← Semua artikel

Aku Merasa Jadi Penipu Setiap Kali Atasanku Memujiku

24 Oktober 2026·Toro
Aku Merasa Jadi Penipu Setiap Kali Atasanku Memujiku

Pujian Itu Seharusnya Membuatku Senang

Kemarin, di depan seluruh tim, atasanku bilang presentasiku adalah salah satu yang terbaik bulan ini.

Semua orang bertepuk tangan. Aku tersenyum dan bilang, “Terima kasih, Bu.”

Tapi di dalam hati, aku merasa seperti sedang berdiri di atas panggung dengan kostum yang bukan milikku.

Malamnya aku tidak bisa tidur. Bukan karena senang, tapi karena takut.

Takut suatu hari mereka akan sadar bahwa aku sebenarnya tidak sebagus itu.


Aku Selalu Punya Penjelasan untuk Keberhasilanku

Setiap kali berhasil, aku selalu menemukan alasan kenapa itu bukan karena kemampuanku.

Presentasinya bagus karena topiknya mudah. Proyeknya berhasil karena timku hebat. Aku diterima kerja di sini karena pelamar lain sedang sedikit.

Tapi setiap kali gagal, aku langsung yakin itu karena aku memang tidak mampu.

Rasanya tidak adil, tapi aku tidak pernah mempertanyakannya. Keberhasilan adalah kebetulan, kegagalan adalah kebenaran.


Aku Bekerja Keras Supaya Tidak Ketahuan

Karena takut ketahuan, aku bekerja jauh lebih keras dari yang diperlukan.

Aku menyiapkan presentasi lima menit selama berhari-hari. Aku memeriksa ulang email sederhana berkali-kali sebelum mengirimnya.

Dan ketika hasilnya bagus, aku tidak merasa lega. Aku hanya berpikir, “Kali ini selamat. Tapi bagaimana dengan yang berikutnya?”

Lingkaran itu terus berulang. Kerja keras, berhasil, merasa tidak pantas, takut, lalu kerja lebih keras lagi.


Aku Tidak Pernah Menceritakannya pada Siapa Pun

Aku malu mengakui perasaan ini.

Bagaimana caranya mengeluh soal dipuji? Orang lain mungkin akan menganggapku sedang pamer atau pura-pura rendah hati.

Jadi aku menyimpannya sendiri. Di luar aku terlihat percaya diri, di dalam aku terus menunggu saat topengku terlepas.

Saat atasan menawariku proyek yang lebih besar, aku hampir menolaknya. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku yakin proyek itulah yang akhirnya akan membongkar semuanya.

Aku juga sering diam di rapat, padahal punya ide. Aku takut kalau aku bicara, semua orang akan sadar betapa dangkalnya pemikiranku.

Lucunya, setiap kali ideku akhirnya disampaikan orang lain dan dipuji, aku justru merasa lega sekaligus kecewa pada diriku sendiri.

Kadang aku iri pada rekan-rekan yang bisa menerima pujian dengan santai. Aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya percaya bahwa keberhasilanmu memang milikmu?


Aku Membaca Tentang Fenomena Impostor

Suatu hari, aku menemukan istilah impostor phenomenon.

Istilah ini diperkenalkan oleh psikolog Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes dalam sebuah artikel pada 1978. Mereka mengamati banyak perempuan berprestasi tinggi yang, meski punya banyak pencapaian nyata, tetap yakin bahwa mereka sebenarnya tidak cerdas dan hanya berhasil membodohi orang di sekitarnya.

Menurut pengamatan mereka, orang-orang ini sering mengaitkan keberhasilannya dengan keberuntungan atau faktor lain di luar kemampuan, dan hidup dengan rasa takut suatu saat akan ketahuan.

Penelitian-penelitian setelahnya menunjukkan bahwa pengalaman ini juga dialami oleh laki-laki dan oleh banyak orang di berbagai bidang. Ini juga bukan diagnosis gangguan, melainkan pola pengalaman yang cukup umum.

Aku membacanya pelan-pelan, dan rasanya seperti ada yang menjelaskan isi kepalaku dengan sangat tepat.

Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang merasa seperti penipu di tengah keberhasilan sendiri.


Aku Mulai Memeriksa Buktinya

Aku mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan: mencatat bukti.

Aku menulis daftar hal-hal yang berhasil kulakukan setahun terakhir, lengkap dengan apa yang benar-benar kulakukan di dalamnya.

Ternyata di presentasi kemarin, aku yang menyusun datanya, aku yang merancang alurnya, dan aku yang menjawab semua pertanyaan.

Itu bukan kebetulan. Itu kerjaku.

Aku juga mulai menyadari bahwa merasa tidak yakin bukan berarti tidak mampu. Perasaan itu nyata, tapi bukan bukti.

Aku menyimpan daftar itu di catatan ponselku. Setiap kali suara “kamu cuma beruntung” muncul, aku membukanya dan membacanya pelan-pelan.

Tidak selalu berhasil menenangkanku. Tapi setidaknya sekarang ada suara lain di kepalaku, suara yang berdasarkan fakta, bukan ketakutan.


Aku Berlatih Menerima Pujian

Ini mungkin terdengar konyol, tapi aku harus berlatih menerima pujian.

Dulu setiap dipuji, aku langsung membantah, “Ah, itu cuma kebetulan.” Sekarang aku mencoba berhenti di kata “terima kasih”, tanpa tambahan apa pun.

Aku juga memberanikan diri bercerita pada seorang rekan kerja yang kupercaya.

Dia tertawa kecil, lalu bilang dia juga sering merasa begitu. Kami sama-sama terkejut, karena masing-masing mengira yang lain sangat percaya diri.

Percakapan itu membuatku sadar, banyak orang di sekitarku mungkin sedang menyembunyikan ketakutan yang sama di balik wajah yang tenang.

Aku juga mulai lebih jujur soal batas persiapanku. Aku tidak lagi menghabiskan berhari-hari untuk tugas kecil, dan ternyata hasilnya tetap baik.

Itu bukti lain yang kucatat: kualitas kerjaku tidak bergantung pada seberapa takut aku saat mengerjakannya.


Penutup

Rasa takut ketahuan itu belum hilang sepenuhnya. Kadang ia masih muncul saat aku diberi tanggung jawab baru.

Tapi sekarang aku bisa mengenalinya, menyebut namanya, dan tidak langsung mempercayainya.

Aku bukan penipu yang beruntung, aku adalah orang yang bekerja keras dan sedang belajar mempercayai hasil kerjanya sendiri.

Pujian itu bukan kesalahan yang menunggu dikoreksi, melainkan hal baik yang boleh kuterima tanpa rasa takut.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya