Sebagian orang tumbuh dengan orang tua yang selalu ada di rumah, tapi jarang benar-benar ada saat dibutuhkan secara emosional.
Bukan karena orang tua itu jahat.
Tapi karena mereka sendiri tidak pernah belajar caranya hadir secara emosional untuk orang lain, termasuk untuk anaknya sendiri.
Psikolog klinis Dr. Lindsay C. Gibson, dalam bukunya Adult Children of Emotionally Immature Parents (2015), menyebut kondisi ini sebagai pengasuhan oleh orang tua yang “secara emosional belum dewasa” — dan menjelaskan bagaimana dampaknya bisa terus terasa jauh setelah anak itu tumbuh besar.
Empat Tipe Orang Tua yang Secara Emosional Belum Dewasa
Gibson mengelompokkan pola ini menjadi empat tipe.
Tipe emosional, yang mudah dikuasai perasaannya sendiri sehingga anak justru harus menenangkan orang tua, bukan sebaliknya.
Tipe pendorong (driven), yang sangat fokus pada pencapaian dan kesempurnaan, sering mengabaikan kebutuhan emosional anak demi hasil yang terlihat baik di mata orang lain.
Tipe pasif, yang menghindari konflik dan membiarkan pasangan atau keadaan mengambil alih, meski itu berarti tidak melindungi anak saat dibutuhkan.
Tipe penolak (rejecting), yang paling menjaga jarak emosional, bahkan cenderung tidak nyaman dengan kedekatan itu sendiri.
Banyak orang, menurut Gibson, tidak mengenali pola-pola ini sampai dewasa, karena semasa kecil mereka mengira ini adalah bentuk normal dari kasih sayang.
Kesepian Emosional di Tengah Keluarga yang Utuh
Salah satu istilah penting dalam buku ini adalah “kesepian emosional” — perasaan sendirian secara batin meski dikelilingi keluarga.
Seorang anak bisa memiliki semua kebutuhan fisiknya terpenuhi, tapi tetap tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak benar-benar dilihat atau dipahami.
Gibson menjelaskan, anak-anak dalam situasi ini sering belajar untuk memendam kebutuhan emosional mereka sendiri, karena mengungkapkannya biasanya tidak direspons dengan baik.
Pola ini yang kemudian terbawa ke hubungan dewasa: kesulitan menyampaikan kebutuhan, atau justru terlalu cepat memenuhi kebutuhan orang lain sambil mengabaikan kebutuhan sendiri.
Internalizer dan Externalizer: Dua Cara Bereaksi
Gibson membagi anak-anak dari orang tua semacam ini menjadi dua kecenderungan.
Internalizer cenderung memproses masalah ke dalam diri sendiri — merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, dan berusaha memperbaiki keadaan dengan menjadi lebih baik lagi.
Externalizer cenderung melampiaskan masalah keluar — menyalahkan orang lain, dan lebih jarang melakukan refleksi diri.
Gibson mencatat bahwa internalizer sering kali yang justru mencari bantuan dan membaca buku semacam ini, karena mereka cenderung mempertanyakan diri sendiri lebih dalam dibandingkan mempertanyakan orang lain.
Tanda-Tanda yang Bisa Dikenali di Kehidupan Dewasa
Gibson menyebutkan beberapa tanda yang sering muncul pada orang dewasa yang tumbuh dengan pola ini.
Kesulitan mempercayai bahwa perasaannya sendiri valid, sampai ada orang lain yang membenarkannya lebih dulu.
Merasa bertanggung jawab menjaga suasana hati orang lain, bahkan dalam hubungan yang seharusnya setara.
Menarik diri dari kedekatan emosional saat hubungan mulai terasa terlalu dekat, karena kedekatan terasa asing atau bahkan mengancam.
Mengenali tanda-tanda ini bukan untuk membuat daftar kesalahan orang tua, tapi untuk memahami dari mana sebagian pola dalam hubungan dewasa ini sebenarnya berasal.
Belajar Menjadi “Orang Tua yang Matang” bagi Diri Sendiri
Bagian penting dari buku ini adalah tentang pemulihan.
Gibson menekankan bahwa seseorang tidak harus menunggu orang tuanya berubah untuk mulai sembuh.
Salah satu langkah yang ditawarkan adalah belajar mengenali kebutuhan emosional diri sendiri yang dulu tidak terpenuhi, lalu secara sadar memenuhi sebagian darinya — lewat hubungan yang lebih sehat, terapi, atau dengan menjadi sumber kestabilan emosional bagi diri sendiri.
Ini bukan proses menyalahkan orang tua selamanya, tapi proses berhenti menunggu validasi yang mungkin tidak akan pernah datang dengan cara yang diharapkan.
Kenapa Pola Ini Sering Terulang dalam Memilih Pasangan
Gibson mencatat sebuah pola yang sering muncul tanpa disadari: orang yang tumbuh dengan orang tua yang emosinya tidak matang, sering kali secara tidak sengaja tertarik pada pasangan dengan pola serupa.
Bukan karena mereka menginginkan pengulangan itu, tapi karena pola tersebut terasa familiar — dan yang familiar sering disalahartikan sebagai yang “benar” atau “seperti rumah”.
Menyadari pola ini, menurut Gibson, adalah salah satu langkah paling penting untuk mulai memilih hubungan berdasarkan apa yang benar-benar sehat, bukan sekadar apa yang terasa akrab sejak kecil.
Bukan Berarti Orang Tua Itu Jahat atau Tidak Menyayangi
Penting dicatat, Gibson membedakan dengan jelas antara “secara emosional belum dewasa” dengan “kasar” atau “tidak peduli”.
Banyak orang tua dalam empat tipe ini sebenarnya sangat menyayangi anaknya, memenuhi kebutuhan fisiknya, bahkan bangga terhadap pencapaian anaknya.
Yang mereka tidak miliki bukan niat baik, melainkan kapasitas — mereka sendiri mungkin tidak pernah diajari cara mengenali atau merespons kebutuhan emosional, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Membedakan ini penting, karena tujuan mengenali pola ini bukan untuk menyimpulkan “orang tuaku jahat”, melainkan untuk memahami kenapa kebutuhan emosional tertentu dulu tidak terpenuhi, sehingga seseorang bisa berhenti menyalahkan diri sendiri atas hal yang sebenarnya bukan kekurangannya.
Referensi
Judul buku: Adult Children of Emotionally Immature Parents: How to Heal from Distant, Rejecting, or Self-Involved Parents
Penulis: Dr. Lindsay C. Gibson (2015)
Buku ini menjelaskan empat tipe pola pengasuhan yang secara emosional belum dewasa, dampaknya terhadap anak yang tumbuh besar, serta langkah-langkah praktis untuk mengenali dan memenuhi kebutuhan emosional diri sendiri yang sebelumnya terabaikan.
