Kabar Baik Mereka Selalu Terasa Seperti Rapor Untukku
Pagi ini, seorang teman kuliah mengunggah foto wisuda S2-nya di luar negeri.
Aku menekan tombol suka dan menulis, “Selamat ya! Keren banget.”
Lalu aku menutup aplikasi dan menatap langit-langit kamar selama beberapa menit.
Kami lulus di tahun yang sama. Kami duduk di kelas yang sama. Dulu nilaiku bahkan sedikit lebih baik.
Sekarang dia sudah di sana, dan aku masih di sini, di pekerjaan yang sama sejak lulus.
Aku Tidak Membandingkan Diri dengan Semua Orang
Yang aneh, aku tidak terlalu terganggu melihat kesuksesan selebritas atau pengusaha besar.
Hidup mereka terasa terlalu jauh. Tidak ada gunanya diukur.
Yang selalu membuatku goyah justru unggahan orang-orang yang dulu setara denganku. Teman sekelas, teman satu angkatan, sepupu yang umurnya sama.
Setiap kali salah satu dari mereka naik jabatan, menikah, membeli rumah, atau pindah ke kota besar, aku langsung menempatkan diriku di garis yang sama, lalu melihat diriku tertinggal.
Seolah-olah hidup kami adalah lomba lari, dan semua orang sudah melewati garis yang belum juga kucapai.
Aku Jadi Sulit Menikmati Pencapaianku Sendiri
Bulan lalu aku sebenarnya baru dipercaya memegang proyek kecil di kantor. Aku senang, selama kira-kira satu hari.
Lalu aku melihat teman lain mengumumkan posisi barunya sebagai manajer.
Pencapaianku langsung terasa kecil, bahkan memalukan untuk diceritakan.
Aku mulai sadar, rasa puasku tidak pernah benar-benar milikku. Ia selalu bergantung pada apa yang sedang dicapai orang lain.
Bahkan saat aku sedang senang, ada bagian dari diriku yang langsung bertanya, “Tapi dibanding mereka, ini apa artinya?”
Pertanyaan itu selalu menang. Dan setiap kali menang, hari yang tadinya baik berubah jadi hari yang terasa biasa saja, atau malah menyedihkan.
Kalau ada reuni angkatan, aku sering mencari alasan untuk tidak datang. Aku takut ditanya, “Sekarang kerja di mana?” dan harus melihat raut wajah mereka saat mendengar jawabanku.
Aku Membaca Tentang Kenapa Kita Membandingkan Diri
Suatu hari aku membaca tentang psikolog sosial Leon Festinger, yang pada 1954 mengemukakan teori perbandingan sosial, atau social comparison theory.
Menurut Festinger, manusia punya dorongan untuk menilai kemampuan dan pendapatnya sendiri. Ketika tidak ada ukuran yang jelas dan objektif, kita cenderung menilai diri dengan membandingkannya pada orang lain.
Festinger juga menjelaskan bahwa kita cenderung membandingkan diri dengan orang yang dianggap mirip dengan kita, karena perbandingan dengan orang yang terlalu berbeda tidak terasa memberi informasi yang berguna.
Para peneliti setelahnya membedakan perbandingan ke atas, yaitu membandingkan diri dengan orang yang terlihat lebih baik, dan perbandingan ke bawah. Perbandingan ke atas bisa memotivasi, tapi dalam banyak keadaan juga bisa membuat seseorang merasa lebih buruk tentang dirinya.
Aku membaca itu sambil mengangguk pelan.
Itulah kenapa unggahan teman seangkatan terasa jauh lebih menusuk daripada kisah sukses orang terkenal. Mereka adalah ukuran yang kupilih tanpa sadar.
Dan tidak ada ukuran objektif tentang “sudah sejauh mana seharusnya hidupku di umur segini”. Jadi aku meminjam penggaris dari hidup mereka.
Aku Sadar Penggaris Itu Tidak Pernah Pas
Masalahnya, penggaris itu dibuat dari hidup yang berbeda.
Temanku yang S2 di luar negeri mungkin punya kesempatan, dukungan, dan pertimbangan yang tidak kuketahui. Begitu juga sebaliknya, ada hal dalam hidupku yang tidak ia miliki.
Aku juga hanya melihat apa yang mereka pilih untuk dibagikan. Aku membandingkan seluruh hari-hariku dengan potongan terbaik dari hari-hari mereka.
Perbandingan itu terasa adil karena kami dulu setara. Padahal sejak lulus, kami sudah berjalan di jalan yang sangat berbeda.
Aku Mulai Mengganti Pertanyaannya
Aku tidak bisa berhenti membandingkan diri begitu saja. Rasanya itu sudah terlalu otomatis.
Tapi aku mulai mencoba mengganti pertanyaan yang muncul setelahnya.
Dulu aku bertanya, “Kenapa aku belum sampai sana?” Sekarang aku mencoba bertanya, “Apakah aku memang ingin sampai sana, atau aku hanya takut tertinggal?”
Ternyata banyak hal yang kukejar bukan karena aku menginginkannya, tapi karena orang-orang seangkatanku sedang mengejarnya.
Aku juga mulai membandingkan diriku dengan diriku setahun lalu. Ukurannya lebih kecil, tapi jauh lebih jujur.
Aku Mengatur Ulang Apa yang Kulihat Setiap Hari
Aku membisukan beberapa akun, bukan karena benci pada mereka, tapi karena aku butuh jeda.
Aku membatasi membuka media sosial di pagi hari, saat pikiranku paling rentan menilai diri.
Dan setiap kali rasa iri itu muncul, aku mencoba mengakuinya tanpa menghakimi: “Aku sedang merasa tertinggal. Itu wajar.”
Mengakuinya ternyata lebih ringan daripada pura-pura tidak merasakan apa-apa.
Kadang aku bahkan mengirim pesan langsung ke teman yang kabarnya membuatku iri, menanyakan bagaimana prosesnya. Ternyata ceritanya jauh lebih berliku daripada yang terlihat di foto.
Penutup
Aku masih sering melihat kabar baik teman-temanku dan merasakan sedikit sesak.
Tapi sekarang aku bisa ikut senang untuk mereka tanpa langsung menjadikannya bukti bahwa aku gagal.
Hidup mereka bukan rapor untuk hidupku, dan langkah mereka tidak pernah menjadi ukuran untuk langkahku.
Aku sedang belajar berjalan dengan penggarisku sendiri, meski garis finisnya tidak terlihat sama dengan milik orang lain.

