← Semua artikel

Aku Sudah Jadi Orang Tua untuk Adik dan Orang Tuaku Sejak Aku Masih Kecil

2 November 2026·Toro
Aku Sudah Jadi Orang Tua untuk Adik dan Orang Tuaku Sejak Aku Masih Kecil

Aku Tidak Ingat Kapan Aku Berhenti Jadi Anak

Waktu umurku sekitar sepuluh tahun, aku sudah tahu cara menyiapkan makan malam untuk adikku.

Aku tahu kapan harus mengingatkan dia mengerjakan PR, dan kapan harus menenangkannya kalau menangis.

Ibuku bekerja sampai malam, ayahku sering pergi berhari-hari.

Tidak ada yang secara resmi menyerahkan tugas itu padaku.

Aku hanya mengambilnya, karena sepertinya tidak ada orang lain yang akan melakukannya.


Aku Juga Menjadi Tempat Ibu Bercerita

Yang lebih berat dari mengurus adik adalah mengurus perasaan ibuku.

Setiap malam setelah pulang kerja, dia sering duduk di sampingku dan bercerita.

Tentang uang yang tidak cukup, tentang ayah, tentang betapa lelahnya dia.

Aku mendengarkan, mengangguk, dan berusaha menghiburnya dengan kata-kata yang kupelajari dari sinetron.

Aku tidak pernah bilang bahwa aku juga takut, karena aku merasa ibuku sudah cukup sedih.

Jadi aku belajar menyimpan semua perasaanku sendiri.


Pola Itu Ikut Terbawa Sampai Dewasa

Sekarang aku sudah dewasa, dan pola itu masih ada.

Di kantor, aku yang paling sering menyelesaikan pekerjaan orang lain.

Di pertemanan, aku yang selalu jadi tempat curhat, tapi jarang bercerita.

Di hubungan, aku sering merasa bertanggung jawab atas suasana hati pasanganku.

Kalau ada orang yang kecewa, aku langsung merasa itu salahku dan harus kuperbaiki.

Dan setiap kali aku butuh bantuan, rasanya seperti melanggar aturan yang tidak tertulis.


Aku Baru Sadar Saat Seseorang Bertanya Kabarku

Suatu sore, seorang teman bertanya, “Kamu sendiri gimana? Siapa yang jagain kamu?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi aku tidak bisa menjawab.

Aku tertawa dan mengalihkan pembicaraan, seperti biasanya.

Malamnya, aku menangis lama tanpa benar-benar tahu kenapa.

Mungkin karena itu pertama kalinya seseorang melihat bahwa aku juga butuh dijaga.

Aku mulai bertanya-tanya, sejak kapan aku merasa bahwa kebutuhanku boleh menunggu, sementara kebutuhan semua orang harus didahulukan.

Jawabannya membawaku kembali ke dapur kecil di rumah kami, ke anak sepuluh tahun yang menyiapkan makan malam untuk adiknya.


Aku Belajar tentang Parentification

Suatu hari aku membaca tentang istilah parentification, yaitu ketika seorang anak mengambil peran yang seharusnya dipegang orang tua.

Psikolog Gregory Jurkovic banyak menulis tentang hal ini, termasuk dalam bukunya Lost Childhoods: The Plight of the Parentified Child.

Jurkovic membedakan dua bentuk peran ini.

Ada peran yang bersifat praktis atau instrumental, seperti mengurus adik, memasak, atau mengatur keperluan rumah.

Ada juga peran emosional, seperti menjadi tempat curhat orang tua, penengah konflik, atau penjaga perasaan seisi rumah.

Menurut Jurkovic, tidak semua tanggung jawab di masa kecil itu merugikan.

Yang membuatnya berat adalah ketika tanggung jawab itu terlalu besar untuk usia anak, berlangsung lama, tidak diakui, dan tidak diimbangi dengan perhatian untuk kebutuhan si anak sendiri.

Aku membaca itu dan merasa seperti sedang membaca ringkasan masa kecilku.

Bukan karena orang tuaku jahat, tapi karena keadaan membuat mereka bersandar padaku lebih dari yang seharusnya ditanggung seorang anak.


Aku Tidak Ingin Menyalahkan, Tapi Aku Ingin Jujur

Aku tahu ibuku berjuang keras dengan cara yang dia bisa.

Dia sendiri sedang tenggelam, dan aku adalah orang terdekat yang bisa dia raih.

Aku tidak ingin menjadikannya penjahat dalam ceritaku.

Tapi aku juga tidak mau terus berpura-pura bahwa semua itu tidak meninggalkan bekas.

Dua hal itu bisa benar sekaligus: ibuku mencintaiku, dan aku kehilangan sebagian masa kecilku.

Aku juga mulai melihat adikku dengan cara yang lebih lembut.

Aku bukan lagi pengganti orang tuanya, dan dia sudah cukup besar untuk mengurus dirinya sendiri, jadi aku boleh menjadi kakak saja.


Aku Mulai Belajar Menerima, Bukan Hanya Memberi

Aku mulai mencoba hal-hal kecil yang dulu terasa mustahil.

Aku belajar berkata, “Aku tidak bisa bantu kali ini,” tanpa merasa harus menjelaskan panjang lebar.

Aku mulai membiarkan teman-temanku tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja.

Aku juga mencoba memperhatikan saat aku otomatis mengambil alih masalah orang lain, lalu bertanya, “Ini sebenarnya tanggung jawab siapa?”

Rasanya canggung, seperti memakai sepatu orang lain.

Tapi pelan-pelan aku merasakan sesuatu yang jarang kurasakan: istirahat.

Karena luka ini cukup dalam, aku juga mulai mempertimbangkan untuk membicarakannya dengan psikolog, supaya aku tidak harus menguraikannya sendirian.


Aku Mencoba Merawat Anak Kecil Itu

Kadang aku membayangkan diriku yang berumur sepuluh tahun, berdiri di dapur sambil menyiapkan makanan untuk adiknya.

Aku ingin bilang padanya bahwa dia sudah sangat berani.

Aku juga ingin bilang bahwa dia tidak seharusnya menanggung semua itu sendirian.

Sekarang aku yang bisa memberinya hal yang dulu tidak dia dapat: izin untuk lelah, izin untuk takut, dan izin untuk dirawat.


Penutup

Aku masih orang yang peduli, dan aku tidak ingin kehilangan itu.

Tapi aku ingin peduli karena memilih, bukan karena merasa tidak punya pilihan lain.

Aku tumbuh terlalu cepat karena keadaan memintaku begitu, dan itu bukan salahku.

Sekarang aku belajar menjadi anak lagi, setidaknya untuk diriku sendiri, yang selama ini menunggu untuk dirawat.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya