← Semua artikel

Aku Menunda Pekerjaan Bukan Karena Malas, Tapi Karena Takut Hasilnya Tidak Sempurna

26 Oktober 2026·Toro
Aku Menunda Pekerjaan Bukan Karena Malas, Tapi Karena Takut Hasilnya Tidak Sempurna

Tenggat Itu Sudah Dekat, dan Aku Masih Belum Mulai

Laporan itu seharusnya kukerjakan sejak minggu lalu.

Aku sudah membuka dokumennya berkali-kali.

Setiap kali, aku menatap halaman kosong itu beberapa menit, lalu menutupnya lagi.

Aku membereskan meja, membalas pesan yang tidak mendesak, menonton satu video yang berubah jadi sepuluh.

Malamnya aku merasa bersalah dan berjanji besok pasti mulai.

Besoknya, hal yang sama terulang.

Orang mungkin akan menyebutku malas, dan jujur, aku juga sering menyebut diriku begitu.

Tapi rasanya bukan malas, karena aku justru sangat peduli pada pekerjaan itu.


Yang Kutakutkan Bukan Pekerjaannya

Butuh waktu lama sampai aku berani jujur pada diriku sendiri.

Yang membuatku menunda bukan pekerjaannya yang berat.

Yang membuatku menunda adalah bayangan bahwa hasilnya nanti tidak sebagus yang seharusnya.

Setiap kali mau mulai, kepalaku langsung membayangkan atasanku membaca laporan itu dan kecewa.

Membayangkan ada yang bilang, “Cuma segini?”

Rasa tidak nyaman itu muncul begitu cepat, dan cara tercepat untuk membuatnya hilang adalah menutup dokumennya.

Lucunya, aku merasa lega selama beberapa menit, lalu rasa bersalah datang lebih besar.


Sejak Kapan Aku Takut Tidak Sempurna

Aku mulai ingat masa sekolah.

Nilai bagus adalah cara paling pasti untuk merasa diterima.

Kalau nilaiku sembilan, pertanyaan yang muncul adalah kenapa bukan sepuluh.

Tidak ada yang berniat jahat, mungkin mereka hanya ingin aku berusaha lebih keras.

Tapi aku tumbuh dengan keyakinan diam-diam bahwa hasil yang biasa saja sama dengan gagal.

Dan kalau aku tidak mencoba sungguh-sungguh, setidaknya aku punya alasan: “aku belum sempat mengerjakannya dengan serius”.

Menunda ternyata jadi tameng, supaya kalau hasilnya buruk, yang dinilai bukan kemampuanku, tapi waktuku yang mepet.


Aku Membaca Tentang Penundaan dan Suasana Hati

Suatu malam, saat sedang menunda lagi, aku justru membaca tentang penundaan.

Aku menemukan tulisan dua peneliti, Fuschia Sirois dan Timothy Pychyl, yang menjelaskan prokrastinasi dengan cara yang belum pernah kupikirkan.

Menurut mereka, menunda sering kali bukan masalah manajemen waktu, melainkan masalah mengelola emosi.

Saat sebuah tugas memicu perasaan tidak enak, entah itu cemas, bosan, ragu, atau takut gagal, menghindarinya memberi rasa lega dalam jangka pendek.

Sirois dan Pychyl menyebutnya sebagai memprioritaskan perbaikan suasana hati jangka pendek di atas tujuan jangka panjang.

Mereka juga menjelaskan bahwa saat menunda, kita seperti menyerahkan beban itu pada “diri kita di masa depan”, seolah-olah ia orang lain yang nanti pasti lebih siap menghadapinya.

Di tulisan lain, Pychyl dan rekan-rekannya juga meneliti mahasiswa yang menunda belajar untuk ujian, dan menemukan bahwa mereka yang memaafkan dirinya atas penundaan itu cenderung lebih sedikit menunda di ujian berikutnya, meski tentu itu bukan jaminan untuk semua orang.

Aku tertawa kecil membaca semua itu, karena itu persis yang kulakukan setiap malam.

Aku terus menitipkan rasa takutku pada diriku yang besok, padahal diriku yang besok adalah orang yang sama dengan rasa takut yang sama.


Ternyata Menyalahkan Diri Sendiri Tidak Membantu

Selama ini, caraku mengatasi penundaan adalah memarahi diri sendiri.

Aku pikir kalau aku cukup keras pada diriku, aku akan berubah.

Tapi kalau penundaan memang soal menghindari perasaan tidak enak, memarahi diri justru menambah perasaan tidak enak itu.

Semakin aku merasa buruk, semakin besar dorongan untuk lari lagi.

Aku tidak pernah mencoba sebaliknya: memperlakukan diriku seperti teman yang sedang kesulitan, bukan seperti karyawan yang harus dihukum.

Kalau temanku cerita bahwa ia menunda karena takut hasilnya jelek, aku tidak akan menyebutnya pemalas.

Aku akan bilang bahwa rasa takut itu wajar, lalu menemaninya memulai dari langkah yang paling kecil.

Jadi aku mencoba memberikan kelembutan yang sama untuk diriku sendiri, meski awalnya terasa canggung dan seperti sedang mencari-cari alasan.


Aku Mulai Mencoba Cara yang Berbeda

Sekarang, saat membuka dokumen dan rasa takut itu muncul, aku mencoba menyebutnya.

“Aku sedang takut hasilnya jelek.”

Hanya dengan menamainya, rasa itu sedikit lebih bisa kutahan.

Lalu aku membuat target yang sangat kecil, misalnya menulis satu paragraf yang sengaja jelek.

Aku memberi diriku izin untuk menulis draf berantakan, karena draf memang bukan hasil akhir.

Aku juga mulai memasang waktu dua puluh lima menit, lalu berhenti tanpa harus selesai.

Ternyata, bagian tersulit hampir selalu hanya di awal.

Begitu aku mulai, rasa takut itu mengecil, dan pekerjaannya tidak semenakutkan bayanganku.


Hasil yang Cukup Baik Juga Boleh

Laporan itu akhirnya selesai, sedikit mepet, tapi selesai.

Atasanku memberi beberapa catatan perbaikan.

Dulu, catatan seperti itu bisa membuatku murung berhari-hari.

Kali ini, aku mencoba melihatnya sebagai bagian biasa dari bekerja, bukan bukti bahwa aku tidak mampu.

Aku masih perfeksionis dalam banyak hal, dan aku masih sering menunda.

Tapi sekarang aku tahu apa yang sebenarnya kuhindari, dan itu membuat jalannya terasa sedikit lebih terang.


Penutup

Aku dulu mengira masalahku adalah kurang disiplin.

Ternyata aku sedang melindungi diriku dari rasa takut yang tidak pernah berani kusebut namanya.

Aku tidak malas, aku hanya terlalu lama percaya bahwa hasilku harus sempurna supaya diriku dianggap cukup.

Sekarang aku belajar memulai dengan berantakan, karena hasil yang belum sempurna jauh lebih baik daripada pekerjaan yang tidak pernah dimulai.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya