Sudah Berbulan-bulan Sejak Aku Memakai Toga
Foto wisudaku masih terpajang di ruang tamu.
Di foto itu aku tersenyum lebar, seolah dunia sudah menunggu di depan pintu.
Sekarang, setiap kali melewatinya, aku justru ingin memalingkan wajah.
Sudah puluhan lamaran kukirim, dan sebagian besar tidak pernah dibalas sama sekali.
Beberapa sempat sampai tahap wawancara, lalu berhenti tanpa kabar.
Setiap kali ada yang bertanya, “Sekarang kerja di mana?”, aku tertawa kecil dan mengalihkan pembicaraan.
Aku Mulai Berhenti Mencoba
Awalnya aku rajin sekali.
Aku memperbaiki CV, membuat surat lamaran berbeda untuk setiap perusahaan, dan membuka situs lowongan setiap pagi.
Lama-lama, semangat itu menipis tanpa aku sadari.
Aku masih membuka situs lowongan, tapi hanya menggulir layar tanpa benar-benar membaca.
Ada lowongan yang sebenarnya cocok, tapi aku menutupnya dengan pikiran, “Percuma, pasti juga ditolak.”
Orang di rumah mungkin mengira aku malas.
Padahal yang kurasakan bukan malas, tapi semacam lumpuh yang sulit kujelaskan.
Kegagalan Kecil yang Kubesarkan Sendiri
Setiap penolakan terasa seperti bukti baru bahwa ada yang salah denganku.
Aku tidak berpikir, “Perusahaan ini mungkin sedang mencari profil yang berbeda.”
Aku berpikir, “Aku memang tidak cukup baik, dan akan selalu begitu.”
Dari satu penolakan, pikiranku melompat ke kesimpulan tentang seluruh hidupku.
Aku mulai merasa tidak berguna di rumah, tidak menarik diajak bicara, bahkan tidak pantas ikut kumpul dengan teman-teman yang sudah bekerja.
Rasa Malu yang Tidak Pernah Kuucapkan
Yang paling berat sebenarnya bukan penolakan dari perusahaan.
Yang paling berat adalah rasa malu setiap kali melihat teman seangkatan mengunggah foto hari pertama kerja.
Aku memberi ucapan selamat, lalu menutup aplikasi dengan dada sesak.
Aku mulai menghindari grup alumni, menolak ajakan reuni, dan pura-pura sibuk saat keluarga besar berkumpul.
Di depan orang tua, aku berusaha terlihat tenang.
Padahal setiap malam aku menghitung berapa lama lagi aku bisa bertahan tanpa penghasilan, dan pikiran itu membuatku sulit tidur.
Aku merasa seperti tertinggal di stasiun, sementara semua kereta sudah berangkat tanpa aku.
Aku Belajar Tentang Learned Helplessness
Suatu malam aku membaca tentang konsep learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari.
Konsep ini berasal dari eksperimen Martin Seligman dan Steven Maier pada akhir tahun 1960-an.
Dalam eksperimen itu, anjing yang sebelumnya mengalami kejutan listrik yang tidak bisa mereka hindari, belakangan tidak berusaha menghindar lagi, bahkan ketika jalan keluarnya sebenarnya sudah tersedia.
Mereka seolah sudah belajar bahwa usaha apa pun tidak ada gunanya.
Seligman dan rekan-rekannya kemudian mengembangkan gagasan ini pada manusia, dan menemukan bahwa cara kita menjelaskan kegagalan ikut berperan.
Orang yang cenderung menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang permanen, menyangkut seluruh hidupnya, dan sepenuhnya kesalahan dirinya sendiri, lebih mudah merasa tidak berdaya.
Aku membaca itu dan merasa sedang melihat diriku sendiri.
Aku bukan tidak mampu mencoba.
Aku hanya sudah belajar, dari penolakan demi penolakan, bahwa mencoba tidak mengubah apa-apa.
Aku Mulai Memeriksa Cara Aku Menjelaskan Penolakan
Aku mulai menuliskan setiap penolakan, lalu menulis penjelasan yang biasa muncul di kepalaku.
“Aku tidak akan pernah diterima di mana pun.”
Lalu aku mencoba menulis penjelasan lain yang juga mungkin benar.
“Untuk posisi ini, saat ini, mereka memilih orang lain.”
Kalimat kedua tidak membuatku langsung bahagia.
Tapi kalimat itu lebih jujur, karena satu penolakan memang tidak bisa menentukan seluruh masa depanku.
Aku juga mulai sadar, situasi kerja yang sulit bukan sepenuhnya soal kekuranganku pribadi.
Ada banyak hal di luar kendaliku yang ikut menentukan.
Jumlah lowongan, kondisi ekonomi, dan banyaknya lulusan lain yang melamar di waktu yang sama, semuanya ikut berperan.
Menyadari ini tidak membuatku berhenti berusaha, tapi membuatku berhenti menghukum diri sendiri atas hal-hal yang memang bukan sepenuhnya tanggung jawabku.
Aku Mencari Hal Kecil yang Masih Bisa Kukendalikan
Karena merasa tidak berdaya, aku mencoba mencari bagian kecil yang masih ada di tanganku.
Aku tidak bisa memaksa perusahaan membalas lamaranku.
Tapi aku bisa mengirim tiga lamaran yang kususun dengan sungguh-sungguh dalam seminggu.
Aku bisa belajar satu keterampilan baru dari kursus gratis.
Aku bisa menghubungi satu kakak tingkat untuk bertanya tentang pengalamannya mencari kerja.
Setiap kali menyelesaikan satu hal kecil, aku mencatatnya.
Bukan untuk membuktikan bahwa aku hebat, tapi untuk mengingatkan diriku bahwa tindakanku masih punya arti.
Aku Berhenti Menyembunyikannya
Aku akhirnya bercerita pada seorang teman yang juga belum lama mendapat pekerjaan.
Ternyata ia pernah merasakan hal yang sama, termasuk hari-hari ketika ia tidak sanggup membuka email sama sekali.
Mendengar itu, aku merasa tidak lagi sendirian dengan rasa malu ini.
Kalau rasa tidak berdaya ini terus memberat dan mulai mengganggu tidur, makan, atau keinginanmu untuk melakukan apa pun, bicara dengan psikolog bisa sangat membantu.
Penutup
Aku masih belum mendapat pekerjaan.
Foto wisuda itu masih di ruang tamu, dan kadang aku masih memalingkan wajah saat melewatinya.
Tapi sekarang aku tahu, rasa “percuma mencoba” itu bukan kebenaran tentang diriku.
Itu hanyalah sesuatu yang kupelajari dari terlalu banyak penolakan, dan apa yang dipelajari masih bisa perlahan diubah.
Aku belum sampai, tapi aku belum berhenti.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup untuk membuatku bangun dan mencoba lagi besok pagi.

