Aku Mengetik Selamat dengan Hati yang Perih
Sahabatku mengabarkan dia diterima di pekerjaan impiannya.
Aku langsung membalas dengan banyak tanda seru dan ucapan selamat.
Aku memang senang untuknya, sungguh.
Tapi setelah menutup ponsel, ada rasa lain yang muncul pelan-pelan.
Perih, sesak, dan sebuah pertanyaan yang tidak ingin kudengar dari diriku sendiri: kenapa bukan aku?
Rasa Ini Muncul Justru pada Orang Terdekat
Yang membuatku bingung, aku jarang merasa seperti ini pada orang asing.
Aku tidak iri pada selebritas atau orang kaya yang tidak kukenal.
Aku iri pada sahabatku, yang kukenal sejak sekolah, yang dulu berada di titik yang sama denganku.
Kami dulu sama-sama bingung soal masa depan.
Sekarang dia seperti melangkah jauh di depan, sementara aku masih di tempat yang sama.
Aku Merasa Menjadi Orang yang Jahat
Rasa iri itu cepat sekali berubah menjadi rasa malu.
Sahabat macam apa yang tidak bisa bahagia sepenuhnya untuk sahabatnya sendiri?
Aku mulai menghindari obrolan tentang pekerjaannya.
Aku membalas pesannya lebih lambat, lalu merasa bersalah karena itu.
Aku takut kalau dia tahu isi hatiku, dia akan melihatku sebagai orang yang picik.
Jadi aku menyimpannya rapat-rapat, dan rasa itu justru tumbuh di tempat gelap.
Aku Mulai Membandingkan Segalanya
Sejak saat itu, aku jadi lebih sering membuka media sosialnya.
Aku melihat foto kantornya yang baru, teman-teman kerjanya, dan cerita-cerita kecil yang dia bagikan.
Setiap unggahan terasa seperti cermin yang memperlihatkan kekuranganku.
Aku mulai menghitung umur, membandingkan gaji yang bahkan tidak kuketahui pasti, dan merasa semua orang bergerak kecuali aku.
Bagian paling memalukan, ada saat-saat aku diam-diam berharap kabar baiknya tidak berjalan semulus itu.
Begitu pikiran itu muncul, aku langsung merasa jijik pada diriku sendiri.
Aku Membaca Tulisan Smith dan Kim tentang Iri Hati
Suatu hari aku membaca tentang tinjauan psikolog Richard H. Smith dan Sung Hee Kim berjudul Comprehending Envy yang terbit pada tahun 2007.
Mereka menggambarkan iri hati sebagai emosi yang tidak menyenangkan, sering terasa menyakitkan, yang muncul ketika kita menyadari orang lain punya sesuatu yang sangat kita inginkan.
Menurut ulasan mereka, iri hati paling sering muncul terhadap orang yang mirip dengan kita, dan dalam hal yang penting bagi cara kita menilai diri sendiri.
Itu menjelaskan kenapa aku iri pada sahabatku, bukan pada orang asing.
Smith dan Kim juga mencatat bahwa iri hati jarang diakui terang-terangan, karena dianggap memalukan, sehingga orang sering menyembunyikannya bahkan dari diri sendiri.
Mereka juga membahas pandangan bahwa iri hati tidak selalu sama bentuknya.
Ada iri yang lebih jinak, yang bercampur kekaguman dan bisa mendorong kita untuk berusaha.
Ada juga iri yang lebih berbahaya, yang bercampur rasa permusuhan dan keinginan agar orang lain kehilangan apa yang dimilikinya.
Membaca itu, aku merasa sedikit lega karena rasa ini ternyata sangat manusiawi.
Aku juga jadi punya pilihan untuk memperhatikan ke arah mana rasa iriku tumbuh.
Apakah aku ingin mengejar sesuatu, atau aku ingin dia kehilangan sesuatu?
Pertanyaan itu tidak nyaman, tapi jawabannya membantuku melihat bahwa aku masih bisa memilih arah yang lebih sehat.
Aku Bertanya Apa yang Sebenarnya Kuinginkan
Aku mencoba jujur tentang apa yang sebenarnya membuatku iri.
Ternyata bukan pekerjaannya itu sendiri.
Yang membuatku perih adalah rasa bahwa dia sudah menemukan arah, sementara aku masih merasa tersesat.
Iriku sebenarnya sedang menunjuk sesuatu yang kuinginkan untuk diriku sendiri: kejelasan, keberanian mencoba, dan rasa bahwa aku juga sedang bergerak.
Ketika aku melihatnya seperti itu, rasa iri itu berubah dari musuh menjadi semacam penunjuk arah.
Aku Memilih Arah yang Berbeda
Aku tidak bisa memilih untuk tidak merasakan iri.
Tapi aku bisa memilih apa yang kulakukan dengannya.
Aku berhenti diam-diam mencari kekurangan di hidup sahabatku untuk menghibur diri.
Aku mulai bertanya padanya bagaimana dia mempersiapkan semuanya, dengan rasa ingin tahu, bukan dengan rasa ingin menyaingi.
Aku juga mulai menuliskan satu langkah kecil yang bisa kulakukan untuk arahku sendiri setiap minggu.
Kadang rasa perih itu masih datang, terutama saat aku lelah atau sedang merasa gagal.
Sekarang aku mencoba menyebutnya dengan jujur, “Aku sedang iri,” lalu membiarkannya lewat tanpa menghukum diri.
Aku Akhirnya Bercerita
Beberapa minggu kemudian, aku memberanikan diri bercerita pada sahabatku.
Aku bilang, aku sangat bangga padanya, tapi aku juga sedang merasa tertinggal, dan kadang itu membuatku iri.
Aku takut dia akan menjauh.
Ternyata dia diam sebentar, lalu bilang bahwa dia juga pernah merasa begitu padaku di masa lalu.
Kami tertawa, dan untuk pertama kalinya rasa malu itu tidak lagi terasa sebesar sebelumnya.
Penutup
Aku dulu mengira iri hati berarti aku orang yang buruk.
Sekarang aku tahu, iri adalah perasaan manusiawi yang bisa menyakiti atau mengajari, tergantung apa yang kulakukan dengannya.
Aku tidak harus berhenti merasa iri untuk tetap menjadi sahabat yang baik.
Aku hanya perlu cukup jujur untuk mengakuinya, dan cukup berani untuk memakainya sebagai petunjuk jalan pulang ke diriku sendiri.

