Kontakku Bertambah, Tapi Rasa Sepiku Tidak Berkurang
Sudah dua tahun aku merantau ke kota ini untuk bekerja.
Kalau dihitung, kenalanku di sini lumayan banyak. Teman satu kantor, teman kos, teman komunitas lari, bahkan beberapa teman dari aplikasi.
Grup obrolanku ramai. Hampir setiap akhir pekan ada saja ajakan nongkrong.
Tapi suatu malam, saat demam dan sendirian di kamar kos, aku membuka daftar kontak dan tidak menemukan satu nama pun yang terasa tepat untuk dihubungi.
Malam itu aku sadar, aku dikelilingi banyak orang, tapi tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang kurasakan.
Aku Pandai Terlihat Punya Banyak Teman
Di kantor, aku dikenal ramah dan mudah akrab.
Aku tahu kopi favorit rekan kerjaku, tahu siapa yang baru putus, tahu siapa yang sedang mencari kos baru.
Tapi kalau dipikir lagi, percakapan kami hampir selalu berhenti di permukaan. Soal kerjaan, tempat makan, atau gosip ringan.
Aku jarang bercerita tentang hal yang benar-benar menggangguku. Tentang rindu rumah, tentang ragu pada pilihan hidupku, tentang rasa takut tidak berhasil di kota orang.
Aku takut kalau aku terlalu jujur, aku akan terlihat merepotkan.
Jadi aku menjadi versi diriku yang paling ringan. Yang selalu bisa diajak bercanda, yang tidak pernah membawa masalah ke meja makan.
Orang-orang menyukai versi itu. Tapi versi itu juga yang membuat tidak ada yang benar-benar mengenalku.
Kadang aku pulang dari acara kumpul dengan perut kenyang dan wajah pegal karena terlalu banyak tertawa, lalu duduk di kasur dengan rasa kosong yang sama seperti sebelum berangkat.
Aku Merasa Bersalah Karena Masih Merasa Kesepian
Yang paling membingungkan, aku merasa tidak berhak kesepian.
Ibuku sering bilang, “Kamu kan banyak teman di sana, syukurlah.” Aku cuma menjawab, “Iya, Bu.”
Bagaimana mungkin aku kesepian kalau setiap Sabtu aku punya rencana?
Pertanyaan itu membuatku berpikir ada yang salah denganku. Mungkin aku terlalu menuntut. Mungkin aku tidak tahu bersyukur.
Aku Membaca Tentang Dua Jenis Kesepian
Sampai akhirnya aku menemukan tulisan tentang sosiolog Robert S. Weiss, yang pada 1973 menulis buku berjudul Loneliness: The Experience of Emotional and Social Isolation.
Weiss membedakan dua jenis kesepian.
Yang pertama ia sebut kesepian sosial, yaitu kesepian yang muncul ketika seseorang tidak punya jaringan pertemanan atau komunitas tempat ia merasa menjadi bagian.
Yang kedua ia sebut kesepian emosional, yaitu kesepian yang muncul ketika seseorang tidak punya hubungan yang benar-benar dekat dan intim, seseorang yang menjadi tempat bersandar.
Menurut Weiss, kedua jenis kesepian ini berbeda, dan yang satu tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh yang lain. Punya banyak teman tidak otomatis mengobati ketiadaan satu hubungan yang dekat.
Aku membaca bagian itu berulang kali.
Ternyata aku tidak sedang kekurangan kenalan. Aku sedang kekurangan kedekatan.
Kesepianku bukan tanda aku tidak bersyukur. Aku hanya sedang mencoba mengobati kesepian emosional dengan obat untuk kesepian sosial.
Aku Melihat Kenapa Ini Terjadi Saat Merantau
Di kampung, aku punya orang-orang yang sudah mengenalku sejak kecil. Aku tidak perlu menjelaskan diriku pada mereka.
Saat pindah, aku meninggalkan semua itu sekaligus. Aku membangun lingkaran baru dengan cepat, tapi lingkaran itu masih lebar dan dangkal.
Hubungan dekat butuh waktu dan butuh keberanian untuk saling terbuka. Dua hal itu tidak bisa dipercepat hanya dengan memperbanyak jadwal nongkrong.
Aku juga sadar, aku sendiri yang selama ini menutup pintu. Aku selalu jadi pendengar, tapi jarang membiarkan diriku didengar.
Aku Mencoba Memilih Satu atau Dua Orang
Aku tidak berhenti ikut acara ramai. Itu tetap menyenangkan, dan aku tetap butuh rasa menjadi bagian dari sesuatu.
Tapi aku mulai memilih satu atau dua orang yang terasa paling nyaman, lalu mengajak mereka bertemu berdua saja.
Suatu sore, aku memberanikan diri bilang pada teman kosku, “Jujur, aku lagi kangen rumah banget dan agak capek di sini.”
Aku kira dia akan canggung. Ternyata dia diam sebentar, lalu bilang dia juga sering merasa begitu.
Kami mengobrol sampai larut. Itu percakapan paling jujur yang pernah kualami sejak pindah.
Aku Juga Kembali Menyapa yang Jauh
Aku sadar, kedekatan tidak harus selalu ada di kota yang sama.
Aku mulai lebih sering menelepon sahabat lamaku di kampung. Bukan sekadar membalas stiker, tapi benar-benar bercerita.
Aku juga mencoba lebih jujur saat ibuku bertanya kabar. Tidak semuanya, tapi cukup untuk membuatku merasa tidak sendirian menanggungnya.
Kalau kesepian ini suatu hari terasa terlalu berat, aku tahu berbicara dengan psikolog juga bisa jadi pilihan, dan itu bukan tanda kegagalan.
Penutup
Kontak di ponselku masih banyak, dan grup obrolanku masih ramai.
Tapi sekarang aku tahu, yang kucari bukan jumlah orang, melainkan satu dua tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura.
Ternyata aku tidak butuh lebih banyak kenalan, aku butuh lebih banyak keberanian untuk benar-benar dikenal.
Kesepianku bukan tanda aku tidak bersyukur, melainkan tanda hatiku sedang mencari tempat pulang di kota yang baru.

