Rumah yang Paling Hangat di Hari Pengumuman Nilai
Aku masih ingat hari pembagian rapor waktu SD.
Kalau aku juara kelas, ibu memasak makanan kesukaanku dan ayah menceritakannya ke semua saudara lewat telepon.
Rumah terasa hangat dan penuh tawa.
Tapi kalau peringkatku turun, suasana berubah.
Tidak ada yang memarahiku dengan keras.
Hanya saja, ibu jadi lebih diam, ayah tidak banyak bertanya, dan makan malam terasa lebih dingin.
Aku kecil belum bisa menjelaskannya, tapi aku bisa merasakannya.
Sayang mereka terasa paling dekat saat aku berhasil.
Aku Tumbuh Menjadi Orang yang Terus Mengejar
Sekarang aku sudah dewasa, bekerja, dan tinggal sendiri.
Tapi pola itu ikut pindah bersamaku.
Setiap kali aku menyelesaikan sesuatu dengan baik, rasa bangganya hanya bertahan sebentar.
Setelah itu, aku langsung merasa harus mengejar pencapaian berikutnya.
Sebaliknya, kalau aku gagal, rasanya bukan sekadar kecewa.
Rasanya seperti seluruh diriku kehilangan nilai, seperti aku memalukan.
Aku juga sering menceritakan kabar baik ke orang tua dengan semangat, tapi diam-diam menyembunyikan kabar buruk dari mereka.
Bukan karena takut dimarahi, tapi karena takut melihat wajah kecewa yang dulu membuat rumah terasa dingin.
Bahkan dalam hubungan dengan teman dan pasangan, aku sering merasa harus selalu berguna dan mengesankan.
Kalau aku sedang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, aku merasa lebih baik menghilang sebentar daripada datang dengan tangan kosong.
Aku tidak pernah sadar bahwa semua itu berasal dari pelajaran yang sama.
Aku Membaca Tentang Kasih Sayang Bersyarat
Suatu hari aku menemukan penelitian psikolog Avi Assor, Guy Roth, dan Edward Deci tentang apa yang mereka sebut parental conditional regard.
Istilah ini menggambarkan pola ketika orang tua memberi perhatian dan kehangatan lebih banyak saat anak memenuhi harapan mereka, dan menarik kehangatan itu saat anak tidak memenuhinya.
Dalam penelitian mereka yang terbit tahun 2004, mereka menemukan bahwa orang yang merasakan pola seperti ini dari orang tuanya cenderung menjalani sesuatu karena merasa terdesak dari dalam, bukan karena benar-benar menginginkannya.
Mereka juga cenderung merasakan kepuasan yang singkat setelah berhasil, dan rasa malu setelah gagal, dengan harga diri yang naik turun mengikuti hasil.
Penelitian itu juga menemukan kaitan dengan rasa kesal atau jauh terhadap orang tua, meski banyak anak tetap sangat menyayangi orang tuanya.
Penjelasan ini berangkat dari teori self-determination, yang menekankan bahwa manusia lebih sehat ketika tindakannya terasa berasal dari pilihannya sendiri, bukan dari rasa takut kehilangan kasih sayang.
Aku membacanya pelan-pelan, karena rasanya seperti seseorang sedang menjelaskan isi kepalaku dengan kata-kata yang lebih rapi.
Orang Tuaku Bukan Orang Jahat
Aku tidak ingin menyalahkan orang tuaku sepenuhnya.
Mereka tumbuh dalam keadaan yang serba sulit, dan bagi mereka, prestasi adalah jalan keluar dari hidup yang keras.
Mungkin dengan menunjukkan kebahagiaan saat aku berhasil, mereka berpikir sedang memberiku semangat.
Mungkin mereka juga tidak sadar bahwa diam mereka saat aku gagal terasa seperti penolakan bagiku.
Aku bisa memahami niat mereka, sekaligus mengakui bahwa dampaknya tetap ada dalam diriku.
Keduanya bisa benar pada saat yang sama.
Aku Mulai Memisahkan Diriku dari Hasilku
Sekarang aku sedang belajar sesuatu yang terasa sangat asing.
Aku belajar bahwa nilaiku sebagai manusia tidak naik turun mengikuti nilai rapor, gaji, atau pujian atasan.
Saat gagal, aku mencoba berkata pada diriku sendiri: “Yang gagal adalah rencananya, bukan aku.”
Saat berhasil, aku mencoba menikmatinya sebentar tanpa langsung mencari target berikutnya.
Aku juga mulai melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan prestasi, seperti berkebun di balkon atau menggambar asal-asalan.
Awalnya aku merasa bersalah karena merasa tidak produktif.
Tapi lama-lama aku menyadari, ada bagian dari diriku yang selama ini tidak pernah mendapat ruang hanya karena ia tidak menghasilkan apa-apa.
Aku Mencoba Bercerita Hal yang Tidak Membanggakan
Beberapa minggu lalu, aku gagal dalam seleksi promosi di kantor.
Biasanya, aku akan diam dan menunggu sampai ada kabar baik untuk diceritakan.
Kali ini, aku memberanikan diri menelepon ibu dan bercerita apa adanya.
Ada jeda yang cukup panjang di seberang telepon, dan jantungku berdebar.
Lalu ibu bertanya, “Kamu sudah makan?”
Pertanyaan sederhana itu membuatku hampir menangis.
Mungkin ia memang tidak pandai menunjukkan sayang saat aku gagal, tapi mungkin juga aku belum pernah memberinya kesempatan untuk mencoba.
Luka Ini Butuh Waktu
Aku tahu pola ini tidak akan hilang dalam semalam.
Masih ada hari-hari ketika aku merasa harus membuktikan sesuatu supaya layak dicintai.
Kalau suatu saat beban ini terasa terlalu berat, aku ingin berani berbicara dengan psikolog, bukan memendamnya sendirian.
Untuk sekarang, aku belajar memberi diriku hal yang dulu kuharapkan dari rumah: penerimaan yang tidak menunggu piala.
Penutup
Aku dulu mengira aku harus terus berhasil supaya pantas disayang.
Ternyata aku sedang mencari kehangatan yang dulu hanya muncul di hari-hari aku menang.
Aku layak disayang, bahkan di hari ketika aku tidak membawa pulang apa-apa.
Dan aku sedang belajar menjadi rumah yang hangat untuk diriku sendiri, tanpa syarat.

