana seseorang meyakini dirinya pada dasarnya kurang, cacat, atau tidak cukup baik.

Dan menurut Brach, sebelum keyakinan itu disadari, seseorang bisa terus berusaha membuktikan dirinya layak, tanpa pernah benar-benar sampai pada perasaan cukup.


Trance yang Tidak Disadari

Brach menjelaskan bahwa “trance” ini biasanya terbentuk sejak kecil, dari pengalaman merasa tidak cukup dicintai, dibandingkan, atau dikritik.

Yang membuatnya sulit dikenali adalah karena keyakinan ini terasa seperti kebenaran, bukan sekadar satu sudut pandang.

Seseorang tidak berpikir “aku sedang meyakini bahwa aku tidak berharga”.

Ia hanya merasa, begitu saja, bahwa dirinya memang kurang — dan keyakinan itu mewarnai caranya melihat setiap kegagalan, penolakan, atau bahkan pujian yang diterimanya.


Dua Sayap Penerimaan Radikal: Mindfulness dan Compassion

Brach menggabungkan psikologi Barat dengan praktik mindfulness dari tradisi Buddhis.

Ia menjelaskan penerimaan radikal terdiri dari dua elemen yang bekerja bersama.

Pertama, mindfulness — kemampuan untuk menyadari apa yang sedang dirasakan tanpa buru-buru menghakimi atau menghindarinya.

Kedua, compassion — sikap lembut terhadap diri sendiri saat menghadapi rasa sakit, alih-alih menghukum diri karena merasakannya.

Menurut Brach, kebanyakan orang memiliki salah satu tanpa yang lain: seseorang bisa sangat sadar akan rasa sakitnya tapi tetap keras terhadap diri sendiri, atau sebaliknya, berusaha bersikap baik pada diri sendiri tanpa benar-benar menghadapi apa yang sebenarnya dirasakan.


Menerima Bukan Berarti Menyerah

Salah satu kesalahpahaman umum tentang penerimaan adalah menganggapnya sama dengan pasrah atau berhenti berusaha.

Brach membantah ini.

Menurutnya, penerimaan radikal justru menjadi dasar yang lebih kuat untuk perubahan, dibandingkan dengan penolakan diri.

Seseorang yang terus-menerus menyalahkan atau menolak dirinya sendiri biasanya bertindak dari rasa takut atau malu — motivasi yang melelahkan dan sulit bertahan lama.

Sedangkan seseorang yang bisa menerima keadaannya saat ini, termasuk kekurangannya, lebih mungkin bertindak dari tempat yang lebih stabil, bukan dari upaya membuktikan diri.


Momen Kecil Sehari-hari Tempat Trance Ini Muncul

Brach memberi banyak contoh kecil dari kehidupan sehari-hari: rasa cemas sebelum mengirim pesan penting, kebiasaan meminta maaf berlebihan meski tidak melakukan kesalahan, atau kesulitan menerima pujian tanpa langsung menepisnya.

Momen-momen kecil ini, menurutnya, adalah tempat trance itu paling sering muncul — bukan hanya dalam krisis besar, tapi dalam interaksi biasa yang berulang setiap hari.

Mengenali momen-momen ini adalah langkah pertama sebelum bisa mempraktikkan penerimaan yang lebih sadar.


Praktik Sederhana yang Ditawarkan Buku Ini

Brach memperkenalkan latihan bernama RAIN — Recognize (mengenali apa yang sedang dirasakan), Allow (mengizinkan perasaan itu ada tanpa buru-buru mengubahnya), Investigate (menyelidiki dengan penasaran, bukan menghakimi), dan Nurture (memberi diri sendiri kehangatan atau dukungan).

Latihan ini dirancang sebagai cara sederhana untuk mempraktikkan penerimaan radikal dalam momen sehari-hari, bukan hanya konsep abstrak.

Ia menekankan, ini bukan proses sekali jadi, tapi latihan yang perlu diulang, terutama pada momen ketika rasa tidak cukup itu muncul paling kuat.


Penerimaan sebagai Proses, Bukan Tujuan Akhir

Brach mengingatkan bahwa penerimaan radikal bukan kondisi yang sekali dicapai lalu selesai selamanya.

Trance rasa tidak berharga bisa muncul kembali, terutama di masa-masa sulit atau saat menghadapi kritik.

Yang berubah bukan bahwa trance itu tidak pernah muncul lagi, tapi seberapa cepat seseorang bisa mengenalinya dan kembali pada sikap lembut terhadap diri sendiri, dibandingkan sebelum ia mengenal konsep ini sama sekali.



Bukan Sama dengan Memanjakan Diri

Kritik yang sering muncul terhadap gagasan penerimaan diri adalah anggapan bahwa ini sekadar cara halus untuk memaafkan diri sendiri tanpa batas, atau berhenti punya standar.

Brach membantah ini secara langsung.

Compassion, dalam penerimaan radikal, bukan berarti membenarkan setiap tindakan atau berhenti bertanggung jawab.

Justru sebaliknya: seseorang yang bisa menerima dirinya dengan lembut biasanya lebih jujur mengakui kesalahannya, karena tidak perlu menghabiskan energi untuk mempertahankan citra diri yang sempurna.

Yang dihindari bukan tanggung jawab, melainkan kebiasaan menghukum diri sendiri secara berlebihan sampai lupa bahwa tujuan akhirnya adalah tumbuh, bukan sekadar merasa cukup buruk atas kesalahan yang sudah terjadi.


Referensi

Judul buku: Radical Acceptance: Embracing Your Life With the Heart of a Buddha
Penulis: Dr. Tara Brach (2003)

Buku ini menggabungkan psikologi klinis Barat dengan praktik mindfulness dari tradisi Buddhis, menawarkan pendekatan penerimaan diri sebagai dasar penyembuhan emosional, lengkap dengan latihan praktis bernama RAIN untuk diterapkan sehari-hari.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya