← Semua artikel

Aku Takut Menikah Karena Aku Tumbuh Melihat Rumah yang Penuh Pertengkaran

8 Oktober 2026·Toro

Aku Tidak Percaya Pernikahan Itu Bisa Bertahan, Karena Aku Tidak Pernah Melihatnya

Aku tumbuh di rumah yang penuh suara pintu dibanting.

Suara piring pecah.

Suara ibuku menangis di dapur, sendirian, sambil berusaha tidak terdengar olehku.

Aku tumbuh mendengar kata “cerai” diucapkan berkali-kali, tapi tidak pernah benar-benar terjadi.

Hanya menggantung, seperti ancaman yang tidak pernah selesai.

Jadi ketika sekarang seseorang bertanya kapan aku menikah, aku hanya bisa tertawa kecil.

“Kenapa aku harus masuk ke sesuatu yang aku tahu bisa berubah jadi seperti itu?”

Aku tidak takut jatuh cinta.

Aku takut pada apa yang terjadi setelah cinta itu berubah menjadi kebiasaan, lalu menjadi luka.


Aku Belajar Mencintai dengan Cara yang Salah, Tanpa Sadar

Aku tidak pernah melihat contoh bagaimana dua orang menyelesaikan masalah tanpa saling menyakiti.

Yang kulihat hanya dua cara, diam sampai meledak, atau bertengkar sampai lelah.

Jadi ketika aku punya masalah dengan pasanganku, aku bingung harus bagaimana.

Aku memilih diam, karena aku takut kalau bicara akan menjadi seperti yang dulu kulihat.

Tapi diam juga tidak menyelesaikan apa-apa.

Ia hanya menunda ledakan itu ke waktu yang lain.

Aku sadar, aku tidak pernah benar-benar diajari caranya berkonflik dengan sehat.

Aku hanya diajari caranya bertahan dalam ketegangan.


Aku Membaca Tentang Apa yang Terjadi pada Anak-Anak yang Tumbuh Seperti Aku

Psikolog Judith Wallerstein melakukan penelitian panjang terhadap anak-anak dari keluarga yang bercerai atau penuh konflik, dan menemukan bahwa banyak dari mereka membawa ketakutan terhadap komitmen hingga dewasa.

Bukan karena mereka tidak ingin dicintai.

Tapi karena mereka belajar bahwa cinta, cepat atau lambat, bisa berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.

Aku membaca itu dan merasa seperti sedang membaca tentang diriku sendiri.

Aku ingin dicintai.

Tapi aku juga menunggu, kapan semuanya akan mulai retak seperti yang dulu kulihat.


Aku Menjauh Setiap Kali Hubungan Mulai Terasa Serius

Aku memperhatikan pola dalam diriku.

Setiap kali hubungan mulai membaik, mulai stabil, mulai terasa seperti sesuatu yang nyata.

Aku mulai mencari alasan untuk ragu.

Aku mulai membesar-besarkan kekurangan kecil pasanganku.

Aku mulai berpikir, mungkin lebih baik berhenti sekarang, sebelum semuanya benar-benar sakit nanti.

Aku menyebutnya realistis.

Padahal itu ketakutan yang menyamar menjadi alasan logis.

Aku tidak sedang melindungi diriku dari hubungan yang buruk.

Aku sedang melindungi diriku dari kemungkinan bahwa hubungan yang baik pun bisa berakhir buruk.


Aku Mulai Bertanya, Apakah Semua Pernikahan Memang Seperti Itu

Aku mulai memperhatikan pasangan-pasangan lain di sekitarku.

Bukan hanya yang bertengkar.

Tapi juga yang bisa duduk berdua sambil tertawa setelah bertahun-tahun bersama.

Yang bisa berbeda pendapat tanpa saling menghancurkan.

Aku sadar, yang kulihat di rumahku dulu bukan satu-satunya cara pernikahan berjalan.

Itu hanya satu versi, versi yang kebetulan aku alami.

Ada versi lain yang mungkin belum pernah kulihat dari dekat, tapi bukan berarti tidak ada.


Aku Belajar Bahwa Aku Tidak Harus Mengulang Apa yang Kulihat

Aku mulai memahami bahwa aku tidak ditakdirkan untuk mengulang pola rumahku dulu.

Aku bisa belajar cara berkomunikasi yang berbeda.

Aku bisa belajar caranya bertengkar tanpa saling menyakiti.

Aku bisa belajar caranya percaya, meskipun aku tidak pernah diajari itu sejak kecil.

Ini bukan hal yang mudah.

Tapi ini juga bukan hal yang mustahil.

Aku hanya perlu berhenti berasumsi bahwa masa depanku sudah ditentukan oleh apa yang terjadi di masa laluku.


Ada Satu Percakapan yang Mengubah Cara Aku Melihat Ini

Suatu malam, pasanganku bertanya kenapa aku selalu terlihat gelisah setiap kali kami membicarakan masa depan.

Aku hampir menjawab dengan alasan biasa, sedang capek kerja, sedang banyak pikiran.

Tapi malam itu aku memilih jujur.

Aku bilang, aku takut. Aku takut kami akan berakhir seperti rumahku dulu.

Aku menunggu reaksi kecewa, atau reaksi yang membuatku merasa berlebihan.

Tapi yang kudapat justru pelukan, dan kalimat sederhana, “kita bisa belajar bareng, kok.”

Aku menangis malam itu, bukan karena sedih, tapi karena baru kali itu aku merasa boleh jujur tentang ketakutanku, tanpa harus berpura-pura baik-baik saja.


Aku Belajar Bahwa Komunikasi adalah Keterampilan, Bukan Bakat Bawaan

Aku dulu mengira, pasangan yang cocok adalah pasangan yang tidak pernah berselisih paham.

Sekarang aku tahu, itu tidak realistis.

Yang membedakan hubungan yang sehat dan yang tidak, bukan ada tidaknya konflik.

Tapi bagaimana cara dua orang itu kembali bicara setelah konflik terjadi.

Aku mulai belajar, pelan-pelan, caranya mengatakan “aku kecewa” tanpa berteriak.

Caranya mendengarkan tanpa langsung membela diri.

Ini keterampilan yang tidak pernah kupelajari di rumah, tapi bukan berarti aku tidak bisa mempelajarinya sekarang, bersama orang yang mau belajar bersamaku.


Aku Mulai Memaafkan Orang Tuaku, Tanpa Harus Membenarkan Semua yang Terjadi

Aku dulu berpikir, memaafkan berarti mengatakan semuanya tidak apa-apa.

Sekarang aku paham, memaafkan lebih untuk diriku sendiri, supaya aku tidak terus membawa amarah itu ke setiap hubungan baru yang kujalani.

Orang tuaku mungkin juga tidak pernah diajari caranya mencintai dengan sehat.

Mereka mungkin juga membawa luka dari generasi sebelum mereka, yang tidak pernah selesai.

Ini tidak menghapus dampaknya padaku.

Tapi memahami ini membuatku sedikit lebih ringan, dan lebih fokus pada bagaimana aku ingin membangun rumahku sendiri kelak, dengan cara yang berbeda.


Penutup

Aku masih merasa ragu setiap kali memikirkan komitmen jangka panjang.

Rasa takut itu tidak hilang begitu saja hanya karena aku sudah memahaminya.

Tapi sekarang aku tahu, rasa takut itu bukan ramalan.

Ia hanya bekas dari sesuatu yang pernah kulihat, bukan sesuatu yang harus kualami lagi.

Aku tidak harus mencintai dengan cara yang sama seperti yang kulihat di rumahku dulu.

Aku bisa belajar cara baru, meskipun aku memulainya dengan gugup.

Dan mungkin, pernikahan yang sehat bukan tentang tidak pernah punya masalah, tapi tentang dua orang yang mau belajar menyelesaikannya bersama, dengan cara yang berbeda dari apa yang pernah kulihat.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya