Aku Tahu Dia Sudah Pergi, Tapi Tanganku Masih Mencarinya
Sudah beberapa bulan sejak dia bilang ingin berhenti.
Kalimatnya pelan, tidak ada teriakan, tidak ada drama.
Tapi sejak hari itu, ada bagian dari diriku yang seperti kehilangan kendali.
Aku membuka profilnya berkali-kali dalam sehari.
Aku membaca ulang pesan-pesan lama sampai hafal titik komanya.
Aku tahu ini tidak sehat, aku tahu ini tidak mengubah apa-apa, tapi tanganku tetap bergerak sendiri.
Rasanya Lebih dari Sekadar Sedih
Orang-orang bilang, “Namanya juga patah hati, nanti juga lewat.”
Tapi yang kurasakan bukan cuma sedih.
Rasanya seperti haus yang tidak bisa dipuaskan.
Setiap kali aku melihat fotonya, ada lega sesaat, lalu disusul rasa sakit yang lebih tajam.
Aku sulit makan, sulit fokus, dan pikiranku terus kembali ke satu nama itu.
Aku sempat berpikir, mungkin aku memang terlalu lemah, terlalu berlebihan, terlalu tidak tahu malu.
Aku Mencari Alasan untuk Menghubunginya Lagi
Bagian yang paling memalukan adalah semua alasan yang kususun.
Mengembalikan barang yang tertinggal.
Menanyakan kabar keluarganya.
Mengucapkan selamat atas hal kecil yang kulihat di media sosialnya.
Di permukaan, semuanya terlihat sopan dan wajar.
Tapi di dalam, aku tahu yang sebenarnya kucari hanya satu: merasakan lagi perhatiannya, walau hanya sebentar.
Teman-Temanku Mulai Lelah Mendengarnya
Awalnya teman-temanku sabar mendengarkan ceritaku.
Mereka memelukku, mengajakku makan, dan bilang aku pantas mendapat yang lebih baik.
Tapi setelah berminggu-minggu, aku bisa melihat wajah mereka mulai lelah setiap kali aku menyebut namanya lagi.
Aku pun mulai berhenti bercerita, bukan karena rinduku sudah reda, tapi karena aku malu terus mengulang hal yang sama.
Aku merasa seharusnya sudah bisa melupakan, seperti orang-orang lain yang tampak baik-baik saja setelah putus.
Semakin aku memaksa diri untuk lupa, semakin kuat aku justru mengingatnya.
Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang tidak mau menerima keputusan yang sudah jelas.
Aku Membaca Penelitian Helen Fisher tentang Penolakan Cinta
Suatu malam, aku menemukan penelitian antropolog Helen Fisher bersama Lucy Brown, Arthur Aron, dan rekan-rekannya yang terbit pada tahun 2010.
Mereka memindai otak orang-orang yang baru saja ditolak oleh pasangannya, tapi masih sangat mencintai orang itu.
Saat peserta melihat foto orang yang menolak mereka, area otak yang berkaitan dengan sistem reward atau rasa ganjaran ikut aktif.
Beberapa area itu juga dikaitkan dengan rasa craving atau keinginan kuat, dan para peneliti mencatat kemiripannya dengan pola yang terlihat pada kecanduan.
Mereka juga menemukan aktivitas di area yang berkaitan dengan menimbang untung-rugi dan mengatur emosi.
Fisher dan rekan-rekannya menafsirkan bahwa cinta romantis bekerja seperti dorongan yang kuat, dan ketika ditolak, dorongan itu tidak langsung padam, malah bisa terasa makin mendesak.
Penelitian ini kecil dan tentu tidak bisa menjelaskan semua orang yang patah hati.
Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa apa yang kualami punya penjelasan, bukan sekadar bukti bahwa aku lemah.
Aku Berhenti Menyebut Diriku Bodoh
Mengetahui hal itu tidak membuat rinduku hilang.
Tapi itu mengubah cara aku memperlakukan diriku.
Dulu, setiap kali aku membuka profilnya, aku memaki diriku sendiri.
Sekarang aku mencoba berkata, “Ini dorongan yang kuat, dan wajar kalau aku merasakannya.”
Anehnya, begitu aku berhenti menghakimi, aku sedikit lebih mampu memilih untuk tidak menurutinya.
Aku tidak lagi bertarung dengan dua lawan sekaligus, yaitu rindu dan rasa malu.
Aku juga mulai mengerti kenapa melihat fotonya terasa lega sesaat lalu menyakitkan.
Setiap kali aku menurutinya, aku seperti memberi makan dorongan itu, sehingga ia datang lagi dengan lebih kuat.
Jadi yang perlu kulakukan bukan memaksa diri berhenti rindu, tapi pelan-pelan berhenti memberinya makan.
Aku Memperlakukannya Seperti Melepas Kebiasaan
Kalau ini mirip dengan craving, maka aku perlu memperlakukannya dengan sabar, bukan dengan tekad sesaat.
Aku mengarsipkan percakapan kami, bukan karena ingin melupakan, tapi supaya aku tidak membacanya setiap malam.
Aku berhenti mengikuti akun-akunnya untuk sementara waktu.
Saat dorongan untuk mengecek datang, aku menunggu sepuluh menit dan menuliskan apa yang sebenarnya kurasakan.
Seringnya, yang muncul adalah kesepian, takut tidak dicintai lagi, atau rasa kosong di jam-jam tertentu.
Aku mulai mengisi jam-jam itu dengan menelepon teman, berjalan kaki, atau sekadar tidur lebih cepat.
Kalau rasa sakit ini terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri, aku tahu bercerita kepada psikolog atau tenaga profesional bukan hal yang memalukan.
Aku Masih Kambuh, dan Itu Tidak Apa-Apa
Ada hari-hari aku tetap membuka fotonya.
Ada malam-malam aku menangis seperti hari pertama.
Tapi jaraknya mulai lebih panjang.
Dulu setiap jam, lalu setiap hari, sekarang kadang aku lupa dalam beberapa hari.
Aku tidak menganggap kambuh sebagai kegagalan, melainkan bagian dari proses tubuh dan hatiku belajar hidup tanpa dia.
Penutup
Aku dulu malu karena merindukannya dengan cara yang terasa tidak masuk akal.
Sekarang aku mengerti, hatiku sedang melepaskan sesuatu yang dulu menjadi pusat duniaku.
Patah hati bukan tanda aku lemah, tapi tanda betapa dalamnya aku pernah terikat.
Dan seperti semua ikatan yang terlepas, aku sedang belajar berdiri lagi, satu hari demi satu hari.

