Reaksi yang Lebih Besar dari yang Kamu Mau
Atasan menegurmu dengan nada datar, dan tiba-tiba kamu merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi.
Pesan yang tidak kunjung dibalas membuat dadamu sesak, seolah kamu akan ditinggalkan.
Setelahnya kamu bertanya-tanya, kenapa reaksiku sebesar itu untuk hal yang sebenarnya kecil?
Francine Shapiro, psikolog yang mengembangkan terapi EMDR, membahas pertanyaan ini dalam buku Getting Past Your Past yang terbit tahun 2012.
Buku ini ditulis untuk pembaca umum, untuk membantu kita memahami bagaimana pengalaman masa lalu bisa terus memengaruhi perasaan dan perilaku hari ini.
Kenangan yang Belum Terproses
Inti buku ini adalah model yang disebut Shapiro sebagai Adaptive Information Processing.
Menurutnya, otak kita punya sistem alami untuk mengolah pengalaman, termasuk pengalaman yang menyakitkan.
Biasanya, pengalaman yang mengganggu perlahan diproses, sehingga kita bisa mengambil pelajaran darinya dan melanjutkan hidup.
Tapi ketika sebuah pengalaman terlalu berat, Shapiro berpendapat bahwa ingatan itu bisa tersimpan dalam keadaan belum terproses.
Ingatan itu masih membawa emosi, sensasi tubuh, dan keyakinan yang sama seperti saat kejadian itu terjadi.
Ketika Masa Lalu Terpicu oleh Masa Kini
Menurut Shapiro, ingatan yang belum terproses ini bisa terpicu oleh situasi sekarang yang mirip dengan kejadian dulu.
Teguran atasan bisa menyentuh ingatan tentang dimarahi di masa kecil.
Pesan yang tidak dibalas bisa menyentuh ingatan tentang ditinggalkan.
Saat terpicu, yang kita rasakan bukan hanya reaksi pada kejadian hari ini, tapi juga sisa perasaan dari masa lalu.
Inilah kenapa reaksi kita kadang terasa tidak sebanding dengan situasinya, dan kenapa nasihat “jangan dibawa perasaan” sering tidak membantu.
Luka Tidak Harus Selalu Besar
Shapiro juga menekankan bahwa pengalaman yang meninggalkan bekas tidak selalu berupa peristiwa besar seperti kecelakaan atau kekerasan.
Pengalaman yang terlihat lebih kecil, seperti dipermalukan di depan kelas atau terus-menerus merasa diabaikan, juga bisa tersimpan dengan cara yang sama.
Pengalaman seperti ini sering dibahas sebagai trauma dengan “t” kecil, untuk membedakannya dari peristiwa traumatis yang besar.
Dari pengalaman-pengalaman itu, menurut Shapiro, bisa terbentuk keyakinan negatif tentang diri, seperti “Aku tidak cukup baik”, “Aku tidak aman”, atau “Aku tidak punya kendali”.
Keyakinan inilah yang sering ikut terpicu bersama ingatannya.
Ketika seseorang dikritik ringan dan langsung merasa “Aku memang tidak pernah cukup”, bisa jadi yang sedang berbicara bukan situasi hari ini.
Yang berbicara mungkin keyakinan lama yang terbentuk jauh sebelumnya, dan belum pernah mendapat kesempatan untuk diperbarui.
Kenapa Mengerti Saja Kadang Tidak Cukup
Banyak orang sebenarnya sudah tahu dari mana reaksinya berasal.
Mereka bisa berkata, “Aku tahu ini karena masa kecilku,” tapi tubuh dan perasaannya tetap bereaksi dengan cara yang sama.
Shapiro menjelaskan pengalaman ini melalui model yang sama.
Karena ingatan itu tersimpan bersama emosi dan sensasi tubuh aslinya, pemahaman secara logika belum tentu ikut mengubah cara ingatan itu terasa.
Kita bisa paham bahwa kita sudah aman sekarang, sementara bagian lain dari diri kita masih bereaksi seolah bahaya itu belum selesai.
Bagi Shapiro, inilah kenapa pemrosesan ingatan itu sendiri menjadi penting, bukan hanya membicarakannya.
Penjelasan ini bisa sangat melegakan bagi orang yang selama ini menyalahkan diri karena “sudah tahu tapi masih saja begini”.
Sekilas tentang EMDR
EMDR adalah singkatan dari Eye Movement Desensitization and Reprocessing.
Dalam terapi ini, klien diminta mengingat bagian dari pengalaman yang mengganggu sambil memperhatikan stimulasi dua arah, misalnya mengikuti gerakan tangan terapis dengan mata.
Tujuannya, menurut Shapiro, adalah membantu otak melanjutkan proses pengolahan ingatan yang sebelumnya terhenti.
EMDR telah diteliti dalam banyak studi dan direkomendasikan dalam sejumlah pedoman internasional untuk penanganan PTSD, meski cara kerjanya masih terus diteliti.
Shapiro menegaskan bahwa pemrosesan ingatan traumatis dalam EMDR perlu dilakukan bersama terapis yang terlatih, bukan dicoba sendiri.
Apa yang Bisa Dilakukan Pembaca
Buku ini tidak mengajak pembaca melakukan terapi EMDR sendiri.
Yang ditawarkan Shapiro adalah cara mengenali pola: memperhatikan kapan reaksi kita terasa terlalu besar, lalu bertanya, “Perasaan ini mengingatkanku pada apa?”
Ia juga mengajarkan beberapa teknik sederhana untuk menenangkan diri, seperti membayangkan tempat yang terasa aman dan tenang, yang bisa dipakai saat emosi sedang meluap.
Teknik-teknik ini bertujuan membantu kita merasa lebih stabil, bukan untuk membongkar ingatan yang berat seorang diri.
Kalau kamu merasa ada pengalaman masa lalu yang terus mengganggu hidupmu, mencari psikolog atau tenaga profesional yang terlatih dalam penanganan trauma adalah langkah yang bijak.
Memahami Diri dengan Lebih Lembut
Pesan paling penting dari buku ini mungkin adalah cara pandangnya.
Reaksi yang terasa berlebihan bukan tanda bahwa kita lemah atau terlalu sensitif.
Bisa jadi itu tanda ada pengalaman lama yang belum mendapat kesempatan untuk diproses.
Dengan memahami itu, kita bisa memperlakukan diri sendiri dengan lebih sabar, sambil mencari bantuan yang tepat bila diperlukan.
Referensi
Judul buku: Getting Past Your Past: Take Control of Your Life with Self-Help Techniques from EMDR Therapy
Penulis: Francine Shapiro (2012)
Buku ini menjelaskan bagaimana ingatan yang belum terproses dapat memengaruhi emosi dan perilaku saat ini, memperkenalkan dasar-dasar EMDR, dan menawarkan teknik menenangkan diri untuk pembaca umum.

