Aku Mencoba Mengingat, Tapi Tidak Menemukan Apa-Apa
Beberapa hari lalu, temanku memeluk ibunya di depanku saat menjemputnya di stasiun.
Pelukan yang biasa saja, cepat, sambil tertawa.
Tapi aku terdiam lama setelah melihatnya.
Di kepalaku muncul pertanyaan yang belum pernah kuajukan: kapan terakhir kali orang tuaku memelukku?
Aku mencoba mengingat, dan aku tidak menemukan jawabannya.
Rumah Kami Tidak Pernah Kekurangan, Kecuali Satu Hal
Aku tidak ingin terdengar tidak tahu terima kasih.
Orang tuaku bekerja keras supaya aku bisa sekolah, makan cukup, dan punya kamar sendiri.
Mereka menunjukkan sayang lewat uang jajan, lauk kesukaanku, dan pertanyaan, “Sudah makan belum?”
Tapi di rumah kami, tidak ada yang saling memeluk.
Tidak ada yang mengusap kepala, tidak ada yang menggenggam tangan saat sedang sedih.
Dulu aku mengira semua keluarga memang begitu.
Aku Canggung Setiap Kali Disentuh
Sekarang aku sadar, ada bekas dari semua itu.
Aku kaku setiap kali teman memelukku, seperti tubuhku tidak tahu harus berbuat apa.
Di sisi lain, ada bagian dari diriku yang diam-diam sangat merindukan sentuhan.
Aku pernah bertahan terlalu lama dalam hubungan yang tidak sehat, hanya karena dia satu-satunya orang yang pernah menggenggam tanganku dengan hangat.
Aku malu mengakuinya, tapi kadang aku lebih rindu dipeluk daripada dimengerti.
Kesepian yang Tidak Punya Nama
Untuk waktu yang lama, aku tidak tahu bahwa yang kurasakan adalah kesepian.
Aku punya teman, punya keluarga, punya orang yang menanyakan kabarku.
Tapi ada rasa dingin yang menetap, terutama di malam hari atau saat aku sakit.
Saat demam, aku sering membayangkan seseorang duduk di samping tempat tidur dan meletakkan tangan di dahiku.
Bayangan itu terasa begitu jauh, seperti adegan dari film tentang keluarga orang lain.
Aku tidak pernah tahu bagaimana menyebut kerinduan itu, jadi aku menyimpannya sebagai rasa hampa yang samar.
Aku Membaca tentang Penelitian Harry Harlow
Suatu malam, aku membaca tentang penelitian psikolog Harry Harlow pada tahun 1950-an.
Ia meneliti bayi monyet rhesus yang dipisahkan dari induknya, lalu diberi dua “induk” buatan.
Satu terbuat dari kawat dan menyediakan susu, sementara satunya dibalut kain lembut tapi tidak memberi susu.
Banyak orang saat itu mengira bayi akan lebih terikat pada sosok yang memberinya makan.
Ternyata bayi-bayi monyet itu menghabiskan sebagian besar waktunya menempel pada induk kain, dan hanya mendatangi induk kawat saat ingin menyusu.
Ketika mereka ketakutan, mereka berlari dan berpegangan pada induk kain.
Harlow menyebut kebutuhan ini sebagai contact comfort, yaitu rasa nyaman yang datang dari sentuhan, bukan hanya dari makanan.
Penelitian ini kini juga dikenal karena perlakuannya pada hewan yang dianggap sangat bermasalah secara etis.
Tapi temuannya ikut mengubah cara banyak ahli memandang kebutuhan anak, bahwa kasih sayang dan kehangatan fisik bukan sekadar bonus.
Aku membaca itu dan merasa seperti bayi monyet yang punya banyak susu, tapi tidak punya kain untuk dipeluk.
Aku Tidak Ingin Menyalahkan Mereka
Semakin lama aku berpikir, semakin aku sadar orang tuaku mungkin juga tidak pernah dipeluk oleh orang tua mereka.
Mereka memberikan apa yang mereka tahu, dan apa yang mereka tahu adalah bekerja keras dan memastikan aku tidak kelaparan.
Itu juga cinta, hanya saja dalam bahasa yang berbeda.
Aku bisa menghargai cinta itu, sekaligus mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang tetap kekurangan.
Mungkin mereka juga merasakan kerinduan yang sama, hanya saja tidak pernah punya kata atau keberanian untuk menunjukkannya.
Memikirkan itu membuatku sedikit lebih lembut pada mereka, dan juga pada diriku sendiri.
Aku Mulai Belajar Menerima Sentuhan
Aku mulai dari hal-hal kecil.
Aku membiarkan diriku menerima pelukan sahabatku tanpa buru-buru melepaskannya.
Aku berkata jujur pada pasanganku bahwa aku butuh dipeluk saat sedang cemas, meski kalimat itu terasa sangat asing di mulutku.
Saat sendirian, aku kadang meletakkan tangan di dada dan bernapas pelan, sekadar memberi tubuhku rasa ditemani.
Kedengarannya sederhana, tapi bagiku ini seperti belajar bahasa baru dari awal.
Kalau rasa kesepian ini terasa terlalu dalam, aku tahu bercerita kepada psikolog atau tenaga profesional bisa membantu.
Aku Bahkan Mencoba Memeluk Ibuku
Saat pulang ke rumah bulan lalu, aku memberanikan diri memeluk ibuku sebelum berangkat lagi.
Dia kaku, dan aku juga kaku.
Kami sama-sama tertawa canggung, dan dia menepuk punggungku dua kali.
Tidak ada kata-kata besar, tidak ada air mata.
Tapi di perjalanan pulang, aku menangis di dalam kereta, karena untuk pertama kalinya aku tahu jawaban dari pertanyaan yang lama tak terjawab.
Penutup
Aku tumbuh dengan cukup makan, tapi kekurangan pelukan, dan baru sekarang aku berani menyebutnya sebagai kehilangan.
Aku tidak bisa mengulang masa kecilku, tapi aku bisa memberi diriku kehangatan yang dulu tidak sempat kuterima.
Kebutuhan untuk dipeluk bukan tanda aku manja, tapi tanda aku manusia.
Dan aku belajar bahwa tidak pernah terlambat untuk mulai mengisi kekosongan itu, satu pelukan kecil demi satu pelukan kecil.

