← Semua artikel

Kenapa Pikiran yang Suka Melayang Bisa Membuat Kita Kurang Bahagia?

25 Oktober 2026·Toro
Kenapa Pikiran yang Suka Melayang Bisa Membuat Kita Kurang Bahagia?

Badanmu di Sini, Pikiranmu Entah di Mana

Kamu sedang mandi, tapi kepalamu sibuk memutar ulang percakapan kemarin.

Kamu sedang makan bersama teman, tapi pikiranmu sudah melompat ke tugas besok pagi.

Rasanya begitu biasa sampai kita jarang mempertanyakannya.

Matthew Killingsworth dan Daniel Gilbert, dua peneliti dari Harvard, justru mempertanyakannya dengan serius.

Dalam artikel mereka di jurnal Science tahun 2010 yang berjudul A Wandering Mind Is an Unhappy Mind, mereka mencoba menjawab dua hal sederhana: seberapa sering pikiran kita melayang, dan apakah itu memengaruhi rasa bahagia kita.


Cara Mereka Menangkap Pikiran di Tengah Hari

Mengukur isi pikiran orang itu sulit, karena kalau ditanya di laboratorium, suasananya sudah tidak alami.

Killingsworth dan Gilbert memakai metode yang disebut experience sampling.

Mereka membuat aplikasi ponsel yang menghubungi peserta pada waktu acak sepanjang hari, lalu menanyakan tiga hal: sedang merasa bagaimana, sedang melakukan apa, dan apakah sedang memikirkan hal lain selain yang sedang dilakukan.

Dengan cara ini, mereka mendapat potret pikiran orang dewasa di tengah kehidupan sehari-hari yang sebenarnya, bukan dalam situasi buatan.


Hampir Separuh Waktu, Pikiran Kita Sedang Pergi

Temuan pertama mereka cukup mengejutkan.

Dari jawaban ribuan peserta, pikiran orang ternyata sedang melayang dari aktivitasnya pada hampir separuh waktu yang diukur, sekitar 46,9 persen.

Pikiran yang melayang juga muncul di hampir semua jenis aktivitas, dari bekerja, menyetir, sampai mengobrol.

Artinya, kalau kamu merasa sering “tidak ada di tempat”, kamu tidak sendirian.

Melayangnya pikiran tampaknya memang cara kerja yang sangat umum dari otak manusia, bukan kelainan pribadimu.


Saat Pikiran Melayang, Rasa Bahagia Cenderung Turun

Temuan kedua inilah yang membuat judul artikel mereka begitu terkenal.

Killingsworth dan Gilbert menemukan bahwa orang cenderung melaporkan rasa bahagia yang lebih rendah saat pikirannya sedang melayang dibandingkan saat fokus pada apa yang sedang dilakukan.

Yang menarik, bahkan ketika pikiran melayang ke hal-hal menyenangkan, orang tidak lantas lebih bahagia daripada saat fokus pada aktivitasnya.

Sementara saat pikiran melayang ke hal yang netral atau tidak menyenangkan, rasa bahagia mereka tercatat lebih rendah.

Mereka juga mencatat bahwa apa yang sedang dipikirkan seseorang ternyata lebih bisa memprediksi rasa bahagianya dibanding apa yang sedang dikerjakannya.

Dengan kata lain, mencuci piring sambil hadir sepenuhnya bisa terasa lebih baik daripada liburan sambil terus memikirkan masalah.


Apakah Melayang yang Membuat Sedih, atau Sebaliknya?

Pertanyaan wajar berikutnya: bukankah orang yang sedang sedih memang lebih mudah melamun?

Killingsworth dan Gilbert mencoba melihat urutan waktunya, yaitu membandingkan kondisi pikiran dan suasana hati dari satu momen ke momen berikutnya.

Analisis mereka mengarah pada kesimpulan bahwa pikiran yang melayang lebih mungkin menjadi pendahulu rasa kurang bahagia, bukan sekadar akibatnya.

Meski begitu, ini tetap penelitian observasional, jadi hubungannya perlu dibaca dengan hati-hati.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa melamun punya sisi berguna, misalnya untuk merencanakan masa depan atau memunculkan ide kreatif.

Jadi pesan dari penelitian ini bukan “melamun itu buruk”, melainkan bahwa terlalu sering tidak hadir di momen sekarang punya harga emosional yang sering tidak kita sadari.


Kenapa Ini Terasa Dekat dengan Overthinking

Bagi banyak orang, pikiran yang melayang bukan berisi khayalan indah, tapi kekhawatiran.

Mengulang kesalahan kemarin, membayangkan skenario buruk besok, membandingkan diri dengan orang lain.

Temuan Killingsworth dan Gilbert membantu menjelaskan kenapa hari yang sebenarnya biasa saja bisa terasa begitu melelahkan.

Bukan karena aktivitasnya berat, tapi karena kepala kita sedang berada di tempat lain yang jauh lebih berat.

Kita sering mengira kebahagiaan datang dari mengganti aktivitas: liburan, pindah kerja, atau mencari hiburan baru.

Penelitian ini mengingatkan bahwa ke mana perhatian kita pergi mungkin sama pentingnya dengan apa yang sedang kita lakukan.

Itu kabar yang cukup melegakan, karena perhatian adalah sesuatu yang bisa dilatih sedikit demi sedikit, tanpa harus mengubah seluruh hidup.


Cara Kecil untuk Kembali ke Saat Ini

Kamu tidak perlu memaksa pikiran berhenti melayang, karena itu hampir mustahil.

Yang bisa dilatih adalah menyadari kapan pikiran sedang pergi, lalu dengan lembut membawanya kembali.

Coba pilih satu aktivitas rutin setiap hari, seperti minum kopi atau berjalan ke kamar mandi, dan jadikan itu waktu untuk benar-benar hadir.

Perhatikan rasa, suara, dan sensasi tubuhmu tanpa harus menilainya.

Saat menyadari pikiran sudah melompat ke masalah lain, cukup akui saja, lalu kembali ke apa yang sedang kamu lakukan.

Kamu juga bisa mengurangi pemicu kecil yang membuat pikiran mudah melompat, seperti notifikasi ponsel yang terus menyala saat sedang makan atau mengobrol.

Latihan seperti ini sejalan dengan banyak pendekatan mindfulness, dan tujuannya bukan kesempurnaan, melainkan kebiasaan kembali.

Kalau pikiran yang melayang selalu dipenuhi kecemasan yang berat dan mengganggu tidur atau pekerjaanmu, berbicara dengan psikolog bisa sangat membantu.


Referensi

Judul artikel: A Wandering Mind Is an Unhappy Mind

Penulis: Matthew A. Killingsworth dan Daniel T. Gilbert (2010)

Jurnal: Science, 330(6006), 932

Penelitian ini memakai aplikasi ponsel untuk mengamati pikiran orang dewasa dalam keseharian, dan menemukan bahwa pikiran sering melayang dari aktivitas yang sedang dilakukan serta bahwa saat itu terjadi, orang cenderung merasa kurang bahagia.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya