Sudah Berusaha Keras, Tapi Tetap Merasa Kurang
Ada anak perempuan yang tumbuh dengan perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Nilainya bagus, sikapnya sopan, kariernya berjalan, tapi di dalam selalu ada suara yang berkata, “Masih belum cukup.”
Ia sering merasa harus menebak suasana hati ibunya, dan merasa bersalah setiap kali punya keinginan sendiri.
Karyl McBride, seorang terapis pernikahan dan keluarga di Amerika Serikat, menulis tentang pengalaman ini dalam bukunya Will I Ever Be Good Enough?, yang terbit pada tahun 2008.
Buku ini membahas hubungan antara anak perempuan dan ibu yang memiliki sifat-sifat narsistik, serta bagaimana pola itu memengaruhi kehidupan sang anak sampai dewasa.
Narsisme sebagai Spektrum
McBride menjelaskan bahwa sifat narsistik ada dalam sebuah spektrum.
Tidak semua ibu yang dibahas dalam buku ini memenuhi kriteria gangguan kepribadian narsistik.
Ada yang hanya memiliki beberapa sifat, dan ada yang polanya jauh lebih kuat.
Buku ini juga tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis ibu siapa pun dari luar.
Yang lebih penting menurut McBride adalah memahami dampaknya pada anak, dan mengakui bahwa pengalaman itu nyata.
Kurangnya Empati dan Cermin yang Hangat
Salah satu ciri utama yang dibahas McBride adalah kurangnya empati terhadap perasaan anak.
Anak membutuhkan orang tua yang mampu memantulkan perasaannya, seperti cermin yang berkata, “Aku melihatmu, dan perasaanmu masuk akal.”
Menurut McBride, ibu dengan sifat narsistik sering kesulitan melakukannya, karena perhatiannya lebih banyak tertuju pada kebutuhan, citra, dan perasaannya sendiri.
Akibatnya, anak perempuan bisa merasa bahwa perasaannya tidak penting, atau hanya dianggap penting kalau sesuai dengan keinginan ibunya.
Anak sebagai Perpanjangan Diri Sang Ibu
McBride juga menulis bahwa dalam hubungan seperti ini, anak perempuan sering diperlakukan sebagai perpanjangan diri ibunya.
Penampilan, prestasi, dan pilihan hidupnya menjadi cerminan bagi citra sang ibu.
Ketika anak berhasil, keberhasilan itu bisa terasa seperti milik ibunya.
Ketika anak gagal atau memilih jalan berbeda, ia bisa merasa seolah sedang mempermalukan atau mengkhianati ibunya.
Pola ini membuat banyak anak perempuan kesulitan membedakan mana keinginannya sendiri dan mana keinginan yang ia warisi.
Dua Cara Bertahan yang Berbeda
Menurut McBride, anak perempuan dalam situasi ini sering tumbuh dengan salah satu dari dua pola.
Sebagian menjadi sangat berprestasi, terus mengejar pencapaian dengan harapan suatu hari akhirnya akan merasa cukup.
Sebagian lainnya justru cenderung menyabotase diri sendiri, seolah sudah yakin sejak awal bahwa mereka tidak akan pernah berhasil.
Keduanya tampak berlawanan, tapi menurut McBride bisa berakar dari keyakinan yang sama: bahwa dirinya tidak cukup berharga apa adanya.
Pola ini juga bisa terbawa ke hubungan dewasa.
Sebagian anak perempuan, menurut McBride, tanpa sadar tertarik pada pasangan atau teman yang dinamikanya terasa akrab, yaitu orang yang sulit dipuaskan dan jarang menunjukkan empati.
Ada juga yang kesulitan memercayai cinta yang tulus, karena kasih sayang tanpa syarat terasa asing bagi mereka.
Mengenali pola ini adalah langkah awal untuk tidak terus mengulangnya.
Jalan Pulih Menurut McBride
McBride menawarkan proses pemulihan yang ia susun dalam beberapa tahap.
Tahap awal adalah menerima kenyataan dan berduka, yaitu mengakui bahwa ibu mungkin tidak akan pernah memberikan kasih sayang yang selama ini ditunggu.
Duka ini tidak mudah, karena melepaskan harapan bisa terasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat besar.
Tahap berikutnya adalah memisahkan diri secara psikologis, yaitu mengenali siapa dirimu di luar harapan dan penilaian ibumu.
Tahap selanjutnya adalah memutus warisan pola itu, agar tidak terulang dalam hubungan dengan pasangan, teman, atau anak-anakmu sendiri.
Proses ini bisa membuka banyak luka lama, jadi menjalaninya bersama psikolog atau tenaga profesional bisa sangat membantu.
Langkah Kecil untuk Memulai
Coba perhatikan suara “belum cukup” di kepalamu, lalu tanyakan, “Ini sebenarnya suara siapa?”
Tuliskan satu keinginan kecil yang benar-benar milikmu, tanpa memikirkan apakah ibumu akan menyetujuinya.
Izinkan dirimu merasakan kecewa dan sedih atas apa yang tidak kamu dapatkan, tanpa harus membenci siapa pun.
Kamu juga bisa mulai mengenali orang-orang yang membuatmu merasa diterima apa adanya, dan meluangkan lebih banyak waktu bersama mereka.
Cukup Bukan Sesuatu yang Harus Dibuktikan
Pesan paling penting dari buku ini adalah bahwa rasa tidak cukup itu tumbuh dari hubungan, bukan dari kekurangan dirimu.
Kamu tidak perlu menunggu ibumu berubah untuk mulai memperlakukan dirimu dengan hangat.
Rasa cukup bisa dibangun pelan-pelan, dari dalam, oleh dirimu sendiri.
Dan ketika suatu hari kamu berhasil memperlakukan dirimu dengan lebih lembut, itu bukan pengkhianatan pada ibumu.
Itu adalah bentuk merawat anak perempuan di dalam dirimu yang dulu terus menunggu untuk dilihat.
Referensi
Judul buku: Will I Ever Be Good Enough? Healing the Daughters of Narcissistic Mothers
Penulis: Karyl McBride (2008)
Buku ini membahas dampak ibu dengan sifat-sifat narsistik terhadap anak perempuan, mulai dari rasa tidak pernah cukup hingga kesulitan mengenali diri sendiri, serta menawarkan tahapan pemulihan untuk berduka, memisahkan diri, dan memutus pola tersebut.

