← Semua artikel

Kenapa Bakat Saja Tidak Cukup, dan Apakah Ketekunan Benar-Benar Bisa Dilatih?

28 Oktober 2026·Toro
Kenapa Bakat Saja Tidak Cukup, dan Apakah Ketekunan Benar-Benar Bisa Dilatih?

Kamu Merasa Kalah dari Orang yang “Berbakat”

Kamu mungkin punya teman yang tampak selalu mudah menguasai hal baru.

Sementara kamu harus belajar berkali-kali hanya untuk mengejar ketertinggalan.

Pelan-pelan, muncul pikiran bahwa kamu memang tidak berbakat, jadi untuk apa terus mencoba.

Angela Duckworth, psikolog dari University of Pennsylvania, menulis buku Grit: The Power of Passion and Perseverance pada tahun 2016 untuk menantang anggapan bahwa bakat adalah penentu utama keberhasilan.

Buku ini sangat populer, tapi juga memicu perdebatan di kalangan peneliti, dan keduanya layak dibahas.


Apa yang Dimaksud dengan Grit

Duckworth mendefinisikan grit sebagai perpaduan antara gairah dan ketekunan untuk tujuan jangka panjang.

Gairah di sini bukan semangat yang meledak-ledak, melainkan minat yang konsisten pada arah yang sama dalam waktu lama.

Ketekunan adalah kemampuan untuk terus bekerja keras dan bangkit kembali meski menghadapi kegagalan dan kebosanan.

Duckworth juga mengembangkan Grit Scale, kuesioner singkat untuk mengukur seberapa kuat kecenderungan ini pada seseorang.


Usaha Dihitung Dua Kali

Salah satu gagasan Duckworth yang paling dikenal adalah rumus sederhana tentang bakat dan usaha.

Menurutnya, bakat dikali usaha menghasilkan keterampilan, lalu keterampilan dikali usaha menghasilkan pencapaian.

Karena itu, usaha muncul dua kali dalam perjalanan menuju pencapaian.

Duckworth tidak mengatakan bakat tidak ada, tapi ia menekankan bahwa bakat tanpa usaha yang berkelanjutan hanyalah potensi yang belum terwujud.

Bagi orang yang merasa tertinggal, gagasan ini bisa memberi harapan: kemajuan yang lambat tetap kemajuan, asalkan tidak berhenti.


Dari Akademi Militer sampai Lomba Mengeja

Duckworth mengisahkan penelitiannya di akademi militer West Point, Amerika Serikat, yang punya program pelatihan awal musim panas yang sangat berat.

Ia menemukan bahwa skor grit calon kadet membantu memprediksi siapa yang bertahan menyelesaikan program itu, lebih baik daripada skor penerimaan yang biasa dipakai akademi tersebut.

Ia juga meneliti peserta lomba mengeja tingkat nasional di Amerika, dan menemukan kaitan antara grit dan banyaknya latihan yang dilakukan peserta.

Dari sana, ia membahas konsep deliberate practice dari psikolog Anders Ericsson, yaitu latihan terarah yang fokus pada kelemahan, dengan tujuan spesifik dan umpan balik.


Empat Hal yang Menumbuhkan Grit

Duckworth menjelaskan bahwa orang dengan grit tinggi biasanya punya empat modal psikologis.

Pertama, minat: mereka benar-benar menyukai apa yang dikerjakan, dan minat itu biasanya tumbuh lewat eksplorasi, bukan ditemukan dalam sekejap.

Kedua, latihan: mereka bersedia berlatih dengan sungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik dari kemarin.

Ketiga, tujuan: mereka merasa pekerjaannya bermakna dan berhubungan dengan kesejahteraan orang lain.

Keempat, harapan: keyakinan bahwa usaha bisa membuat keadaan lebih baik, yang membuat mereka tetap bangkit setelah jatuh.

Duckworth juga membahas peran lingkungan, misalnya orang tua yang hangat sekaligus punya tuntutan, dan budaya kelompok yang menghargai ketekunan.


Perdebatan yang Perlu Diketahui

Setelah buku ini populer, beberapa peneliti mengajukan kritik penting.

Sebuah meta-analisis oleh Marcus Credé dan rekan-rekannya pada tahun 2017 menemukan bahwa grit sangat mirip dengan conscientiousness, salah satu sifat kepribadian yang sudah lama dikenal dalam psikologi.

Analisis itu juga menemukan bahwa hubungan grit dengan prestasi cenderung moderat, tidak sebesar yang sering digambarkan media, dan bahwa aspek ketekunan tampak lebih berperan dibanding aspek konsistensi minat.

Kritik lain menyoroti bahwa fokus berlebihan pada grit bisa membuat orang lupa pada faktor di luar individu, seperti kemiskinan, akses pendidikan, dan dukungan sosial.

Duckworth sendiri pernah menyatakan kekhawatiran bahwa konsepnya dipakai berlebihan, misalnya untuk menilai siswa atau sekolah, padahal alat ukurnya belum dirancang untuk itu.

Jadi, grit bisa dilihat sebagai salah satu faktor yang berguna, bukan rahasia tunggal dari keberhasilan.


Cara Bijak Membawa Grit ke Hidupmu

Kamu bisa mulai dengan memberi dirimu izin untuk bereksplorasi, karena minat jarang muncul tanpa mencoba berbagai hal.

Saat sudah menemukan sesuatu yang kamu pedulikan, latih bagian yang paling sulit secara terarah, bukan hanya mengulang bagian yang sudah kamu kuasai.

Hubungkan usahamu dengan makna yang lebih besar dari dirimu, karena itu membantu saat motivasi menurun.

Tapi ketekunan juga perlu kebijaksanaan.

Bertahan bukan berarti memaksakan diri pada sesuatu yang jelas merugikan kesehatan atau tidak lagi sesuai dengan nilai hidupmu.

Berhenti dari satu jalan untuk mencoba jalan lain yang lebih cocok tidak selalu sama dengan menyerah.

Kalau kelelahan sudah membuatmu sulit tidur atau kehilangan minat pada banyak hal, istirahat dan berbicara dengan tenaga profesional bisa jadi langkah yang lebih tepat daripada terus memaksa.


Lambat Bukan Berarti Tidak Mampu

Pesan yang paling menguatkan dari Grit mungkin ini: kamu tidak perlu menjadi yang tercepat untuk bisa sampai.

Bakat memang membantu, tapi banyak hal baik lahir dari usaha yang konsisten dan kesediaan untuk terus belajar.

Dan dengan memahami kritiknya, kamu juga bisa lebih adil pada dirimu sendiri, karena keberhasilan tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh seberapa keras kamu berusaha.


Referensi

Judul buku: Grit: The Power of Passion and Perseverance

Penulis: Angela Duckworth (2016)

Buku ini membahas peran gairah dan ketekunan jangka panjang dalam pencapaian, bagaimana keduanya bisa ditumbuhkan, serta pengalaman penelitian penulis di berbagai bidang.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya