Hari Libur yang Tidak Pernah Terasa Libur
Hari Minggu kemarin, aku berniat istirahat seharian.
Aku sudah bekerja keras sepanjang minggu, dan tubuhku benar-benar lelah.
Tapi baru satu jam rebahan, perasaan tidak enak mulai muncul.
Aku teringat email yang belum dibalas, kursus daring yang belum selesai, dan rencana olahraga yang terus tertunda.
Aku membuka laptop “sebentar saja”, dan tiba-tiba sudah sore.
Malamnya aku tetap lelah, tapi anehnya juga merasa bersalah karena belum melakukan cukup banyak.
Rasanya aku tidak pernah benar-benar libur, bahkan saat sedang libur.
Diam Terasa Seperti Kesalahan
Aku mulai memperhatikan pola ini.
Setiap kali aku tidak produktif, ada suara di kepalaku yang terdengar sangat yakin.
“Orang lain sedang berkembang, kamu malah bersantai.”
“Kamu belum pantas istirahat, kamu belum mencapai apa-apa.”
Bahkan saat sakit, aku masih merasa harus membuktikan bahwa aku tidak sedang bermalas-malasan.
Aku jarang menolak pekerjaan tambahan, karena menolak terasa seperti mengakui bahwa aku kurang mampu.
Lama-lama, istirahat bukan lagi kebutuhan, tapi sesuatu yang harus kuperoleh dengan susah payah.
Dari Mana Datangnya Suara Itu
Aku tumbuh di lingkungan yang sangat menghargai kerja keras.
Orang yang dipuji adalah yang selalu sibuk, yang tidur paling larut dan bangun paling pagi.
Aku ingat merasa paling diterima saat aku membantu, berprestasi, atau menyelesaikan sesuatu dengan baik.
Tidak ada yang secara langsung bilang bahwa aku hanya berharga kalau produktif.
Tapi aku menyerap pesan itu dari banyak hal kecil, sampai pesan itu terdengar seperti suaraku sendiri.
Aku Belajar Tentang Harga Diri yang Bersyarat
Suatu hari aku menemukan penelitian psikolog Jennifer Crocker tentang contingencies of self-worth, atau harga diri yang bersyarat.
Crocker dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa banyak orang menggantungkan harga dirinya pada bidang tertentu, misalnya prestasi akademik, penampilan, persetujuan orang lain, kompetisi, atau menjadi orang yang baik.
Ketika harga diri seseorang bergantung pada suatu bidang, keberhasilan di bidang itu bisa membuat perasaan berharganya naik, dan kegagalan bisa membuatnya jatuh tajam.
Dalam salah satu penelitiannya, Crocker menemukan bahwa mahasiswa yang harga dirinya sangat bergantung pada prestasi akademik mengalami naik turun harga diri yang lebih besar saat menerima kabar diterima atau ditolak dari sekolah pascasarjana.
Crocker juga menulis bahwa mengejar harga diri terus-menerus bisa punya biaya, misalnya pada kemampuan belajar dari kesalahan, kualitas hubungan, dan kesejahteraan diri.
Membacanya membuatku sadar bahwa harga diriku mungkin sangat bergantung pada produktivitas.
Pantas saja istirahat terasa mengancam, karena saat aku berhenti bekerja, aku juga kehilangan sumber utama rasa berhargaku.
Rasa bersalah itu bukan tanda bahwa aku salah, tapi tanda bahwa nilai diriku sedang kugantungkan pada hal yang tidak pernah bisa selesai.
Aku Mencoba Istirahat dengan Sengaja
Setelah itu, aku mencoba eksperimen kecil.
Aku menjadwalkan istirahat seperti aku menjadwalkan rapat, dan aku tidak boleh membatalkannya.
Saat istirahat, aku tidak membuka laptop atau membaca hal yang berhubungan dengan pekerjaan.
Rasa bersalah tetap datang, dan aku tidak berusaha mengusirnya.
Aku hanya bilang pada diriku sendiri, “Aku tahu kamu khawatir, tapi istirahat ini juga bagian dari merawat diri.”
Awalnya terasa sangat canggung.
Tapi lama-lama aku memperhatikan, setelah istirahat yang sungguh-sungguh, aku justru bisa bekerja lebih jernih.
Aku Bertanya Siapa Aku di Luar Pekerjaan
Pertanyaan yang lebih sulit adalah ini: kalau aku tidak sedang menghasilkan apa-apa, apa yang membuatku tetap berharga?
Aku mencoba menuliskan jawabannya.
Aku teman yang mau mendengarkan.
Aku orang yang menyukai hujan dan musik lama.
Aku seseorang yang sedang belajar memperlakukan diriku dengan lebih adil.
Tidak satu pun dari hal itu bisa diukur dengan daftar tugas yang selesai, dan justru itu yang membuatnya terasa melegakan.
Aku juga mulai memperhatikan bahwa orang-orang yang menyayangiku jarang sekali bertanya seberapa produktif aku minggu ini.
Mereka lebih sering bertanya apakah aku sudah makan, apakah aku tidur cukup, dan apakah aku baik-baik saja.
Kalau rasa bersalah dan kelelahan ini suatu saat terasa terlalu berat, aku ingin berani mencari bantuan dari psikolog.
Aku Melihat Diriku dari Mata Seorang Teman
Beberapa minggu lalu, sahabatku bercerita bahwa ia mengambil cuti tiga hari hanya untuk tidur dan membaca.
Reaksi pertamaku adalah ikut senang, dan aku bilang ia memang pantas mendapatkannya.
Lalu aku terdiam, karena sadar aku tidak pernah memberi diriku izin yang sama.
Kenapa aku begitu mudah memaklumi orang lain, tapi begitu keras pada diriku sendiri?
Aku tidak menganggap sahabatku malas, dan aku tidak menilai harga dirinya dari berapa banyak pekerjaan yang ia selesaikan.
Mungkin sudah saatnya aku memakai ukuran yang sama untuk diriku sendiri.
Penutup
Aku dulu mengira istirahat harus kuperoleh setelah semuanya selesai.
Padahal pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai, dan aku terus menunda hakku untuk berhenti.
Nilaiku sebagai manusia tidak hilang hanya karena hari ini aku memilih diam.
Aku sedang belajar beristirahat bukan sebagai hadiah, tapi sebagai bagian dari hidup yang memang layak kujalani.

