← Semua artikel

Aku Membenci Tubuhku Setiap Kali Bercermin

5 November 2026·Toro
Aku Membenci Tubuhku Setiap Kali Bercermin

Cermin Itu Selalu Jadi Tempat Aku Menghakimi Diri

Setiap pagi, aku berdiri di depan cermin sebelum berangkat.

Bukan untuk merapikan diri, tapi untuk mencari apa lagi yang salah.

Pipi yang terlalu bulat, perut yang tidak rata, kulit yang tidak semulus orang-orang di layar ponselku.

Aku bisa menghabiskan lama sekali berganti baju, hanya untuk mencari yang paling bisa menyembunyikan tubuhku.

Kalau ada foto bersama teman, hal pertama yang kulihat bukan senyum kami.

Yang kulihat adalah bagian tubuhku yang menurutku paling memalukan.


Aku Tidak Ingat Kapan Ini Dimulai

Mungkin dari komentar-komentar kecil saat aku masih remaja.

“Kok sekarang gendutan?” yang diucapkan sambil tertawa di acara keluarga.

Mungkin juga dari ribuan foto tubuh yang tampak sempurna di media sosial, yang setiap hari lewat di depan mataku.

Aku tidak pernah memutuskan untuk membenci tubuhku.

Rasa itu tumbuh pelan-pelan, sampai akhirnya terasa seperti bagian dari diriku sendiri.


Aku Melewatkan Banyak Hal Karena Tubuhku

Kalau kuhitung, sudah banyak hal yang kulewatkan karena rasa benci ini.

Aku menolak ajakan berenang bersama teman-teman, karena tidak sanggup membayangkan memakai baju renang.

Aku selalu berdiri paling belakang setiap kali ada foto bersama.

Aku pernah membatalkan kencan pertama di menit terakhir, hanya karena merasa wajahku sedang terlihat buruk hari itu.

Aku juga sering diam-diam melewatkan makan, lalu merasa bersalah setiap kali akhirnya makan lebih banyak.

Tubuhku tidak pernah benar-benar menghalangiku melakukan semua itu.

Yang menghalangiku adalah rasa malu yang terus kubawa ke mana-mana.

Aku mulai sadar, rasa benci pada tubuh ternyata tidak hanya mencuri ketenanganku di depan cermin, tapi juga mencuri momen-momen yang seharusnya bisa kunikmati.


Aku Kira Jalan Keluarnya Hanya Satu

Selama bertahun-tahun, aku percaya aku baru boleh merasa baik setelah tubuhku berubah.

Kalau berat badanku turun, kalau kulitku lebih bersih, kalau aku terlihat seperti mereka.

Tapi setiap kali sedikit berubah, standar di kepalaku ikut bergeser.

Selalu ada bagian lain yang belum cukup.

Aku mulai curiga, mungkin masalahnya bukan hanya tubuhku, tapi cara aku memandangnya.


Aku Belajar Tentang Body Appreciation

Aku menemukan tulisan tentang penelitian Tracy Tylka dan Nichole Wood-Barcalow mengenai positive body image dan body appreciation.

Mereka menjelaskan bahwa citra tubuh yang positif bukan sekadar tidak membenci tubuh.

Ia adalah hal tersendiri: menghargai tubuh, menerima dan menghormatinya meski tidak sesuai dengan standar kecantikan yang beredar.

Menurut mereka, orang dengan citra tubuh yang positif cenderung menghargai apa yang bisa dilakukan tubuhnya, bukan hanya penampilannya.

Mereka juga cenderung menyaring pesan dari media dan lingkungan, menerima yang mendukung dan menolak yang merendahkan tubuh.

Bagian yang paling menenangkanku adalah bahwa citra tubuh positif tidak menuntut seseorang mencintai setiap bagian tubuhnya setiap saat.

Ia bisa hadir bersamaan dengan hari-hari ketika kita masih merasa tidak puas.

Aku sadar, selama ini aku hanya mengenal satu cara memandang tubuhku: sebagai sesuatu untuk dinilai.


Aku Mulai Mengingat Apa yang Dilakukan Tubuhku

Aku mencoba latihan kecil sebelum tidur.

Aku menuliskan satu hal yang dilakukan tubuhku hari itu.

Kakiku membawaku naik tangga stasiun yang panjang.

Tanganku memeluk adikku yang sedang sedih.

Paru-paruku terus bernapas, bahkan saat aku tidak memperhatikannya sama sekali.

Awalnya terasa canggung, bahkan sedikit konyol.

Tapi lama-lama, aku mulai melihat tubuhku bukan hanya sebagai objek di cermin, tapi sebagai rumah yang menemaniku setiap hari.


Aku Mulai Menyaring Apa yang Kulihat

Aku berhenti mengikuti beberapa akun yang membuatku merasa buruk setiap kali melihatnya.

Bukan karena mereka salah, tapi karena aku butuh ruang untuk bernapas.

Aku juga mulai menyadari suara di kepalaku saat bercermin.

Ketika suara itu bilang, “Kamu menjijikkan,” aku mencoba menjawab dengan kalimat yang lebih netral.

“Ini tubuhku, dan hari ini ia sudah bekerja keras untukku.”

Aku belum bisa mengatakan bahwa aku mencintai tubuhku.

Tapi aku mulai bisa berhenti menyerangnya.

Aku juga mulai memperhatikan cara aku membicarakan tubuh orang lain.

Ternyata aku sering ikut berkomentar tentang berat badan teman atau artis, tanpa sadar bahwa komentar yang sama selama ini juga kuarahkan pada diriku sendiri.

Pelan-pelan, aku mencoba berhenti, untuk mereka dan juga untukku.


Hari-Hari yang Masih Sulit

Masih ada pagi ketika aku kembali berganti baju berkali-kali.

Masih ada foto yang ingin langsung kuhapus.

Bedanya, sekarang aku tahu bahwa hari buruk tidak berarti aku gagal.

Menghargai tubuh bukan garis finis yang sekali dicapai lalu selesai.

Ia lebih mirip kebiasaan yang harus dilatih berulang kali, terutama di hari-hari ketika suara lama itu kembali terdengar keras.

Di hari seperti itu, aku mencoba bersikap pada diriku seperti aku bersikap pada sahabat yang sedang tidak percaya diri, dengan sabar dan tanpa ejekan.

Kalau rasa benci pada tubuh mulai memengaruhi pola makan, tidur, atau keinginanmu bertemu orang lain, berbicara dengan psikolog atau tenaga profesional bisa sangat membantu.


Penutup

Cermin itu masih ada di kamarku.

Aku masih berdiri di depannya setiap pagi.

Tapi perlahan, aku belajar untuk tidak lagi menjadikannya ruang sidang.

Tubuhku bukan proyek yang harus selesai dulu sebelum aku boleh hidup dengan tenang.

Ia adalah tempat aku hidup, dan ia layak diperlakukan dengan sedikit lebih lembut.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya