← Semua artikel

Aku Dulu Paling Semangat di Kantor, Sekarang Aku Bahkan Tidak Peduli Lagi

23 Oktober 2026·Toro
Aku Dulu Paling Semangat di Kantor, Sekarang Aku Bahkan Tidak Peduli Lagi

Aku Pernah Jadi Orang yang Paling Bersemangat

Aku masih ingat hari pertamaku bekerja.

Aku datang setengah jam lebih awal, membawa buku catatan baru, dan menulis semua yang dijelaskan atasanku.

Aku ingin membuktikan bahwa aku pantas diterima di sini. Aku ingin dikenal sebagai orang yang bisa diandalkan.

Jadi setiap ada pekerjaan tambahan, aku bilang iya. Setiap ada pesan di malam hari, aku langsung membalas.

Waktu itu, rasa lelah terasa seperti bukti bahwa aku sedang berjuang.


Pelan-Pelan, Semua Terasa Berat

Sekitar satu setengah tahun kemudian, sesuatu berubah.

Aku bangun pagi dengan perasaan berat, bahkan sebelum membuka mata. Hari Minggu sore mulai terasa menakutkan.

Tidur delapan jam tidak lagi membuatku segar. Aku lelah dengan cara yang tidak bisa diperbaiki oleh akhir pekan.

Aku masih mengerjakan semuanya, tapi seperti mesin yang dipaksa tetap menyala.

Aku mulai sering sakit kepala. Aku makan siang di depan laptop, dan kadang lupa makan sama sekali.

Teman-temanku mengajak bertemu, tapi aku selalu menolak. Setelah seharian bekerja, aku tidak punya tenaga untuk berbicara dengan siapa pun.


Aku Mulai Tidak Peduli, dan Itu Menakutkanku

Yang paling membuatku takut bukan rasa lelahnya, tapi rasa tidak pedulinya.

Dulu aku senang membantu klien. Sekarang setiap pesan dari mereka terasa mengganggu. Aku mulai membalas dengan singkat dan dingin.

Aku juga mulai sinis. Setiap kali ada rapat tentang target baru, aku cuma berpikir, “Buat apa, toh nanti juga begitu lagi.”

Dan pelan-pelan, aku merasa tidak ada lagi yang kukerjakan dengan baik. Aku merasa tidak kompeten, padahal hasil kerjaku sebenarnya tidak berubah jauh.

Aku bertanya pada diriku sendiri, ke mana perginya orang yang dulu datang setengah jam lebih awal itu?


Aku Membaca Tentang Tiga Wajah Burnout

Suatu malam, aku membaca tentang psikolog Christina Maslach, yang sudah lama meneliti burnout dan ikut mengembangkan alat ukur yang dikenal sebagai Maslach Burnout Inventory.

Maslach menggambarkan burnout sebagai respons terhadap stres kerja yang berkepanjangan, dengan tiga dimensi.

Yang pertama adalah kelelahan emosional, yaitu perasaan terkuras habis dan kehabisan tenaga.

Yang kedua adalah sinisme atau depersonalization, yaitu sikap menjauh, dingin, dan tidak lagi peduli pada pekerjaan atau orang-orang yang dilayani.

Yang ketiga adalah menurunnya rasa mampu dan berprestasi, yaitu perasaan bahwa apa pun yang kita lakukan tidak ada artinya.

Aku membaca tiga poin itu dan merasa seperti sedang membaca catatan harianku sendiri.

Maslach dan rekannya juga menekankan bahwa burnout sangat berkaitan dengan kondisi kerja, misalnya beban kerja yang terlalu besar, kurangnya kendali, imbalan dan pengakuan yang tidak sepadan, hubungan kerja yang renggang, rasa tidak adil, dan nilai yang tidak sejalan.

Artinya, burnout bukan sekadar tanda seseorang kurang kuat. Ada hubungan antara orang dan lingkungan kerjanya yang sedang tidak seimbang.


Aku Berhenti Menyebut Diriku Malas

Selama ini aku mengira rasa tidak peduliku adalah tanda aku malas atau tidak tahu terima kasih.

Setelah membaca tentang Maslach, aku melihatnya dengan cara berbeda. Rasa tidak peduli itu mungkin cara diriku bertahan setelah terlalu lama memberi tanpa jeda.

Aku juga sadar, semangat berlebihanku di awal ikut berperan. Aku tidak pernah memberi batas, jadi semua orang terbiasa mengandalkanku kapan saja.

Itu bukan sepenuhnya salahku, dan juga bukan sepenuhnya salah kantorku. Tapi itu sesuatu yang perlu kuubah.

Aku juga sadar, sebagai pekerja baru, aku tidak pernah benar-benar tahu batas wajar itu seperti apa. Aku mengira semua orang yang serius bekerja memang harus selalu tersedia.

Ternyata rekan-rekan yang sudah lama bekerja justru lebih pandai menjaga waktunya. Mereka tidak kurang berdedikasi, mereka hanya lebih tahu cara bertahan.


Aku Mulai Bicara dan Membuat Batas

Langkah pertamaku terasa menakutkan. Aku meminta waktu bicara dengan atasanku.

Aku tidak bilang aku burnout. Aku hanya bilang aku merasa bebanku terlalu banyak, dan aku ingin membahas prioritas.

Ternyata atasanku tidak tahu seberapa banyak tugas tambahan yang selama ini kuambil. Kami memindahkan dua tugas ke rekan lain.

Aku juga mulai mematikan notifikasi kerja setelah jam delapan malam. Awalnya aku cemas, tapi ternyata dunia tidak runtuh.


Aku Mencari Lagi Hal Kecil yang Bermakna

Aku mencoba mengingat kembali kenapa dulu aku memilih pekerjaan ini.

Aku mulai menulis satu hal kecil yang berjalan baik setiap hari, misalnya klien yang berterima kasih atau masalah yang berhasil kuselesaikan.

Aku juga mulai ambil cuti, benar-benar cuti, tanpa membuka email kantor.

Dan aku berjanji pada diriku, kalau rasa lelah ini tidak membaik atau mulai memengaruhi hidupku di luar pekerjaan, aku akan berbicara dengan psikolog atau tenaga profesional.


Penutup

Aku belum kembali menjadi orang yang datang setengah jam lebih awal, dan mungkin aku tidak perlu kembali menjadi dia.

Aku sedang belajar menjadi pekerja yang bisa bertahan lama, bukan hanya bersinar sebentar lalu padam.

Ternyata rasa tidak peduliku bukan tanda aku orang yang buruk, melainkan tanda aku sudah terlalu lama memberi tanpa diisi kembali.

Aku masih ingin bekerja dengan sepenuh hati, tapi kali ini dengan hati yang juga kujaga.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya