Seberapa Sering Kamu Mengubah Dirimu Demi Disukai?
Kamu memilih kata dengan hati-hati supaya tidak ada yang tersinggung.
Kamu memikirkan berkali-kali apakah unggahanmu akan dinilai aneh.
Kamu bahkan menyetujui hal yang sebenarnya tidak kamu setujui, hanya supaya suasana tetap baik.
Lama-lama, hidup terasa seperti ujian yang nilainya ditentukan oleh orang lain.
Ichiro Kishimi, seorang filsuf asal Jepang, dan penulis Fumitake Koga membahas perasaan ini dalam buku The Courage to Be Disliked, yang pertama terbit di Jepang tahun 2013.
Buku ini ditulis dalam bentuk dialog selama lima malam antara seorang filsuf dan seorang pemuda yang skeptis, dan memperkenalkan pemikiran psikolog Alfred Adler kepada pembaca masa kini.
Kita Tidak Sepenuhnya Ditentukan oleh Masa Lalu
Salah satu gagasan paling mengejutkan dalam buku ini adalah cara Adler memandang masa lalu.
Menurut sang filsuf, Adler tidak melihat perilaku kita semata-mata sebagai akibat dari apa yang pernah terjadi.
Ia lebih tertarik pada tujuan yang sedang kita kejar saat ini, sebuah cara pandang yang disebut teleologi.
Pengalaman masa lalu tetap nyata, tapi makna yang kita berikan padanya, menurut Adler, ikut menentukan bagaimana kita melangkah.
Bagian ini sering diperdebatkan, karena terdengar seolah meremehkan luka.
Namun inti pesannya bukan menyangkal rasa sakit, melainkan mengingatkan bahwa kita masih punya ruang untuk memilih arah hidup kita sekarang.
Semua Masalah adalah Masalah Hubungan
Sang filsuf menyampaikan salah satu pernyataan Adler yang paling terkenal: semua masalah pada dasarnya adalah masalah hubungan antarmanusia.
Rasa minder, misalnya, tidak muncul di ruang hampa.
Kita merasa kurang karena membandingkan diri dengan orang lain atau membayangkan penilaian mereka.
Buku ini membedakan rasa inferior yang wajar, yang bisa mendorong kita berkembang, dengan inferiority complex, ketika rasa kurang itu dijadikan alasan untuk tidak mencoba sama sekali.
Tugas Hidup dan Alasan untuk Menghindarinya
Sang filsuf juga menjelaskan bahwa menurut Adler, setiap orang dewasa menghadapi tiga tugas hidup: pekerjaan, pertemanan, dan cinta.
Ketiganya melibatkan hubungan dengan orang lain, dan karena itu ketiganya juga bisa terasa menakutkan.
Untuk menghindarinya, kita kadang membuat berbagai alasan yang terdengar masuk akal.
“Aku belum siap karena masa laluku begini.”
“Aku tidak akan berhasil karena orang itu tidak menyukaiku.”
Adler, seperti dijelaskan dalam buku ini, menyebut alasan semacam itu sebagai life lie, kebohongan hidup yang kita pakai untuk menunda menghadapi tugas kita sendiri.
Istilah ini terdengar keras, tapi maksudnya bukan menghakimi.
Ia mengajak kita jujur melihat kapan rasa takut sedang menyamar menjadi alasan, supaya kita bisa mengambil langkah kecil menuju hal yang sebenarnya kita inginkan.
Pemisahan Tugas: Ini Urusan Siapa?
Gagasan yang paling praktis dari buku ini adalah pemisahan tugas.
Menurut sang filsuf, untuk banyak persoalan kita bisa bertanya: siapa yang pada akhirnya menanggung akibat dari pilihan ini?
Jawaban dari pertanyaan itu menunjukkan tugas siapa yang sedang kita hadapi.
Bagaimana aku bersikap, berusaha, dan menyampaikan diri adalah tugasku.
Bagaimana orang lain menilai aku adalah tugas mereka, dan itu berada di luar kendaliku.
Banyak kelelahan dalam hubungan muncul karena kita mencampuri tugas orang lain, atau membiarkan orang lain mencampuri tugas kita.
Pemisahan tugas bukan berarti tidak peduli, tapi berhenti memikul sesuatu yang memang bukan milik kita.
Berhenti Mencari Pengakuan
Buku ini juga mengajak pembaca melepaskan kebutuhan untuk terus diakui.
Menurut sang filsuf, jika kita hidup untuk memenuhi harapan orang lain, kita sebenarnya sedang menjalani hidup orang lain.
Inilah konteks dari judul bukunya: keberanian untuk tidak disukai adalah bagian dari kebebasan.
Bukan berarti kita sengaja membuat orang tidak suka, tapi kita menerima bahwa tidak disukai sebagian orang adalah harga wajar dari hidup sesuai pilihan sendiri.
Hubungan yang Setara dan Rasa Terhubung
Meski menekankan kebebasan, buku ini tidak mengajak kita hidup sendiri-sendiri.
Adler, seperti dijelaskan sang filsuf, memandang tujuan akhirnya adalah community feeling, yaitu rasa menjadi bagian dari sesama.
Buku ini menyarankan hubungan yang setara, bukan hubungan atas-bawah.
Karena itu, sang filsuf lebih menganjurkan memberi semangat dan mengucapkan terima kasih daripada memuji atau memarahi, karena pujian dan teguran sering mengandaikan ada yang lebih tinggi.
Kebahagiaan, menurutnya, banyak datang dari perasaan bahwa kita berguna bagi orang lain, tanpa harus menunggu pengakuan dari mereka.
Mencobanya dalam Keseharian
Saat cemas akan penilaian orang, kamu bisa berhenti sejenak dan bertanya, “Ini tugas siapa?”
Kalau jawabannya tugasmu, lakukan sebaik yang kamu bisa.
Kalau jawabannya tugas orang lain, kamu boleh melepaskannya, meski terasa tidak nyaman.
Buku ini juga mengajak kita hidup di saat ini, seperti menari, menikmati setiap langkah tanpa terus memikirkan garis akhir.
Menurut sang filsuf, hidup bukanlah garis lurus menuju tujuan besar di masa depan, melainkan rangkaian momen yang kita jalani sekarang.
Kalau kita terus menunda hidup sampai semua orang menyetujui kita, kita bisa kehilangan saat ini yang sebenarnya sedang berlangsung.
Referensi
Judul buku: The Courage to Be Disliked: How to Free Yourself, Change Your Life and Achieve Real Happiness
Penulis: Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga (2013)
Buku ini memperkenalkan psikologi Alfred Adler melalui dialog antara filsuf dan pemuda, membahas pemisahan tugas, kebebasan dari kebutuhan akan pengakuan, dan pentingnya rasa terhubung dengan sesama.

