Semua Orang Menangis, Kecuali Aku
Waktu nenekku meninggal, semua orang di rumah menangis.
Ibuku, tanteku, bahkan sepupuku yang jarang bertemu nenek.
Aku berdiri di sana, membantu menata kursi, menyiapkan air minum, dan menyapa tamu.
Mataku kering.
Bukan karena aku tidak sayang nenek, aku sangat sayang padanya.
Tapi rasanya ada sesuatu yang tersumbat, seperti air mata itu tidak tahu jalan keluar.
Beberapa orang memujiku tegar, dan aku hanya mengangguk, karena aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.
Aku Tahu Ada yang Salah, Tapi Tidak Tahu Apa Namanya
Malam itu, aku berbaring dan merasakan dadaku berat.
Perutku tidak enak, kepalaku pusing, dan aku tidak bisa tidur.
Tapi kalau ada yang bertanya aku sedang merasa apa, aku tidak bisa menjawab.
Sedih? Marah? Takut? Semuanya terasa seperti kabut yang sama.
Aku hanya tahu tubuhku tidak nyaman.
Ini bukan pertama kalinya.
Saat putus cinta dulu, aku juga tidak menangis, tapi berhari-hari sakit kepala dan kehilangan nafsu makan.
Aku selalu mengira itu cuma kecapekan.
Teman-temanku sering bilang aku orang yang santai, tidak pernah terlihat panik atau terpuruk.
Aku dulu bangga dengan julukan itu, sampai aku sadar bahwa santai dan mati rasa ternyata bisa terlihat sangat mirip dari luar.
Di Rumahku, Perasaan Jarang Dibicarakan
Aku mulai mengingat masa kecilku.
Di rumah, kami jarang membicarakan perasaan.
Kalau aku menangis, biasanya aku ditanya kenapa, lalu disuruh berhenti karena “masalahnya kecil”.
Orang tuaku bukan orang jahat, mereka hanya tumbuh dengan cara yang sama.
Bagi mereka, kuat berarti tidak menunjukkan apa-apa.
Jadi aku belajar mengurus masalah dengan bertindak, bukan dengan merasakan.
Ada yang sakit, aku bantu. Ada yang sedih, aku sibukkan diri.
Lama-lama aku jadi sangat pandai mengurus keadaan, tapi sangat asing dengan isi hatiku sendiri.
Aku Membaca Tentang Alexithymia
Suatu hari aku menemukan sebuah istilah yang membuatku berhenti membaca cukup lama: alexithymia.
Istilah ini diperkenalkan oleh psikiater Peter Sifneos pada tahun 1970-an, dari bahasa Yunani yang kira-kira berarti “tidak punya kata untuk perasaan”.
Sifneos mengamati beberapa pasiennya yang kesulitan mengenali dan menggambarkan emosi mereka sendiri, dan cenderung lebih banyak membicarakan keluhan fisik atau kejadian di luar diri.
Para peneliti kemudian menggambarkan alexithymia lewat beberapa ciri: sulit mengenali perasaan, sulit membedakan perasaan dari sensasi tubuh, sulit mengungkapkan perasaan kepada orang lain, dan pola pikir yang lebih terarah ke hal-hal luar daripada ke dunia batin.
Yang membuatku lega, alexithymia bukan diagnosis penyakit, melainkan sifat yang ada dalam rentang, dan setiap orang bisa berada di titik yang berbeda.
Aku tidak tahu persis di mana posisiku, dan aku tidak ingin melabeli diriku sendiri.
Tapi deskripsi itu terasa seperti seseorang akhirnya menjelaskan kabut yang selama ini ada di kepalaku.
Mungkin aku sulit menangis bukan karena aku tidak merasakan apa-apa, tapi karena aku belum belajar mengenali apa yang kurasakan.
Tubuhku Ternyata Sudah Bicara Sejak Lama
Setelah itu, aku mulai melihat sakit kepala dan perut yang tidak enak dengan cara lain.
Mungkin itu bukan sekadar kecapekan.
Mungkin itu kesedihan yang tidak menemukan kata, jadi ia muncul lewat tubuh.
Aku tidak sedang menyimpulkan bahwa semua sakit fisikku berasal dari emosi, karena itu juga tidak tepat.
Tapi aku mulai bertanya pada diriku sendiri, setiap kali tubuhku terasa berat, apa yang terjadi hari ini.
Jawabannya sering kali ada di sana, menunggu untuk diperhatikan.
Aku Belajar Menamai Perasaan Pelan-Pelan
Aku mulai dari hal yang sangat sederhana.
Setiap malam, aku menulis satu atau dua kata tentang perasaanku hari itu.
Awalnya aku hanya bisa menulis “capek” atau “biasa saja”.
Lalu aku mencoba lebih spesifik: kecewa, kesepian, iri, malu, rindu.
Aku bahkan mencari daftar kata-kata perasaan, karena ternyata kosakataku untuk emosi sangat sedikit.
Pelan-pelan, aku mulai bisa membedakan sedih yang tenang dengan sedih yang marah.
Aku juga mulai bercerita pada satu teman yang kupercaya, bukan untuk minta solusi, hanya untuk mencoba mengucapkan perasaanku dengan suara.
Aku sadar ini mungkin butuh waktu lama, dan kalau suatu hari terasa terlalu berat sendirian, aku ingin mencoba berbicara dengan psikolog.
Akhirnya Aku Menangis
Beberapa bulan setelah nenek pergi, aku menemukan foto lama kami berdua di laci.
Aku menatapnya, lalu menulis di buku catatanku: “aku rindu nenek, dan aku menyesal tidak sempat berpamitan dengan benar.”
Begitu kalimat itu selesai, air mataku turun.
Bukan tangisan yang dramatis, hanya pelan dan lama.
Aku tidak buru-buru menghapusnya, dan aku tidak menyuruh diriku berhenti seperti yang dulu sering kudengar.
Aku membiarkannya selesai sendiri.
Tapi itu tangisan pertama yang terasa benar-benar milikku.
Penutup
Aku dulu mengira aku orang yang tidak bisa sedih.
Ternyata aku hanya orang yang belum pernah diajari cara menamai sedihnya.
Air mataku tidak hilang, ia hanya menunggu aku menemukan kata yang tepat.
Dan sekarang, satu kata demi satu kata, aku sedang belajar pulang ke perasaanku sendiri.

