Aku Pernah Membenci Versi Diriku yang Dulu, Sekarang Aku Belajar Memeluknya.
Ada masa ketika aku sangat marah pada diriku yang dulu.
Marah karena dulu aku terlalu mudah percaya.
Marah karena dulu aku terlalu lama bertahan di tempat yang menyakitiku.
Marah karena dulu aku tidak berani bicara ketika seharusnya bicara.
Aku menyalahkan diriku yang dulu atas semua luka yang masih kubawa sekarang.
Aku pikir kalau dulu aku lebih kuat, lebih tegas, lebih berani, semua ini tidak akan terjadi.
Aku Terus Bertanya, Kenapa Dulu Aku Sebodoh Itu
Aku sering mengulang kejadian lama di kepalaku.
Bertanya, kenapa dulu aku tidak pergi lebih awal.
Kenapa dulu aku memaafkan hal yang seharusnya tidak dimaafkan.
Kenapa dulu aku terlalu takut untuk mengecewakan orang lain, sampai aku mengecewakan diriku sendiri.
Aku menghakimi diriku yang dulu dengan pengetahuan yang baru kumiliki sekarang.
Padahal dulu, aku belum tahu apa yang aku tahu sekarang.
Carl Jung dan Konsep Anak Batin
Psikiater Carl Jung memperkenalkan konsep inner child, atau anak batin, bagian dari diri kita yang menyimpan pengalaman, luka, dan kebutuhan emosional dari masa kecil, yang terus memengaruhi cara kita bereaksi sebagai orang dewasa.
Aku mulai memahami, diriku yang dulu bukan orang bodoh.
Dia hanya anak yang sedang berusaha bertahan dengan cara terbaik yang dia tahu saat itu.
Dia tidak punya pengetahuan yang aku miliki sekarang.
Dia hanya punya rasa takut, harapan, dan keinginan untuk dicintai.
Menyalahkannya sama saja dengan menyalahkan anak kecil karena tidak tahu jawaban ujian yang belum pernah diajarkan.
Aku Mulai Bertanya, Apa yang Sebenarnya Dia Butuhkan
Bukan hukuman.
Bukan penghakiman.
Dia butuh seseorang yang bilang, “Kamu sudah berusaha sebaik yang kamu bisa.”
Dia butuh seseorang yang bilang, “Bukan salahmu kalau kamu belum tahu caranya melindungi diri saat itu.”
Dia butuh pelukan, bukan kemarahan.
Aku mulai sadar, aku bisa menjadi orang itu untuk diriku sendiri.
Aku tidak butuh menunggu orang lain memvalidasi luka masa laluku.
Aku bisa mulai memvalidasinya sendiri.
Kristin Neff dan Pentingnya Self-Compassion
Peneliti Kristin Neff banyak menulis tentang self-compassion, kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kelembutan yang sama seperti yang kita berikan kepada orang yang kita sayangi ketika mereka sedang kesulitan.
Aku selama ini jauh lebih lembut kepada orang lain dibanding kepada diriku sendiri.
Aku bisa memaafkan kesalahan teman dengan mudah.
Tapi aku terus menghukum diriku sendiri atas kesalahan yang sudah lama berlalu.
Aku mulai belajar bertanya, kalau ini terjadi pada orang yang kusayangi, apa yang akan kukatakan padanya?
Lalu aku coba mengatakan hal yang sama kepada diriku sendiri.
Aku Belajar Berterima Kasih kepada Diriku yang Dulu
Bukan hanya memaafkan.
Tapi juga berterima kasih.
Karena diriku yang dulu, meski penuh luka, tetap berusaha bertahan.
Dia yang membuatku sampai di titik ini.
Dia yang menanggung semua rasa sakit itu supaya aku, versi sekarang, bisa belajar darinya.
Kalau bukan karena dia yang terus bertahan meski rapuh, aku tidak akan ada di sini, sedang berusaha menjadi lebih baik.
Dia bukan beban masa lalu yang harus kubuang.
Dia adalah bagian dari diriku yang layak dipeluk, bukan disalahkan.
Aku Belajar Menulis Surat untuk Diriku yang Dulu
Suatu malam aku mencoba sesuatu yang terasa aneh pada awalnya.
Aku menulis surat, ditujukan untuk diriku di masa lalu, ke versi diriku yang masih bingung, masih terluka, masih belum tahu caranya melindungi diri sendiri.
Aku menulis, “Aku tahu kamu takut. Aku tahu kamu berusaha sekuat tenaga dengan apa yang kamu punya saat itu.”
“Kamu tidak salah karena belum tahu. Kamu hanya belum diajari.”
Menulis surat itu terasa seperti memeluk seseorang yang selama ini kuabaikan.
Air mataku jatuh, bukan karena sedih, tapi karena akhirnya ada yang membela diriku yang dulu, dan itu adalah aku sendiri.
Aku Mulai Memutus Pola yang Diwariskan Luka Itu
Aku sadar, luka yang tidak selesai punya cara diam-diam mengulang dirinya sendiri.
Aku pernah membenci pola tertentu dalam diriku, lalu tanpa sadar mengulanginya lagi dalam hubungan yang baru.
Sekarang, setiap kali aku merasa pola lama itu muncul, aku mencoba berhenti sejenak dan bertanya, “Ini reaksi dari luka lama, atau ini benar-benar tentang apa yang terjadi sekarang?”
Pertanyaan sederhana itu membantuku tidak lagi bereaksi secara otomatis dari rasa takut yang sama.
Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi padaku dulu, tapi aku bisa memilih untuk tidak mewariskan luka itu ke hubungan-hubungan yang kubangun sekarang.
Aku Belajar Bahwa Berdamai Bukan Berarti Melupakan
Ada kesalahpahaman yang lama kupercaya, bahwa berdamai dengan masa lalu berarti aku harus melupakannya seolah tidak pernah terjadi.
Sekarang aku tahu itu tidak benar.
Aku tidak perlu melupakan apa yang terjadi untuk bisa berhenti menghukum diriku karenanya.
Aku hanya perlu mengubah cara aku memandangnya, dari sesuatu yang memalukan menjadi sesuatu yang membentukku.
Luka itu tetap menjadi bagian dari ceritaku, tapi dia tidak lagi menjadi hakim yang menentukan seberapa berharga aku hari ini.
Penutup
Aku masih dalam proses berdamai dengan diriku yang dulu.
Masih ada hari-hari ketika rasa marah itu muncul lagi.
Tapi sekarang aku tahu caranya menenangkan diri sendiri.
Diriku yang dulu bukan musuh yang harus disalahkan, dia adalah bagian dari diriku yang butuh dipeluk.
Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku bisa memilih bagaimana aku memperlakukan diriku sekarang.
Pelan-pelan, aku sedang belajar merangkul semua versi diriku, yang dulu rapuh, yang sekarang sedang berjuang, dan yang nanti akan lebih utuh.
Karena semuanya adalah aku, dan semuanya layak dicintai.
Aku juga sedang belajar untuk lebih sabar pada prosesnya, karena berdamai bukan satu momen, tapi rangkaian keputusan kecil yang kuulang setiap kali luka lama itu muncul kembali.
