Pujian Selalu Membuatku Ingin Menghilang
“Presentasimu tadi bagus banget.”
Kalimat itu sederhana, tapi wajahku langsung panas.
“Ah, nggak kok, tadi banyak salahnya,” jawabku cepat, sebelum orang itu sempat melanjutkan.
Ini bukan kali pertama.
Setiap kali ada yang memuji pekerjaanku, penampilanku, atau caraku memperlakukan orang, aku selalu punya bantahan yang sudah siap.
Aku menyebutnya rendah hati.
Tapi jauh di dalam, rasanya lebih mirip panik.
Rasanya Seperti Pujian Itu Salah Alamat
Saat dipuji, ada suara di kepalaku yang langsung bilang, “Mereka belum tahu yang sebenarnya.”
Seolah aku sedang memakai topeng, dan pujian itu hanya ditujukan pada topengnya.
Anehnya, kritik justru terasa lebih masuk akal.
Kalau ada yang bilang pekerjaanku kurang rapi, aku langsung percaya.
Aku bahkan merasa sedikit lega, seperti akhirnya ada yang melihatku dengan benar.
Aku tidak mengerti kenapa aku lebih nyaman dengan kalimat yang menyakitkan daripada kalimat yang baik.
Aku Tumbuh dengan Gambaran Diri yang Kecil
Kalau kuingat-ingat, aku jarang mendengar pujian saat kecil.
Bukan karena orang-orang di sekitarku jahat, mungkin mereka memang tidak terbiasa mengungkapkannya.
Yang lebih sering kudengar adalah apa yang masih kurang.
Dari situ, perlahan aku membangun gambaran bahwa aku ini biasa saja, bahkan sedikit di bawah rata-rata.
Gambaran itu menetap, bahkan ketika kenyataan di sekitarku mulai menunjukkan hal lain.
Aku Juga Takut pada Harapan yang Datang Bersama Pujian
Ada satu ketakutan lain yang baru berani kuakui.
Setiap pujian terasa seperti janji yang harus kutepati di masa depan.
Kalau hari ini presentasiku dianggap bagus, berarti presentasi berikutnya juga harus bagus.
Kalau hari ini aku dibilang baik hati, berarti aku tidak boleh sekali pun terlihat lelah atau kesal.
Dengan membantah pujian, aku seperti menurunkan harapan orang lain sebelum mereka sempat kecewa.
Rasanya lebih aman dianggap biasa saja, karena dari situ aku tidak akan jatuh terlalu jauh.
Tapi menjaga diri tetap kecil ternyata juga melelahkan.
Aku terus bekerja keras, lalu terus menyangkal hasil kerjaku sendiri, sampai aku tidak pernah merasakan bangga atas apa pun.
Aku Belajar Tentang Self-Verification
Aku kemudian membaca tentang self-verification theory dari psikolog William Swann.
Swann berpendapat bahwa manusia tidak hanya ingin dipandang baik, tapi juga ingin dipandang sesuai dengan cara mereka memandang dirinya sendiri.
Gambaran diri yang stabil membuat dunia terasa lebih bisa ditebak, dan membuat kita merasa dikenal.
Yang mengejutkanku, menurut penelitian Swann dan rekan-rekannya, keinginan ini juga berlaku pada orang yang memandang dirinya secara negatif.
Mereka cenderung lebih memilih dan lebih memercayai umpan balik yang sesuai dengan pandangan negatif itu, meski secara emosional umpan balik itu tetap terasa menyakitkan.
Aku membaca penjelasan itu berulang kali.
Jadi, rasa canggungku saat dipuji bukan karena aku tidak ingin dihargai.
Pujian itu mengguncang gambaran diri yang sudah lama kupegang, dan guncangan itu terasa menakutkan.
Aku Melihat Pola Ini di Banyak Tempat
Setelah menyadarinya, aku melihat pola ini muncul di mana-mana.
Aku lebih nyaman berteman dengan orang yang sering meremehkanku dengan bercanda.
Aku sering merasa curiga pada orang yang terlalu baik padaku.
Aku bahkan pernah menolak kesempatan di kantor, karena merasa mereka pasti salah menilai kemampuanku.
Bahkan dalam hal kecil, seperti saat teman bilang aku cocok memakai warna tertentu, aku langsung mencari alasan kenapa ia pasti hanya berbasa-basi.
Semua itu membuat gambaran diriku tetap aman, sekaligus tetap kecil.
Aku mulai bertanya-tanya, berapa banyak kesempatan, hubungan, dan kebaikan yang sudah kutolak hanya karena tidak sesuai dengan cerita lama tentang diriku.
Jawabannya membuatku sedih, tapi juga membuatku ingin berubah.
Aku Mencoba Berhenti Membantah
Langkah pertamaku sangat sederhana.
Setiap kali dipuji, aku berusaha hanya mengucapkan, “Terima kasih.”
Tanpa “tapi”, tanpa “sebenarnya”, tanpa daftar kekurangan.
Rasanya seperti menahan bersin.
Ada dorongan kuat untuk menambahkan sesuatu yang merendahkan diri sendiri.
Tapi aku mencoba diam sejenak, membiarkan rasa canggung itu ada tanpa langsung kusingkirkan.
Anehnya, tidak ada hal buruk yang terjadi setelah aku hanya berterima kasih.
Orang yang memujiku tersenyum, percakapan berlanjut, dan dunia tetap baik-baik saja.
Rasa canggung itu memuncak beberapa detik, lalu perlahan mereda dengan sendirinya.
Aku Mulai Mengumpulkan Bukti Lain
Aku juga mulai menyimpan pesan-pesan baik yang pernah orang kirimkan padaku.
Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk mengimbangi suara di kepalaku yang terus berkata aku tidak cukup.
Saat ragu, aku membacanya lagi dan bertanya, “Kalau ini dikatakan pada temanku, apakah aku akan menganggapnya bohong?”
Jawabannya hampir selalu tidak.
Pelan-pelan, aku mulai memberi ruang bagi kemungkinan bahwa gambaran diriku yang lama mungkin tidak sepenuhnya tepat.
Penutup
Aku masih merasa canggung setiap kali dipuji.
Wajahku masih memanas, dan bantahan masih sering hampir keluar dari mulutku.
Tapi sekarang aku tahu, rasa canggung itu bukan bukti bahwa pujian itu salah.
Itu hanya tanda bahwa aku sedang belajar melihat diriku dengan cara yang baru.
Aku tidak harus langsung percaya pada setiap kebaikan yang dikatakan tentangku.
Tapi aku boleh berhenti menolaknya, dan membiarkannya tinggal sedikit lebih lama.

