Pernahkah Kamu Bertanya-Tanya Kenapa Pola yang Sama Selalu Terulang dalam Hubunganmu?
Ada orang yang begitu dekat dengan pasangan langsung merasa lega.
Ada juga yang begitu dekat justru mulai merasa sesak, ingin ruang, ingin menjauh sedikit.
Dan ada yang tenang-tenang saja, tidak terlalu cemas, tidak terlalu ingin kabur.
Buku Attached karya psikiater Amir Levine dan psikolog Rachel Heller mencoba menjelaskan kenapa pola-pola ini begitu konsisten, bukan kebetulan, dan bukan salah satu pihak saja yang “kurang dewasa”.
Tiga Gaya Attachment yang Dijelaskan dalam Buku Ini
Levine dan Heller membagi gaya keterikatan orang dewasa dalam hubungan romantis menjadi tiga kategori utama: anxious (cemas), avoidant (menghindar), dan secure (aman).
Orang dengan gaya cemas cenderung sangat peka terhadap tanda-tanda penolakan, mudah khawatir pasangannya akan pergi, dan sering mencari kepastian berulang kali.
Orang dengan gaya menghindar cenderung merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang terlalu dalam, lebih memilih kemandirian, dan sering menjaga jarak begitu hubungan mulai terasa serius.
Orang dengan gaya aman cenderung nyaman dengan keintiman sekaligus nyaman dengan ruang pribadi, tidak terlalu cemas soal komitmen, dan bisa berkomunikasi kebutuhannya secara langsung.
Buku ini menekankan bahwa gaya-gaya ini bukan tipe kepribadian yang tetap selamanya, melainkan pola respons yang bisa berubah seiring pengalaman dan hubungan yang sehat.
Akar Teorinya Bukan dari Buku Ini Sendiri
Levine dan Heller mengadaptasi kerangka besar yang sudah lebih dulu diteliti oleh psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth pada pertengahan abad ke-20, yang awalnya meneliti ikatan antara bayi dan pengasuhnya.
Ainsworth, lewat eksperimen yang dikenal sebagai Strange Situation, mengamati bagaimana bayi bereaksi ketika ditinggal sebentar oleh ibunya, lalu bagaimana reaksi mereka saat sang ibu kembali.
Dari situ muncul kategori serupa: bayi yang aman, bayi yang cemas, dan bayi yang menghindar.
Yang dilakukan Attached adalah menerjemahkan kerangka ini ke dalam konteks hubungan romantis orang dewasa — bahwa cara kita dulu diasuh dan cara kita membangun kedekatan di masa kecil ikut membentuk cara kita mencintai saat dewasa.
Kenapa Pasangan Cemas dan Penghindar Sering Saling Tertarik
Salah satu bagian paling banyak dibicarakan dari buku ini adalah pengamatan bahwa orang bergaya cemas dan orang bergaya menghindar sering kali justru saling tertarik dan berakhir berpasangan.
Levine dan Heller menyebut dinamika ini sebagai siklus yang saling memperkuat: semakin pihak cemas mengejar kepastian, semakin pihak penghindar merasa terkurung dan menjauh.
Semakin pihak penghindar menjauh, semakin pihak cemas merasa harus mengejar lebih keras untuk merasa aman.
Pola ini bisa berulang bertahun-tahun tanpa disadari sebagai pola, karena masing-masing pihak merasa hanya bereaksi wajar terhadap perilaku pasangannya.
Bagaimana Mengenali Polamu Sendiri
Buku ini menyertakan semacam daftar pertanyaan reflektif untuk membantu pembaca mengenali kecenderungan gayanya sendiri — bukan untuk melabeli diri secara kaku, tapi untuk mulai memahami reaksi-reaksi yang selama ini terasa otomatis.
Beberapa pertanyaan sederhana yang bisa direnungkan: apakah kamu sering memikirkan ulang pesan yang belum dibalas pasangan? Apakah kamu merasa lega ketika pasangan memberi ruang, atau justru merasa itu tanda ada yang salah? Apakah kamu lebih nyaman menunda obrolan berat, atau justru ingin segera menyelesaikannya saat itu juga?
Levine dan Heller menekankan bahwa mengenali gaya ini bukan untuk mencari pembenaran, melainkan langkah pertama untuk memilih respons yang lebih sadar, bukan sekadar refleks lama.
Menuju Gaya yang Lebih Aman
Salah satu pesan penting buku ini: gaya cemas dan menghindar bukan vonis permanen.
Levine dan Heller menjelaskan konsep earned secure attachment — gaya aman yang didapat bukan dari masa kecil yang sempurna, tapi dari pengalaman hubungan yang konsisten, jujur, dan saling responsif di masa dewasa.
Dengan kata lain, seseorang yang tumbuh dengan pola cemas atau menghindar tetap bisa belajar merasa aman dalam hubungan, asalkan mendapat pengalaman relasi yang cukup konsisten untuk menantang pola lamanya.
Gaya Cemas dan Menghindar Bukan Berarti “Rusak”
Salah satu hal yang paling sering disalahpahami dari kerangka ini adalah anggapan bahwa gaya cemas atau menghindar berarti ada yang “salah” dengan seseorang, dan hanya gaya aman yang dianggap sehat.
Levine dan Heller justru menegaskan sebaliknya — ketiga gaya ini adalah strategi adaptif yang dulu pernah masuk akal, dibentuk dari pengalaman relasi sebelumnya, bukan cacat kepribadian yang permanen.
Gaya cemas bisa terbentuk dari pengasuhan yang tidak konsisten — kadang sangat responsif, kadang mengabaikan — sehingga anak belajar bahwa kedekatan harus terus diperjuangkan dan dipastikan berulang kali.
Gaya menghindar bisa terbentuk dari pengasuhan yang mengajarkan kemandirian berlebihan sejak dini, di mana ekspresi kebutuhan emosional jarang direspons, sehingga anak belajar untuk mengandalkan diri sendiri dan menjaga jarak sebagai cara bertahan.
Memahami asal-usul ini penting, karena ia mengubah pertanyaan dari “Kenapa aku selalu begini?” menjadi “Pengalaman apa yang dulu mengajariku bahwa ini caranya bertahan?” — pertanyaan yang menurut Levine dan Heller jauh lebih membuka ruang untuk berubah.
Referensi
Judul buku: Attached: The New Science of Adult Attachment and How It Can Help You Find—and Keep—Love
Penulis: Amir Levine, M.D. dan Rachel S. F. Heller, Ph.D.
Buku ini membahas bagaimana tiga gaya keterikatan (cemas, menghindar, aman) memengaruhi cara orang dewasa membangun hubungan romantis, berdasarkan adaptasi teori attachment klasik.
Kerangka dasarnya berakar dari penelitian John Bowlby dan Mary Ainsworth tentang ikatan anak dan pengasuh, yang kemudian diperluas oleh banyak peneliti hubungan dewasa dalam beberapa dekade setelahnya.
