← Semua artikel

Aku Sudah Dewasa, Tapi Aku Masih Tidak Tahu Apa yang Sebenarnya Aku Suka

28 Oktober 2026·Toro
Aku Sudah Dewasa, Tapi Aku Masih Tidak Tahu Apa yang Sebenarnya Aku Suka

Pertanyaan Sederhana yang Tidak Bisa Kujawab

Beberapa waktu lalu, seorang teman baru bertanya, “Kalau lagi senggang, kamu suka ngapain?”

Pertanyaan itu sangat ringan.

Tapi aku diam cukup lama, lalu menjawab, “Ya, macam-macam sih.”

Padahal sebenarnya aku tidak tahu.

Aku bisa menyebutkan apa yang biasa kulakukan: bekerja, menonton apa pun yang sedang ramai, ikut ke mana pun teman-teman mengajak.

Tapi apa yang benar-benar kusukai, apa yang membuatku merasa hidup, aku tidak punya jawabannya.

Malam itu aku pulang dengan perasaan aneh, seperti baru sadar bahwa aku sudah lama tinggal di dalam diri yang tidak terlalu kukenal.


Aku Selalu Mengikuti Jalan yang Sudah Disiapkan

Kalau kuingat lagi, hampir semua pilihan besar dalam hidupku tidak benar-benar kupilih sendiri.

Jurusan kuliahku dipilihkan karena dianggap punya masa depan yang aman.

Pekerjaanku sekarang kudapat karena kenalan keluarga.

Aku tidak menolak, karena aku memang tidak punya keinginan lain yang cukup kuat untuk diperjuangkan.

Orang tuaku menyayangiku dan ingin hidupku stabil, aku tahu itu.

Dan jujur saja, mengikuti jalan yang sudah disiapkan terasa jauh lebih mudah daripada harus mencari tahu sendiri.

Tapi kemudahan itu ternyata punya harga yang baru terasa sekarang.


Aku Iri pada Orang yang Tahu Mau ke Mana

Aku punya teman yang sejak kuliah sudah yakin ingin jadi ilustrator.

Ia pernah ragu dan mencoba banyak hal, tapi akhirnya memilih jalannya sendiri.

Aku juga punya teman lain yang terus berganti minat, tapi setidaknya ia sedang mencari.

Sementara aku tidak sedang mencari, juga tidak sedang yakin.

Aku hanya berjalan, mengikuti arus, dan berharap suatu hari jawaban itu datang sendiri.

Kadang aku merasa seperti menonton hidupku dari bangku penonton.

Semua orang di sekitarku tampak sedang memainkan perannya masing-masing, sementara aku hanya bertepuk tangan tanpa tahu peran apa yang sebenarnya ingin kumainkan.


Aku Membaca Tentang Status Identitas

Suatu hari aku menemukan teori psikolog James Marcia tentang pembentukan identitas pada masa remaja dan dewasa awal.

Marcia mengembangkan gagasan Erik Erikson dengan melihat dua hal: apakah seseorang pernah benar-benar mengeksplorasi pilihan, dan apakah ia sudah berkomitmen pada nilai, pekerjaan, atau keyakinan tertentu.

Dari dua hal itu, ia menggambarkan empat status identitas.

Identity achievement adalah ketika seseorang sudah bereksplorasi lalu berkomitmen pada pilihannya.

Moratorium adalah ketika seseorang sedang aktif bereksplorasi tapi belum berkomitmen.

Foreclosure adalah ketika seseorang sudah berkomitmen tanpa banyak bereksplorasi, sering kali dengan mengambil nilai atau pilihan dari orang tua atau orang penting di sekitarnya.

Identity diffusion adalah ketika seseorang belum bereksplorasi dan juga belum berkomitmen pada apa pun.

Aku membacanya dan merasa melihat diriku di dua tempat sekaligus.

Dalam soal karier, aku seperti foreclosure, berkomitmen pada jalan yang bukan hasil pencarianku sendiri.

Dalam soal minat dan siapa diriku di luar pekerjaan, aku lebih mirip diffusion, mengambang tanpa arah.

Yang membuatku lega, status ini bukan label permanen, dan menurut pengembangan teori ini, orang bisa berpindah dari satu status ke status lain sepanjang hidupnya.


Aku Mulai Bereksplorasi, Meski Terlambat

Aku memutuskan untuk berhenti menunggu jawaban datang sendiri.

Aku membuat daftar kecil hal-hal yang dulu pernah membuatku penasaran, tapi tidak pernah kucoba karena dianggap tidak berguna.

Ada kelas tembikar, menulis cerita pendek, mendaki gunung, dan belajar memasak masakan daerah.

Aku mencoba satu per satu, tanpa target harus jadi hebat.

Beberapa ternyata membosankan, dan itu tidak apa-apa.

Tapi menulis cerita pendek membuatku lupa waktu, sesuatu yang belum pernah kurasakan saat bekerja.

Aku belum tahu apakah ini akan jadi jalan hidupku, tapi untuk pertama kalinya aku merasa sedang mencari, bukan sekadar mengikuti.


Berbicara dengan Orang Tua Tanpa Menyalahkan

Aku juga mulai jujur pada orang tuaku bahwa aku sedang mencari tahu apa yang sebenarnya aku inginkan.

Aku tidak ingin menuduh mereka mengatur hidupku, karena aku sendiri yang selama ini memilih untuk mengikuti.

Aku hanya bilang, aku ingin mencoba beberapa hal sebelum benar-benar yakin dengan jalanku ke depan.

Ibuku awalnya khawatir, tapi ayahku justru bercerita bahwa dulu ia juga tidak sempat memilih pekerjaannya sendiri.

Percakapan itu membuatku sadar bahwa pola ini mungkin sudah berjalan dari generasi ke generasi.


Tidak Tahu Bukan Akhir Cerita

Aku masih sering merasa tertinggal dibanding teman-teman yang sudah tahu ingin jadi apa.

Tapi aku mulai melihat kebingunganku bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai pintu masuk menuju pencarian yang selama ini tertunda.

Kalau rasa kosong dan bingung ini suatu saat terasa terlalu berat, aku tahu berbicara dengan psikolog bisa membantuku menata pikiran.


Penutup

Aku dulu malu karena tidak tahu apa yang aku suka.

Sekarang aku tahu, aku hanya belum pernah diberi atau memberi diriku ruang untuk mencarinya.

Tidak tahu bukan berarti kosong, kadang itu tanda bahwa aku baru akan mulai mengenal diriku sendiri.

Dan aku memilih untuk mencari pelan-pelan, daripada terus berjalan di jalan yang tidak pernah benar-benar kupilih.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya