Pernahkah kamu merasa jantung berdebar kencang tanpa alasan yang jelas, padahal secara sadar tidak ada bahaya apa pun di depan mata?
Atau tiba-tiba tubuh menegang saat mendengar nada suara tertentu, meski kamu tidak benar-benar mengingat kenapa.
Psikiater Bessel van der Kolk, dalam bukunya The Body Keeps the Score (2014), menjelaskan bahwa reaksi semacam ini bukan kebetulan.
Trauma, menurutnya, tidak hanya tersimpan sebagai ingatan di kepala.
Trauma tersimpan di dalam tubuh.
Trauma Bukan Sekadar Cerita yang Bisa Diceritakan Ulang
Selama puluhan tahun, terapi bicara (talk therapy) menjadi pendekatan utama untuk mengatasi trauma.
Idenya sederhana: ceritakan apa yang terjadi, pahami, lalu selesai.
Namun van der Kolk, lewat pengalamannya bertahun-tahun menangani veteran perang dan penyintas kekerasan, menemukan sesuatu yang berbeda.
Banyak pasiennya bisa menceritakan detail traumanya dengan tenang.
Tapi tubuh mereka tetap bereaksi seolah bahaya itu masih ada.
Jantung berdebar. Otot menegang. Napas memendek.
Van der Kolk menyimpulkan bahwa otak rasional bisa memahami bahwa bahaya sudah lewat, tapi bagian otak yang lebih primitif — sistem yang mengatur respons bertahan hidup — belum tentu ikut percaya.
Sistem Saraf yang Terjebak dalam Mode Siaga
Buku ini banyak merujuk pada penelitian tentang sistem saraf otonom, termasuk teori polyvagal yang dikembangkan oleh Dr. Stephen Porges.
Secara sederhana, tubuh manusia punya semacam “detektor bahaya” otomatis yang bekerja jauh lebih cepat daripada pikiran sadar.
Ketika seseorang pernah mengalami peristiwa yang sangat mengancam, detektor ini bisa menjadi terlalu sensitif.
Ia mulai membunyikan alarm untuk hal-hal yang sebenarnya tidak berbahaya: suara keras, nada marah, bahkan kedekatan fisik.
Bukan karena orang tersebut lemah atau berlebihan.
Tapi karena sistem yang seharusnya melindungi justru terjebak dalam mode siaga yang tidak pernah benar-benar dimatikan.
Kenapa Trauma Sulit Diselesaikan Hanya dengan Berpikir
Salah satu titik penting dalam buku ini adalah argumen bahwa trauma tidak bisa diselesaikan hanya lewat logika.
Seseorang bisa tahu, secara rasional, bahwa dirinya sekarang aman.
Tapi pengetahuan itu tidak otomatis mematikan reaksi tubuh yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.
Van der Kolk karena itu mendukung pendekatan yang melibatkan tubuh secara langsung, bukan hanya pikiran — seperti yoga, latihan pernapasan, gerakan berirama, dan terapi berbasis sensasi tubuh (somatic experiencing).
Pendekatan-pendekatan ini bertujuan membantu sistem saraf belajar ulang bahwa saat ini benar-benar aman, bukan lewat kata-kata, tapi lewat pengalaman tubuh yang berulang dan konsisten.
Bahasa Baru untuk Memahami Reaksi Diri Sendiri
Salah satu kontribusi penting buku ini adalah memberi pembaca kosakata baru untuk memahami dirinya sendiri.
Alih-alih bertanya “kenapa aku selalu bereaksi berlebihan”, seseorang bisa mulai bertanya “bagian tubuhku yang mana yang sedang merasa terancam sekarang”.
Pergeseran kecil ini penting, karena ia mengubah rasa malu menjadi rasa ingin tahu.
Van der Kolk juga membahas bagaimana banyak pasiennya merasa lega hanya dengan mengetahui bahwa reaksi tubuh mereka punya penjelasan, bukan sekadar tanda bahwa ada yang “salah” dengan diri mereka.
Bagaimana Ini Bisa Dikenali dalam Keseharian
Kamu tidak perlu pernah mengalami peristiwa sebesar perang atau bencana untuk merasakan pola ini.
Trauma, dalam pengertian buku ini, bisa juga berasal dari pengalaman yang berulang: dibesarkan dalam rumah yang penuh konflik, terus-menerus diabaikan, atau dituntut untuk selalu waspada sejak kecil.
Tanda-tanda yang bisa dikenali antara lain: mudah kaget, sulit rileks meski tidak ada ancaman nyata, atau tubuh yang tiba-tiba tegang saat mengingat sesuatu tanpa tahu persis alasannya.
Mengenali pola ini bukan untuk mendiagnosis diri sendiri secara klinis, tapi untuk memahami bahwa reaksi tubuh yang terasa berlebihan bukan kelemahan karakter.
Ia adalah jejak dari sesuatu yang pernah dialami tubuh, dan jejak itu butuh cara penyembuhan yang juga melibatkan tubuh, bukan hanya percakapan.
Trauma Bukan Definisi Dirimu
Van der Kolk menutup bagian penting bukunya dengan penegasan bahwa memiliki reaksi trauma bukan berarti seseorang rusak secara permanen.
Sistem saraf yang bisa belajar menjadi terlalu waspada, pada dasarnya juga sistem yang sama yang bisa belajar ulang untuk merasa aman.
Prosesnya jarang instan, dan sering butuh pengulangan pengalaman yang menenangkan tubuh dari waktu ke waktu, bukan sekali penjelasan yang meyakinkan.
Van der Kolk menyebut pemulihan sebagai proses “mengklaim kembali” tubuh sebagai tempat yang terasa aman untuk ditinggali, bukan sekadar wadah yang harus terus diwaspadai.
Kesalahpahaman Umum: Trauma Bukan Hanya Soal Peristiwa Besar
Banyak orang mengira buku ini, dan konsep trauma secara umum, hanya berlaku untuk peristiwa besar seperti perang, bencana, atau kekerasan fisik yang jelas.
Van der Kolk menantang anggapan ini.
Ia menjelaskan bahwa trauma perkembangan (developmental trauma) — pengabaian emosional yang berulang, dibesarkan dengan orang tua yang tidak konsisten hadir, atau tumbuh dalam rumah yang penuh ketegangan meski tanpa kekerasan fisik — bisa meninggalkan jejak yang sama nyatanya pada sistem saraf.
Bukan besar-kecilnya peristiwa yang menentukan, melainkan apakah sistem saraf sempat merasa benar-benar aman untuk memproses apa yang terjadi.
Inilah sebabnya seseorang bisa tumbuh dengan reaksi tubuh yang berat, tanpa pernah mengalami satu peristiwa tunggal yang bisa ditunjuk sebagai penyebabnya.
Referensi
Judul buku: The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma
Penulis: Dr. Bessel van der Kolk (2014)
Buku ini membahas bagaimana pengalaman traumatis memengaruhi otak dan tubuh, serta mengapa pendekatan penyembuhan yang efektif sering kali perlu melibatkan tubuh, tidak hanya pikiran. Van der Kolk juga merujuk pada teori polyvagal dari Dr. Stephen Porges mengenai bagaimana sistem saraf otonom mengatur respons terhadap rasa aman dan ancaman.
