← Semua artikel

Aku Di-ghosting, Tapi yang Paling Menyakitkan Justru Suara yang Terus Menyalahkan Diriku

20 Oktober 2026·Toro
Aku Di-ghosting, Tapi yang Paling Menyakitkan Justru Suara yang Terus Menyalahkan Diriku

Pesan Terakhirku Masih Centang Dua, Tanpa Balasan

Sudah tiga minggu sejak pesan terakhirku tidak dibalas.

Sebelumnya, kami bicara hampir setiap hari. Dia yang lebih dulu menyapa di pagi hari, dia juga yang sering bilang tidak sabar ingin ketemu lagi.

Lalu tiba-tiba semuanya berhenti.

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kalimat perpisahan. Hanya hening yang makin panjang.

Aku masih bisa melihat dia aktif di media sosial. Itu yang membuatku makin bingung.


Aku Mulai Mengisi Kekosongan dengan Menyalahkan Diri

Karena dia tidak memberi alasan, otakku mulai membuat alasan sendiri.

Mungkin aku terlalu cepat membalas pesan. Mungkin aku terlalu banyak cerita tentang diriku.

Mungkin waktu terakhir ketemu, leluconku terdengar aneh. Mungkin dia melihat sesuatu yang membosankan dariku.

Aku membuka ulang percakapan kami dari awal, seperti detektif yang mencari kesalahan di tempat kejadian.

Setiap kalimat yang dulu terasa manis, sekarang kubaca dengan curiga. Di mana aku salah langkah?

Dan setiap kali aku tidak menemukan jawabannya, kesimpulanku selalu sama: pasti ada yang salah dengan diriku.


Aku Malu Karena Ini Terasa Begitu Sakit

Yang membuatku makin tidak nyaman, aku merasa tidak pantas sesakit ini.

Kami baru kenal beberapa bulan. Kami bahkan belum resmi apa-apa.

Teman-temanku bilang, “Ya sudah, cari yang lain saja.” Mereka benar, tapi dadaku tetap terasa berat.

Aku jadi menyalahkan diriku dua kali. Pertama, karena mungkin aku yang membuatnya pergi. Kedua, karena aku terlalu lemah untuk cepat melupakannya.

Rasanya seperti dihukum oleh orang lain, lalu dihukum lagi oleh diriku sendiri.

Di kantor aku tetap tersenyum, tetap mengerjakan tugas seperti biasa. Tapi setiap kali ponselku bergetar, jantungku ikut melompat, berharap itu namanya.

Dan setiap kali ternyata bukan, aku merasa sedikit lebih bodoh karena masih berharap.


Aku Membaca Tentang Penolakan yang Terasa Seperti Luka

Suatu malam, aku menemukan tulisan tentang sebuah penelitian dari Naomi Eisenberger, Matthew Lieberman, dan Kipling Williams yang terbit di jurnal Science pada 2003.

Dalam penelitian itu, para peserta bermain permainan lempar bola virtual bernama Cyberball sambil otaknya dipindai. Di satu bagian permainan, peserta tiba-tiba tidak lagi diberi bola, seolah sengaja dikucilkan.

Saat dikucilkan, area otak bernama dorsal anterior cingulate cortex menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi. Area ini juga sering dikaitkan dengan sisi tidak menyenangkan dari rasa sakit fisik.

Peserta yang melaporkan merasa lebih tertekan cenderung menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi di area itu.

Para peneliti menafsirkan ini sebagai tanda bahwa rasa sakit sosial dan rasa sakit fisik mungkin berbagi sebagian mekanisme yang sama di otak, meski para ilmuwan masih terus membahas seberapa jauh kemiripan itu.

Aku tertegun membacanya. Itu hanya permainan lempar bola dengan orang yang tidak dikenal, dan pengucilan kecil itu saja sudah bisa terasa menyakitkan.

Jadi wajar kalau menghilangnya seseorang yang dulu menyapaku setiap pagi terasa sesakit ini.

Rasa sakitku bukan tanda aku lemah atau berlebihan. Mungkin itu memang cara manusia merespons penolakan.


Aku Mulai Memisahkan Rasa Sakit dari Rasa Bersalah

Penelitian itu tidak menjelaskan kenapa dia pergi. Tidak ada yang bisa menjelaskannya kecuali dia sendiri.

Tapi penelitian itu membantuku melihat satu hal: rasa sakit dan rasa bersalah adalah dua hal yang berbeda.

Aku boleh merasa sakit karena ditinggalkan tanpa kabar. Itu respons yang manusiawi.

Tapi rasa sakit itu tidak otomatis berarti aku sudah melakukan kesalahan besar.

Ghosting meninggalkan ruang kosong tanpa jawaban. Dan selama ini, aku mengisi ruang itu dengan versi cerita yang paling menyakitkan untuk diriku sendiri.


Aku Mencoba Berhenti Menginterogasi Masa Lalu

Aku mulai dengan hal kecil. Aku mengarsipkan percakapan kami supaya tidak terus membacanya ulang setiap malam.

Setiap kali muncul pikiran “pasti karena aku terlalu ini” atau “terlalu itu”, aku mencoba bertanya, apakah aku benar-benar tahu, atau aku hanya menebak?

Hampir selalu jawabannya: aku hanya menebak.

Aku juga mulai jujur pada satu sahabat. Bukan untuk mencari pembenaran, tapi supaya aku tidak sendirian menanggung pikiran yang berputar-putar.

Menariknya, saat aku menceritakannya keras-keras, beberapa tuduhanku pada diri sendiri terdengar tidak masuk akal.

Sahabatku hanya bertanya pelan, “Kalau aku yang mengalami ini, apa kamu juga akan bilang ini salahku?” Aku langsung menjawab tidak.


Aku Belajar Bahwa Diamnya Adalah Pilihannya

Pelan-pelan aku mengerti, cara seseorang pergi lebih banyak menunjukkan kemampuannya menghadapi percakapan yang sulit, bukan nilai diriku.

Mungkin dia sedang punya alasan sendiri. Mungkin dia tidak tahu cara mengatakannya. Aku tidak akan pernah tahu pasti.

Dan aku mulai belajar berdamai dengan ketidakpastian itu, tanpa memaksanya menjadi bukti bahwa aku tidak cukup.


Penutup

Masih ada hari ketika aku refleks membuka profilnya, lalu dadaku terasa sesak lagi.

Bedanya sekarang, aku tidak langsung menghakimi diriku karena masih merasakannya.

Aku memperlakukan rasa sakit itu seperti luka yang sedang sembuh, bukan sebagai hukuman yang pantas kuterima.

Ditinggalkan tanpa penjelasan memang menyakitkan, tapi diamnya tidak pernah menjadi bukti bahwa aku tidak berharga.

Aku boleh terluka tanpa harus menjadi tersangka dalam cerita yang bahkan tidak pernah dia jelaskan.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya