Rumah Ini Terlalu Sepi Sekarang
Namanya Mochi.
Ia kucing oranye yang kutemukan di depan kos saat aku baru pindah ke kota ini, kurus dan basah kehujanan.
Selama bertahun-tahun, ia yang menyambutku setiap kali aku pulang.
Ia tidur di dekat kakiku saat aku begadang mengerjakan tugas.
Ia duduk di pangkuanku saat aku menangis karena patah hati.
Di kota yang asing dan jauh dari keluarga, ia adalah satu-satunya yang selalu ada setiap hari tanpa syarat apa pun.
Beberapa minggu lalu, Mochi sakit, dan dalam waktu singkat ia pergi.
“Cuma Kucing, Kan?”
Keesokan harinya, aku tetap masuk kerja karena merasa tidak punya alasan yang cukup untuk izin.
Saat seorang rekan bertanya kenapa mataku bengkak, aku menjawab jujur.
“Oh, kucing. Kirain kenapa,” katanya, lalu kembali menatap layarnya.
Ada juga yang bilang, “Ya udah, adopsi lagi aja, banyak kok.”
Seorang kerabat bahkan tertawa kecil, “Sedih banget sih, cuma hewan.”
Aku ikut tersenyum, padahal rasanya seperti ada yang meremas dadaku.
Aku Mulai Berduka Diam-Diam
Setelah itu, aku berhenti membicarakan Mochi.
Aku menangis hanya di kamar mandi atau di dalam ojek perjalanan pulang.
Aku merasa malu karena sedihku sebesar ini, sementara orang lain menganggapnya hal kecil.
Mangkuk makannya masih ada di sudut dapur, dan aku belum sanggup menyimpannya.
Setiap kali membuka pintu, aku masih menunggu suara langkah kecilnya yang tidak lagi datang.
Aku tidak tahu harus menaruh kesedihan ini di mana.
Kalau yang pergi adalah manusia, setidaknya ada doa bersama, ucapan belasungkawa, dan orang-orang yang datang menemani.
Untuk Mochi, tidak ada satu pun dari itu, seolah kehilangannya tidak pernah terjadi.
Rasa Bersalah yang Datang Bersama Duka
Selain sedih, ada rasa bersalah yang terus menghantuiku.
Aku bertanya-tanya, seandainya aku lebih cepat menyadari bahwa ia sakit, apakah ia masih ada di sini?
Seandainya aku tidak terlalu sibuk minggu itu, apakah aku bisa membawanya ke dokter lebih awal?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar setiap malam sebelum tidur.
Aku tidak bisa membicarakannya dengan siapa pun, karena aku takut lagi-lagi mendengar, “Udahlah, cuma kucing.”
Jadi rasa bersalah itu kusimpan sendiri, bertumpuk bersama rindu yang juga tidak punya tempat.
Aku merasa terjebak antara sedih yang tidak boleh terlihat dan pertanyaan yang tidak pernah punya jawaban.
Aku Belajar Tentang Duka yang Tidak Diakui
Suatu malam aku membaca tentang istilah disenfranchised grief dari Kenneth Doka, seorang ahli di bidang duka dan kehilangan.
Doka menggunakan istilah ini untuk duka yang tidak diakui secara terbuka, tidak dianggap pantas, atau tidak didukung oleh lingkungan sosial.
Menurutnya, ini bisa terjadi ketika hubungan kita dengan yang pergi tidak dianggap penting oleh orang lain, atau ketika kehilangannya sendiri tidak dipandang sebagai kehilangan yang “serius”.
Kehilangan hewan peliharaan sering disebut sebagai salah satu contohnya.
Dukanya nyata, tapi tidak ada ruang, ritual, atau izin sosial untuk merasakannya.
Membaca itu membuatku merasa sedikit lega.
Ternyata aku bukan terlalu lebay.
Aku sedang berduka, hanya saja dukaku tidak diakui oleh orang-orang di sekitarku.
Aku Memberi Izin pada Diriku Sendiri
Kalau orang lain tidak mengakui dukaku, setidaknya aku bisa mengakuinya sendiri.
Aku mulai berkata pada diriku, “Aku kehilangan teman yang menemaniku bertahun-tahun, dan wajar kalau aku sedih.”
Aku berhenti membandingkan dukaku dengan duka orang lain.
Kehilangan tidak harus diukur dulu untuk boleh dirasakan.
Aku juga mencoba berbicara lebih lembut pada diriku tentang rasa bersalah itu.
Aku merawatnya sebaik yang aku tahu saat itu, dan cinta yang kuberikan selama bertahun-tahun tidak terhapus oleh satu minggu yang sibuk.
Kalimat itu belum sepenuhnya kupercaya, tapi aku mengulanginya setiap kali pertanyaan “seandainya” muncul lagi.
Aku Membuat Perpisahan Kecil
Karena tidak ada upacara apa pun untuk Mochi, aku membuatnya sendiri.
Aku mencetak beberapa fotonya dan menempelkannya di sebuah buku kecil.
Di halaman terakhir, aku menulis surat untuknya, tentang hari aku menemukannya dan semua malam yang ia temani.
Aku menangis lama saat menulisnya.
Tapi setelahnya, ada rasa tenang yang belum pernah kurasakan sejak ia pergi.
Aku Menemukan Orang yang Mengerti
Aku juga mulai mencari orang-orang yang pernah merasakan hal yang sama.
Seorang teman lama yang juga pernah kehilangan anjingnya mendengarkan ceritaku sampai larut malam.
Ia tidak bilang “cuma hewan”.
Ia hanya bilang, “Aku tahu rasanya, dan aku ikut sedih.”
Kalimat sesederhana itu ternyata yang paling kubutuhkan sejak awal.
Aku juga menemukan komunitas pemilik hewan di media sosial, tempat orang-orang saling bercerita tentang hewan yang sudah pergi tanpa ada yang menertawakan.
Kalau dukamu terasa terlalu berat dan tidak juga mereda, berbicara dengan psikolog atau konselor duka bisa membantumu merasa tidak sendirian.
Penutup
Mangkuk Mochi kini sudah kucuci dan kusimpan di lemari.
Aku belum siap mengadopsi kucing lain, dan aku tidak memaksakan diri.
Sedihku bukan berlebihan, karena yang kucintai juga bukan hal kecil.
Mochi bukan cuma hewan, ia adalah bagian dari hidupku, dan aku berhak merindukannya.

