← Semua artikel

Kenapa Kamu Sulit Menjawab Saat Ditanya "Sebenarnya Kamu Merasa Apa?"

23 Oktober 2026·Toro
Kenapa Kamu Sulit Menjawab Saat Ditanya "Sebenarnya Kamu Merasa Apa?"

Saat Pertanyaan Sederhana Terasa Sulit Dijawab

Temanmu bertanya, “Kamu sebenarnya merasa apa soal ini?”

Kamu diam. Kamu tahu ada sesuatu di dadamu, tapi kamu tidak tahu namanya.

Atau kamu terbiasa menjawab, “Biasa saja, nggak apa-apa,” padahal sudah lama merasa kosong.

Psikolog Jonice Webb menulis tentang pengalaman seperti ini dalam bukunya Running on Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect, yang terbit pada 2012.

Buku ini memperkenalkan istilah Childhood Emotional Neglect, atau penelantaran emosional di masa kecil, kepada banyak pembaca.


Luka dari Sesuatu yang Tidak Terjadi

Webb mendefinisikan Childhood Emotional Neglect sebagai kegagalan orang tua untuk cukup merespons kebutuhan emosional anak.

Menurut Webb, yang membuat pengalaman ini sulit dikenali adalah sifatnya yang tidak terlihat. Ini bukan tentang sesuatu yang buruk yang dilakukan, melainkan tentang sesuatu yang penting yang tidak dilakukan.

Seorang anak bisa tumbuh dengan kebutuhan fisik yang tercukupi, sekolah yang baik, dan tanpa kekerasan, tapi jarang ditanya bagaimana perasaannya.

Karena tidak ada kejadian buruk yang bisa diingat, banyak orang dewasa tidak sadar bahwa mereka pernah mengalaminya.

Mereka sering berkata, “Masa kecilku baik-baik saja, kok,” dan merasa bingung kenapa hidup terasa hampa.

Webb menggambarkan penelantaran ini seperti foto yang kehilangan sebagian warnanya. Tidak ada yang robek, tapi ada yang hilang, dan kehilangan itu sulit ditunjuk dengan jari.

Bagi pembaca yang mengenali dirinya di sini, buku ini sering terasa seperti akhirnya menemukan nama untuk sesuatu yang lama dirasakan tapi tidak pernah bisa dijelaskan.


Tidak Selalu Karena Orang Tua yang Jahat

Webb menekankan bahwa banyak orang tua yang melakukan penelantaran emosional sebenarnya menyayangi anaknya dan bermaksud baik.

Ia menggambarkan berbagai jenis orang tua yang bisa tanpa sengaja melewatkan kebutuhan emosional anak, misalnya orang tua yang terlalu sibuk bekerja, yang sedang sakit atau berduka, yang sangat fokus pada prestasi, atau yang dulu juga tidak pernah mendapat perhatian emosional dari orang tuanya sendiri.

Banyak orang tua tidak bisa memberikan apa yang tidak pernah mereka terima.

Dengan memahami ini, kita bisa mengakui luka tanpa harus menyalahkan orang tua secara keseluruhan.


Tanda-Tanda yang Sering Muncul Saat Dewasa

Webb menguraikan sejumlah pola yang menurutnya sering ditemukan pada orang dewasa yang mengalami penelantaran emosional di masa kecil.

Salah satunya adalah perasaan kosong, seolah ada yang hilang tanpa tahu apa.

Pola lain adalah sulit bergantung pada orang lain, yang Webb sebut counter-dependence. Seseorang merasa harus bisa menghadapi semuanya sendiri dan enggan meminta bantuan.

Webb juga menyebut kecenderungan untuk mudah berbelas kasih pada orang lain tapi sangat keras pada diri sendiri, rasa bersalah dan malu atas perasaan yang dimiliki, serta keyakinan diam-diam bahwa ada yang salah secara mendasar dengan diri sendiri.

Kesulitan mengenali dan menamai perasaan, seperti saat pertanyaan “kamu merasa apa?” terasa sulit dijawab, juga termasuk pola yang ia bahas.


Kenapa Perasaan Jadi Sulit Dikenali

Menurut Webb, anak belajar memahami perasaannya lewat respons orang dewasa di sekitarnya.

Saat anak sedih dan ada yang berkata, “Kamu kelihatan sedih, ada apa?”, ia pelan-pelan belajar bahwa perasaan itu punya nama dan boleh dibicarakan.

Kalau respons itu jarang ada, anak bisa belajar bahwa perasaannya tidak penting, atau bahkan merepotkan. Ia pun belajar menyimpannya.

Bertahun-tahun kemudian, kebiasaan menyimpan itu bisa berubah menjadi kesulitan untuk merasakan, apalagi mengungkapkan.

Padahal, menurut Webb, perasaan berguna sebagai petunjuk. Perasaan memberi tahu kita apa yang kita butuhkan, apa yang penting, dan kapan sesuatu perlu diubah.

Tanpa akses ke perasaan, seseorang bisa menjalani hidup yang terlihat rapi dari luar, tapi terasa seperti berjalan tanpa kompas.


Belajar Memberi Diri Apa yang Dulu Tidak Didapat

Kabar baiknya, Webb meyakini bahwa kemampuan emosional bisa dipelajari di usia berapa pun.

Ia menyarankan pembaca untuk mulai memperhatikan perasaannya secara rutin, misalnya dengan berhenti sejenak beberapa kali sehari dan bertanya, “Apa yang sedang kurasakan sekarang?”

Ia juga mendorong pembaca untuk belajar merawat diri, termasuk memperhatikan kebutuhan dasar seperti istirahat dan hal-hal yang menyenangkan.

Webb menekankan pentingnya belas kasih pada diri sendiri, yaitu mulai berbicara pada diri sendiri dengan kelembutan yang selama ini lebih mudah diberikan pada orang lain.


Langkah Kecil untuk Memulai

Coba pasang pengingat di ponselmu tiga kali sehari. Saat berbunyi, tanyakan pada dirimu apa yang sedang kamu rasakan.

Kalau sulit menemukan kata yang tepat, mulai dari yang sederhana: senang, sedih, marah, takut, atau lelah.

Tidak perlu langsung tahu kenapa kamu merasakannya. Mengakui bahwa perasaan itu ada saja sudah merupakan langkah besar.

Kalau proses ini membuka ingatan yang terasa berat atau membingungkan, berbicara dengan psikolog atau tenaga profesional bisa membantu kamu menjalaninya dengan lebih aman.


Referensi

Judul buku: Running on Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect

Penulis: Jonice Webb (2012)

Buku ini menjelaskan bagaimana kebutuhan emosional yang tidak cukup direspons di masa kecil dapat membentuk pola perasaan kosong dan sulit mengenali emosi saat dewasa, serta langkah-langkah untuk memulihkannya.

Iklan
Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Artikel lainnya