← Semua artikel

Kenapa Menyebut Nama Perasaan Bisa Membuatnya Terasa Lebih Ringan?

30 Oktober 2026·Toro
Kenapa Menyebut Nama Perasaan Bisa Membuatnya Terasa Lebih Ringan?

Pernahkah Perasaanmu Mereda Begitu Kamu Bisa Menyebut Namanya?

Ada hari-hari ketika dada terasa sesak, kepala penuh, dan kamu tidak tahu sebenarnya sedang kenapa.

Lalu seorang teman bertanya, “Kamu lagi kecewa, ya?” dan entah kenapa, rasa sesak itu sedikit melonggar.

Perasaannya belum hilang, masalahnya belum selesai, tapi ada sesuatu yang berubah begitu perasaan itu punya nama.

Matthew D. Lieberman bersama Naomi Eisenberger, Molly Crockett, Sabrina Tom, Jennifer Pfeifer, dan Baldwin Way pernah meneliti fenomena ini lewat pemindaian otak.

Hasilnya mereka tuliskan dalam artikel Putting Feelings Into Words, yang terbit di jurnal Psychological Science pada tahun 2007.


Apa yang Dimaksud dengan Affect Labeling

Dalam penelitian ini, Lieberman dan timnya menggunakan istilah affect labeling, yaitu memberi label berupa kata pada sebuah emosi.

Contohnya sederhana: melihat sesuatu yang memancing perasaan, lalu menyebutnya sebagai “marah”, “takut”, atau “sedih”.

Menurut mereka, tindakan ini terdengar remeh, tapi selama ratusan tahun banyak tradisi, dari menulis buku harian sampai bercerita kepada orang lain, sudah menganggap bahwa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata bisa membantu.

Pertanyaan mereka: apa yang sebenarnya terjadi di otak ketika seseorang melakukannya?


Apa yang Dilakukan dalam Penelitian Ini

Para peserta diminta melihat gambar wajah-wajah dengan ekspresi emosional sambil otaknya dipindai menggunakan fMRI.

Dalam salah satu kondisi, peserta memilih kata yang tepat untuk menggambarkan emosi di wajah itu, misalnya memilih antara kata “marah” dan “takut”.

Dalam kondisi lain, peserta melakukan tugas pembanding, seperti mencocokkan wajah dengan wajah lain yang ekspresinya sama, atau memilih nama yang sesuai dengan jenis kelamin orang di gambar.

Dengan begitu, peneliti bisa membandingkan apa yang berbeda ketika seseorang benar-benar menamai emosi, dibanding sekadar memperhatikan wajah yang emosional.


Yang Mereka Temukan tentang Amigdala

Lieberman dan rekan-rekannya menemukan bahwa saat peserta memberi label emosi, aktivitas amigdala cenderung lebih rendah dibanding saat mereka hanya mencocokkan wajah emosional.

Amigdala adalah bagian otak yang banyak dikaitkan dengan respons terhadap hal-hal yang terasa mengancam atau emosional.

Di saat yang sama, ada bagian lain yang lebih aktif, yaitu area di korteks prefrontal sebelah kanan bagian bawah, yang biasa disebut right ventrolateral prefrontal cortex.

Semakin aktif area prefrontal ini, semakin rendah aktivitas amigdala, dan para peneliti mengajukan bahwa hubungan keduanya kemungkinan melibatkan bagian prefrontal medial.

Mereka menafsirkan ini sebagai tanda bahwa menamai emosi bisa bekerja sebagai bentuk pengaturan emosi yang tidak disengaja, bahkan ketika orangnya tidak sedang berusaha menenangkan diri.


Batasan yang Perlu Diingat

Penting untuk membaca temuan ini dengan hati-hati.

Penelitian ini dilakukan di laboratorium, dengan gambar wajah orang lain, bukan dengan perasaan pribadi yang rumit seperti patah hati atau rasa bersalah yang menumpuk bertahun-tahun.

Aktivitas otak yang lebih rendah juga tidak sama dengan masalah yang langsung selesai.

Jadi temuan ini lebih tepat dibaca sebagai petunjuk, bahwa kata-kata punya peran dalam meredam intensitas emosi, bukan sebagai jaminan bahwa satu kata bisa menyembuhkan segalanya.


Kenapa Ini Relevan dengan Hidup Sehari-hari

Banyak dari kita tumbuh dengan kebiasaan menekan perasaan, atau hanya punya dua kata untuk semuanya: “baik” dan “capek”.

Padahal “capek” bisa berarti kecewa, kesepian, merasa tidak dihargai, atau takut gagal.

Ketika semua perasaan itu dibiarkan tanpa nama, ia sering terasa seperti kabut besar yang menekan dari segala arah.

Penelitian Lieberman memberi alasan untuk mencoba hal sebaliknya: berhenti sejenak dan bertanya, perasaan apa yang sebenarnya sedang ada di sini?

Ini juga bisa membantu saat overthinking, karena pikiran yang berputar kadang sebenarnya sedang mengelilingi satu emosi yang belum diakui.


Cara Sederhana Mulai Menamai Perasaan

Mulailah dengan kalimat pendek, “Aku sedang merasa …”, lalu isi dengan satu kata yang paling mendekati.

Kalau kata pertama terasa kurang pas, coba cari yang lebih spesifik, misalnya dari “kesal” menjadi “tersinggung” atau “diabaikan”.

Kamu bisa menuliskannya di catatan ponsel, buku harian, atau mengatakannya pelan pada diri sendiri.

Tidak perlu langsung mencari solusi, karena tujuan awalnya hanya mengakui apa yang ada.

Kalau perasaanmu terasa terlalu berat dan terus berulang, bercerita kepada psikolog atau tenaga profesional bisa membantu menemukan kata-kata itu bersama.


Kata Tidak Menghapus Perasaan, Tapi Memberinya Tempat

Inti dari penelitian ini sederhana: perasaan yang dinamai tidak selalu sama kuatnya dengan perasaan yang dibiarkan tanpa nama.

Menyebut “aku sedih” bukan tanda lemah, melainkan cara kecil untuk mengambil sedikit jarak dari gelombang emosi.

Dari jarak itu, kamu punya ruang untuk memutuskan langkah berikutnya dengan lebih tenang.


Referensi

Judul artikel: Putting Feelings Into Words: Affect Labeling Disrupts Amygdala Activity in Response to Affective Stimuli

Penulis: Matthew D. Lieberman, Naomi I. Eisenberger, Molly J. Crockett, Sabrina M. Tom, Jennifer H. Pfeifer, dan Baldwin M. Way (2007)

Jurnal: Psychological Science, 18(5), 421–428

Penelitian fMRI ini menunjukkan bahwa memberi label kata pada emosi berkaitan dengan aktivitas amigdala yang lebih rendah dan aktivitas korteks prefrontal yang lebih tinggi, sehingga menamai perasaan diduga berperan sebagai bentuk pengaturan emosi.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya