Setiap Malam Aku Berjanji Tidur Lebih Cepat
Setiap malam aku berbaring dengan niat yang sama.
Lima menit lagi, lalu aku tidur.
Tapi lima menit itu berubah jadi satu jam, lalu dua jam.
Video pendek berganti video pendek, utas berganti utas, sampai aku sadar sudah lewat jam dua pagi.
Mataku perih, kepalaku berat, tapi jempolku tetap menggulir layar.
Besok paginya aku bangun dengan badan seperti diseret, dan aku berjanji lagi, malam ini pasti beda.
Malamnya, aku mengulang hal yang sama.
Aku Tidak Sedang Sibuk, Aku Hanya Tidak Mau Hari Ini Berakhir
Yang membuatku bingung, aku tidak punya alasan nyata untuk begadang.
Tidak ada tugas yang harus selesai, tidak ada orang yang menahanku.
Kasurku sudah siap, lampu sudah mati, dan aku tetap tidak mau memejamkan mata.
Lama-lama aku sadar, aku bukan sedang menikmati apa yang kutonton.
Aku sedang menunda sesuatu, yaitu momen ketika hari ini resmi selesai dan besok dimulai lagi.
Malam Terasa Seperti Satu-Satunya Waktu Milikku
Siang hariku penuh dengan kewajiban.
Pekerjaan, pesan yang harus dibalas, orang-orang yang harus kujaga perasaannya.
Baru di malam hari, saat semua orang sudah diam, aku merasa punya waktu yang tidak diminta siapa pun.
Jadi tidur terasa seperti menyerahkan satu-satunya waktu bebas itu.
Aku memperpanjangnya sebisa mungkin, meski tahu yang kubayar adalah energiku sendiri keesokan harinya.
Aku Bertanya Apa yang Sebenarnya Kucari di Layar
Suatu malam aku mencoba memperhatikan apa yang sebenarnya kutonton.
Ternyata aku hampir tidak ingat satu pun video yang lewat.
Aku tidak sedang mencari hiburan, aku sedang mencari sesuatu yang membuat kepalaku tidak perlu memikirkan apa-apa.
Begitu layar mati dan kamar gelap, pikiran-pikiran yang kutahan seharian langsung berdatangan.
Obrolan yang membuatku tersinggung, pekerjaan yang belum beres, dan rasa sepi yang tidak sempat kuakui.
Jadi aku menyalakan layar lagi, karena cahayanya terasa lebih ramah daripada isi kepalaku sendiri.
Aku Membaca tentang Bedtime Procrastination
Suatu hari aku menemukan istilah yang terasa seperti cermin.
Floor Kroese bersama rekan-rekannya dari Utrecht University memperkenalkan istilah bedtime procrastination dalam artikel mereka pada tahun 2014.
Mereka mendefinisikannya sebagai kegagalan untuk tidur pada waktu yang sudah diniatkan, padahal tidak ada keadaan luar yang menghalangi.
Bagian terakhir itu yang membuatku tertegun, karena memang tidak ada yang menghalangiku selain diriku sendiri.
Dalam penelitian mereka, kecenderungan menunda tidur ini berkaitan dengan kemampuan pengaturan diri yang lebih rendah, dan juga dengan kurangnya waktu tidur.
Mereka melihatnya sebagai bentuk penundaan, sama seperti menunda tugas, hanya saja yang ditunda adalah istirahat.
Membaca itu membuatku merasa tidak sendirian, tapi juga membuatku berhenti membohongi diri bahwa aku cuma “belum ngantuk”.
Belakangan aku juga membaca bahwa kurang tidur bisa membuat reaksi emosi terasa lebih tajam dan lebih sulit dikendalikan.
Pantas saja hari-hari setelah begadang, aku lebih gampang tersinggung, lebih mudah menangis, dan lebih cepat overthinking.
Aku Sadar Kelelahan Ini Berputar Seperti Lingkaran
Ternyata polanya saling menyambung.
Aku kurang tidur, lalu esoknya emosiku lebih rapuh dan harinya terasa lebih berat.
Karena harinya terasa berat, malamnya aku semakin ingin “membalas” dengan waktu untuk diri sendiri.
Lalu aku begadang lagi, dan lingkaran itu terus berulang.
Aku baru sadar, yang kubutuhkan bukan sekadar waktu luang di jam dua pagi.
Yang kubutuhkan adalah hari yang tidak sepenuhnya habis untuk orang lain.
Aku Mulai Mencoba Hal-Hal Kecil
Aku tidak langsung berhasil, dan aku tidak memaksa diri jadi orang yang sempurna.
Aku mulai menaruh ponsel di meja yang agak jauh dari kasur, supaya aku harus bangun kalau ingin mengambilnya.
Aku mencoba menyisipkan sedikit waktu untuk diriku sendiri di sore hari, meski hanya dua puluh menit berjalan kaki atau minum teh tanpa layar.
Aku juga mulai menyebut jujur alasanku setiap kali ingin menunda tidur.
“Aku masih kesal soal tadi siang,” atau “Aku belum siap menghadapi rapat besok.”
Anehnya, begitu aku menyebutnya, dorongan untuk terus menggulir layar sedikit berkurang.
Ada malam-malam aku tetap kalah, dan aku belajar untuk tidak menghukum diri karena itu.
Aku Belajar Tidur Bukan Kekalahan
Dulu aku menganggap tidur seperti menyerah pada hari esok.
Sekarang aku mencoba melihatnya sebagai cara merawat diriku yang akan bangun besok pagi.
Diriku yang besok juga layak mendapat energi, bukan hanya sisa-sisa dari malam yang kuhabiskan untuk melarikan diri.
Aku juga belajar bahwa istirahat bukan hadiah yang harus kudapatkan setelah semua urusan beres.
Istirahat adalah kebutuhan, sama seperti makan dan minum, dan aku boleh memberikannya pada diriku tanpa merasa kalah.
Kalau rasa lelah, sulit tidur, dan suasana hati yang berat terus menumpuk, aku tahu tidak apa-apa untuk bercerita kepada tenaga profesional.
Penutup
Aku masih suka malam, dan mungkin akan selalu begitu.
Tapi aku tidak ingin lagi mencuri waktu dari tidurku hanya karena siangku tidak menyisakan ruang untuk diriku sendiri.
Aku tidak sedang malas tidur, aku sedang lapar akan waktu yang benar-benar milikku.
Dan aku belajar memberikannya pada diriku di siang hari, bukan membayarnya dengan lelah di pagi hari.

