← Semua artikel

Kenapa Rasa Hampa Kadang Bukan Hanya Soal Isi Kepala, Tapi Soal Hidup yang Terputus?

21 Oktober 2026·Toro
Kenapa Rasa Hampa Kadang Bukan Hanya Soal Isi Kepala, Tapi Soal Hidup yang Terputus?

Saat Hidup Terlihat Baik-Baik Saja, Tapi Hati Terasa Kosong

Kamu punya pekerjaan, punya tempat tinggal, punya akun media sosial yang ramai.

Tapi setiap pulang, ada rasa hampa yang sulit dijelaskan. Kamu bertanya-tanya, apa yang salah dengan otakku?

Jurnalis Inggris Johann Hari pernah menanyakan hal yang sama tentang dirinya sendiri.

Dalam buku Lost Connections: Uncovering the Real Causes of Depression and the Unexpected Solutions, yang terbit pada 2018, Hari menceritakan pengalamannya hidup dengan depresi sejak remaja dan mengonsumsi antidepresan selama bertahun-tahun.

Ia kemudian melakukan perjalanan untuk mewawancarai para peneliti di berbagai bidang, mencari tahu apa saja yang mungkin ikut berperan dalam depresi dan kecemasan.


Bukan Hanya Cerita Tentang Kimia Otak

Hari menulis bahwa selama bertahun-tahun ia memahami depresinya hampir semata-mata sebagai ketidakseimbangan kimia di otak.

Melalui wawancaranya, ia sampai pada pandangan bahwa penjelasan itu terlalu sempit.

Menurut Hari, faktor biologis seperti genetika dan perubahan otak memang nyata dan berperan. Tapi faktor sosial dan lingkungan, yaitu cara kita hidup, juga perlu diperhatikan dengan serius.

Ia tidak mengatakan bahwa obat tidak pernah membantu. Ia mengajak pembaca melihat gambaran yang lebih luas.

Perlu dicatat, beberapa ahli mengkritik buku ini karena dianggap menyederhanakan sejumlah penelitian. Jadi buku ini paling baik dibaca sebagai ajakan berpikir, bukan panduan pengobatan.


Terputus dari Orang Lain dan dari Pekerjaan yang Bermakna

Hari menguraikan beberapa bentuk keterputusan yang menurutnya bisa ikut berkontribusi pada depresi dan kecemasan.

Salah satu yang paling ia tekankan adalah keterputusan dari orang lain. Ia mengutip penelitian psikolog John Cacioppo tentang kesepian, yang menunjukkan bahwa rasa terisolasi bisa sangat memengaruhi kesejahteraan seseorang.

Bentuk lainnya adalah keterputusan dari pekerjaan yang bermakna. Hari menulis tentang orang-orang yang bekerja tanpa merasa punya kendali atas apa yang mereka kerjakan.

Mungkin kamu pernah merasakannya: bekerja berjam-jam, tapi merasa seperti roda kecil yang bisa diganti kapan saja.

Hari menulis bahwa yang membuat lelah bukan hanya beratnya pekerjaan, tapi juga perasaan bahwa apa yang kita lakukan tidak ada artinya dan tidak bisa kita pengaruhi.

Di zaman ketika kita bisa terhubung dengan ratusan orang lewat layar, gagasan tentang keterputusan ini terasa ironis. Kita mungkin tidak pernah sendirian secara digital, tapi tetap bisa merasa tidak benar-benar terhubung.


Terputus dari Nilai, Status, dan Masa Depan

Hari juga membahas keterputusan dari nilai-nilai yang bermakna. Ia membedakan nilai intrinsik, seperti hubungan dan rasa ingin tahu, dengan nilai yang lebih menekankan uang, citra, dan pengakuan.

Ia merujuk pada penelitian psikolog Tim Kasser yang mengaitkan orientasi materialistis yang kuat dengan kesejahteraan yang lebih rendah.

Bentuk keterputusan lain yang ia bahas adalah dari status dan rasa dihargai, dari alam, dari masa depan yang terasa aman dan penuh harapan, serta dari pengalaman masa kecil yang menyakitkan dan belum pernah diolah.

Bagi banyak anak muda, poin tentang masa depan mungkin terasa sangat dekat. Kontrak kerja yang tidak pasti dan biaya hidup yang terus naik bisa membuat masa depan terasa seperti kabut.


Rasa Sakit Itu Bisa Jadi Sinyal

Salah satu gagasan Hari yang paling menyentuh adalah ajakan untuk melihat rasa sakit emosional sebagai sinyal, bukan semata-mata kerusakan.

Menurutnya, depresi dan kecemasan bisa jadi juga memberi tahu kita bahwa ada kebutuhan manusiawi yang tidak terpenuhi, seperti kebutuhan untuk terhubung, merasa berarti, dan merasa aman.

Cara pandang ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun. Justru sebaliknya, ia membantu kita berhenti berpikir bahwa kita “rusak”.

Kalau kamu merasa hampa, mungkin itu bukan karena kamu lemah. Mungkin ada bagian dari hidupmu yang sedang terputus dan butuh disambung kembali.


Menyambung Kembali Koneksi

Di bagian akhir buku, Hari menulis tentang berbagai bentuk penyambungan kembali yang ia temukan.

Salah satunya adalah social prescribing, pendekatan di mana tenaga kesehatan menghubungkan pasien dengan kegiatan komunitas. Hari menceritakan sebuah pusat kesehatan di London timur yang mengajak pasiennya ikut berkebun bersama.

Ia juga menulis tentang bentuk kerja yang lebih demokratis, di mana para pekerja ikut mengambil keputusan, serta tentang praktik-praktik yang membantu kita lebih jujur pada nilai-nilai yang kita pegang.

Pesan intinya: pemulihan sering kali tidak hanya terjadi di dalam diri, tapi juga di antara kita dan orang lain.


Langkah Kecil untuk Mulai Tersambung

Kamu tidak perlu mengubah seluruh hidupmu besok pagi.

Coba mulai dari satu pertanyaan: dari bagian hidup mana aku paling merasa terputus akhir-akhir ini? Orang lain, pekerjaan, nilai, atau masa depan?

Pilih satu langkah kecil yang menyambung kembali bagian itu. Misalnya, ikut satu kegiatan komunitas, menghubungi satu teman lama, atau berjalan kaki di taman tanpa ponsel.

Dan kalau rasa hampa itu sudah berlangsung lama atau terasa terlalu berat, jangan ragu untuk berbicara dengan psikolog atau tenaga profesional. Mencari bantuan juga merupakan bentuk menyambung koneksi.


Referensi

Judul buku: Lost Connections: Uncovering the Real Causes of Depression and the Unexpected Solutions

Penulis: Johann Hari (2018)

Buku ini mengajak pembaca melihat depresi dan kecemasan tidak hanya dari sisi biologis, tetapi juga dari berbagai bentuk keterputusan sosial dan lingkungan, serta upaya untuk menyambungnya kembali.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya